Bacaan Bangkit Dari Ruku’ dan Doa I’tidal

Bangkit dari ruku’ membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Allah mendengar orang yang memuji-Nya” [1]

Kemudian setelah berdiri lurus, mengucapkan salah satu doa berikut:[2]

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

“Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji” [3]

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

“Wahai Rabb kami, hanya bagi-Mu segala puji”

اللَّهُـمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

“Ya Allah, wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji”

اللَّهُـمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

“Ya Allah, wahai Rabb kami, hanya bagi-Mu segala puji” [4]

Terkadang menambahkan dengan doa:[5]

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah.” [6]

مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ. اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“(Aku memuji-Mu dengan) pujian sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang di antara keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan yang layak dipuji dan diagungkan, Yang paling berhak dikatakan oleh seorang hamba dan kami seluruhnya adalah hambaMu. Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu.” [7]

لِرَبِّـي الْـحَمْدُ، لِرَبِّـي الْـحَمْدُ

“Segala puji hanya bagi Rabb-ku, Segala puji hanya bagi Rabb-ku.”

Rasulullah mengulang bacaan ini berkali-kali [dalam shalat lail] sampai lama I’tidalnya hampir sama dengan [lamanya] dengan berdiri shalat sesudah takbiratul ihram, padahal beliau membaca surat al-Baqarah.[8]


[1] HR. Muslim dan Abu ‘Awanah
[2]
Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qathani dalam koreksi terhadap Syarah Hisnul Muslim: “Yang paling afdhal adalah mengucapkan semua macam tersebut sehingga bervariasi, kadang-kadang menyebutkan yang ini, kadang-kadang menyebutkan yang itu…” ~ Ibnu Majjah
[3]
HR. Bukhari dan Muslim
[4]
HR. Bukhari dan Ahmad
[5]
Masih ada beberapa sifat bacaan dalam I’tidal selain yang kami kemukakan disini, silahkan merujuk sifat shalat nabi tulisan Imam al-Albani. ~ Ibnu Majjah
[6]
HR. Bukhari No. 799
[7]
HR. Muslim No. 477
[8]
HR. HR. Abu Dawud dan Nasa’i dengan sanad Shahih

Sumber:
1. Sifat Shalat Nabi Ed. Revisi oleh Syaikh al-Albani, terbitan Media Hidayah Yogyakarta Th.2000
2. Hisnul Muslim dan Syarahnya

Bacaan Terkait:
1. Pelajaran Lengkap Tentang Sholat
2. Sifat Shalat Nabi صلي الله عليه وسلم Bergambar oleh Syaikh ibn Jibrin
3. Sifat Shalat Nabi صلي الله عليه وسلم oleh Syaikh bin Baz

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.022 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: