Tempat dan Waktu Membaca Shalawat Nabi

TEMPAT-TEMPAT DAN WAKTU YANG DISYARI’ATKAN MENGUCAPKAN SHALAWAT DAN SALAM KEPADA RASULULLAH صلى الله عليه وسلم

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله

1. Di dalam shalat ketika tasyahhud/ tahiyyat awal dan akhir.[1] Berdasarkan hadits Fadhalah bin ‘Ubaid al-Anshari رضي الله عنه, “Nabi صلى الله عليه وسلم menegur seseorang yang tidak bershalawat kepada beliau.” [2]

Imam asy-Syafi’i رحمه الله, berkata: “Tasyahhud awal dan akhir lafazhnya sama, tidak ada perbedaan, yang saya maksud dengan tasyahhud ialah tasyahhud dan shalawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم, karena tidak sempurna bila salah satunya ditinggalkan.” [3]

Basyir bin Sa’ad رضي الله عنه pernah bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم: “Bagaimana shalawat kepada Nabi dalam shalat?” Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم mengajarkannya… [4]

2. Di dalam shalat Jenazah sesudah takbir yang kedua. Disunnahkan membaca shalawat dalam shalat Jenazah sesudah takbir yang kedua berdasarkan riwayat yang masyhur dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif.[5]
3. Di dalam khutbah: seperti khutbah Jum’at, ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha, Istisqa’ dan lain-lain.[6]
4. Setelah menjawab Adzan.[7]
5. Ketika berdo’a. Ada tiga cara:

a. Sebelum berdo’a, memuji Allah عزّوجلّ dan bershalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.
b. Shalawat di awal, pertengahan, dan akhir do’a.
c. Shalawat di awal dan akhir, do’a di pertengahan.

Berdasarkan hadits Fadhalah bin ‘Ubaid رضي الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila seseorang dari kalian berdo’a, mulailah dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bershalawatlah atas Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian berdo’alah menurut apa yang ia kehendaki.” [8]

Berdasarkan hadits lain bahwa: “Setiap do’a itu terhalang hingga ia ucapkan shalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.” x[9]

6. Ketika masuk dan keluar masjid.[10] Disunnahkan mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ketika masuk masjid dan ketika keluar darinya.[11]
7. Setiap duduk di majelis, ketika berkumpul beberapa orang, dan sebelum berpisah.[12]
8. Setiap kali disebut nama Nabi[13] صلى الله عليه وسلم.

رَغِم أنْفُ رجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ علَيَّ

“Hina dan rugi serta kecewalah seorang yang disebut namaku di sisinya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku.” [14]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil adalah orang yang apabila aku disebut, dia tidak membaca shalawat kepadaku.” [15]

9. Pada waktu malam Jum’at dan hari Jum’at.[16]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْـجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْـجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Perbanyaklah oleh kalian shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at, karena barang siapa yang ber-shalawat kepadaku satu kali (shalawat saja), niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” [17]

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ

“Sesungguhnya di antara hari yang paling afdhal (utama) bagi kalian ialah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu akan ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk, oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum’at, karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.” [18]

10. Ketika di Shafa dan Marwah,[19] berdasarkan atsar dari ‘Umar bin al-Khaththab dan anaknya, ‘Abdullah رضي الله عنها.

Dan masih ada beberapa tempat lain yang sebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim رحمه الله dalam kitabnya.[20]

Penjelasan:

Disunnahkan mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi صلى الله عليه وسلم setiap kali menyebut dan disebut nama beliau, berdasarkan dalil pada point 8 diatas.


[1] Lihat Shifatu Shalaatin Nabiyyi صلى الله عليه وسلم – Syaikh al-Albani.
[2]
Shahih, riwayat Abu Dawud no. 1481, at-Tirmidzi no. 3477, Ahmad VI/18, an-Nasa-i 111/44-45 dan lain-lain.
[3]
Al-Umm 1/141 dan lihat Shifatu Shalaatin Nabiyyi صلى الله عليه وسلم – Syaikh al-Albani hal. 170.
[4]
HR. Muslim no. 405 dan lainnya dari Abu Mas’ud al-Anshari رضي الله عنه.x
[5]
Diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i dalam al-Umm I/308-309, Ibnul Jarud dalam al-Muntaqa no. 540, al-Hakim 1/360, al-Baihaqi IV/40 dan lain-lain. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam lrwaa-ul Ghaliil no. 734 dan Ahkamul Janaa-iz hal. 155-156 no. 79 cet. Maktabah al-Ma’arif tahun 1412 H.
[6]
Jalaa-ul Afhaam hal. 521-526.
[7]
Berdasarkan hadits Muslim no. 384 dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنها. Jalaa-ul Afhaam hal. 526-530. Lihat  Shalawat setelah Adzan pada link berikut…..
[8]
HR. Ahmad VI/18, Abu Dawud no. 1481, an-Nasa-i III/ 44, at-Tirmidzi no. 3477, Shahiih Ibni Khuzaimah 709, no. 710, al-Hakim I/230, 268.
[9]
Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2035.
[10]
Jalaa-ul Afhaam hal. 535-536. lihat: Doa Masuk Masjid dan Doa Keluar Masjid
[11] Berdasarkan riwayat Abu Dawud no. 465, Ibnu Majah no. 772 dan ad-Darimi 1/324.
[12]
Berdasarkan beberapa riwayat yang shahih. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah 74-79.
[13]
Jalaa-ul Afhaam hal. 540-558.
[14]
HR. At-Tirmidzi no. 3545, al-Hakim I/549 dari Abu Hurairah رضي الله عنه , shahih. Lihat lrwaa-ul Ghaliil no. 6.
[15]
HR. At-Tirmidzi no. 3546, Ahmad 1/201, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah no. 55-57, Ibnu Hibban (no. 2388-Mawaarid), al-Hakim 1/549. Lihat Shahiih at-Tirmidzi III/177 dan Shahiih al-Adzkaar no. 339/243, shahih.
[16]
Jalaa-ul Afhaam hal. 570-571
[17]
HR. Al-Baihaqi III/249. Dari Anas رضي الله عنه, sanadnya hasan. Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1407.
[18]
HR. Abu Dawud no. 1047, 1531, an-Nasa-i III/91-92, Ibnu Majah no. 1636. Ahmad IV/8, Ad-Darimi I/369, Ibnu Khuzaimah no. 1733, Ibnu Hibban no. 550, al-Hakim I/ 278, shahih. Jalaa-ul Afhaam no. 74 hal. 149-156, Irwaa-ul Ghaliil no. 4.
[19]
Jalaa-ul Afhaam hal 537-538. Pada hakikatnya, bacaan shalawat ini mengiringi do’a, sebagaimana setiap do’a dianjurkan untuk membaca shalawat, begitu pula ketika di Shafa dan Marwah.
[20]
Yaitu Jalaa-ul Afhaam fii Fadhlish Shalaah was Salaam ‘alaa Muhammadin Kharil Anaam hal. 453-558, ta’liq dan takhrij Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman cel. I Daar Ibnil Jauzi tahun 1417 H.

Disalin dari: Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih oleh Ustadz Yazid, hal. 248-253.

Tulisan terkait:
1.  Keutamaan Shalawat dan Salam kepada Nabi
2.  Bacaan Shalawat Nabi صلى الله عليه وسلم Bahagian I
3.  Bacaan Shalawat Nabi صلى الله عليه وسلم Bahagian II
4.  Bacaan Shalawat Nabi صلى الله عليه وسلم yang Paling Ringkas

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.083 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: