Biografi Hindun binti ‘Utbah

HINDUN BINTI ‘UTBAH
Bahagia Dengan Hidayah Islam
Oleh: Ustadzah Gustini Ramadhani

Beliau seorang wanita yang pada masa jahiliyahnya adalah sangat benci terhadap Islam dan berdiri di barisan terdepan dalam memerangi Islam. Ia adalah Hindun binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan, dan juga ibu dari Kholifah Umawiyah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Hindun رضي الله عنها adalah seorang wanita cerdas dan terhormat, yang terlahir sebagai bangsawan Quroisy sehingga menjadikannya seorang wanita yang angkuh dan sangat keras kemauan, bahasanya fasih, ahli dalam bersyair, pandai menunggang kuda, mempunyai jati diri, dan mempunyai ide-ide cemerlang. Hindun adalah wanita yang sangat terkenal baik sebelum keislamannya maupun setelah itu.

SEBELUM KEISLAMANNYA

Kebencian Hindun binti ‘Utbah terhadap Islam mulai bersarang di hatinya dari awal munculnya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersama dakwahnya. Dan setelah terjadinya Perang Badar, kebenciannya bertambah kuat dengan adanya dendam yang membara di hatinya kepada pembunuh ayah, paman dan saudara laki-laki nya di peperangan itu. Sampai-sampai ia bernadzar akan mengunyah-ngunyah jantung orang itu jika ia dapat membunuhnya.[1]

Hindun binti ‘Utbah yang telah dikuasai amarahnya, membuat rencana yang sangat matang untuk melampiaskan dendamnya terhadap pembunuh orang-orang terdekatnya itu. Untuk tugas membunuh ia serahkan kepada seorang budak yang bernama Wahsyi yang ia janjikan kebebasan bila berhasil membunuh musuhnya yang tak lain adalah Hamzah bin Abdil Muththolib, paman Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan saudara sesusuan beliau. Dan bila telah terbunuh maka ia sendiri yang akan mengambil jantungnya, untuk menunaikan nadzarnya yang gila itu.

Maka pada Perang Uhud niatnya itu terwujud dan terlaksana sesuai dengan apa yang ia rencanakan. Pada perang itu Hindun mendampingi suaminya yang memimpin barisan kaum musyrikin untuk menghadapi kaum muslimin.

Di sana Hindun mempunyai peran penting, yang mana ia memimpin para wanita untuk memberikan dukungan kepada suami dan kerabat mereka yang berperang menghadapi kaum muslimin dengan menabuh gendang dan melantunkan sya’ir-sya’ir. Dan bila ada pasukan yang ingin kabur atau mundur maka mereka mendorong mereka kembali ke medan perang.

Ketika Wahsyi berhasil membunuh Hamzah, datanglah Hindun ke dekatnya dan langsung merobek perut Hamzah yang sudah tak bernyawa itu dan mengambil jantungnya lalu ia mengunyahnya kemudian memuntahkannya, sehingga ia dikenal dengan sebutan aakilatul akbaad (pemakan jantung). Tidak cukup dengan itu saja, ia juga mengambil hidung dan telinganya dan menjadikannya sebagai kalung.

HINDUN MASUK ISLAM

Akan tetapi, ketika Fathu (penaklukan) Makkah, Alloh عزّوجلّ tidak hanya membuka gerbang Makkah untuk kaum muslimin, tapi la juga membuka hati dan mata Hindun, bahwa semua yang dibawa dan yang disampaikan Rosululloh صلى الله عليه وسلم adalah benar-benar datang dari Alloh Ta’ala. Sampai-sampai Abu Sufyan yang sudah masuk Islam ketika itu, merasa keheranan ketika Hindun memintanya untuk mengantarkannya kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم untuk masuk Islam.

Abu Sufyan berkata: “Aku lihat kemarin engkau masih membenci perkataan ini”. Dengan jujur Hindun berkata: “Demi Alloh, aku tidak pernah melihat Alloh diibadati sebenar-benarnya di Masjid ini kecuali malam ini. Demi Alloh, mereka tidak melewati malam kecuali dengan sholat, berdiri, rukuk, dan sujud”. Lalu Abu Sufyan berkata: “Sesungguhnya engkau telah melakukan semua yang engkau perbuat dahulu, maka pergilah dengan seorang laki-laki dari kaummu”. Kemudian Hindun meminta Utsman bin Affan untuk mengantarkannya kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم.

Dengan menyamar Hindun pergi menghadap Rosulullofi صلى الله عليه وسلم. la takut beliau صلى الله عليه وسلم mengenalinya dan akan marah dan benci kepadanya atas apa yang ia perbuat terhadap paman beliau, Hamzah di masa lalu. Ketika itu Rosululloh صلى الله عليه وسلم berada di bukit Shofa bersama Umar bin Khoththob رضي الله عنه lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلم memperkenankan Utsman dan Hindun juga beberapa wanita yang datang untuk berbai’at kepada beliau.

HINDUN BERBAI’AT

Rosululloh صلى الله عليه وسلم kemudian berkata: “Aku bai’at kalian supaya kalian tidak akan menyekutukan Alloh dengan suatu apapun.” Hindun lalu mengangkat kepalanya dan berkata: “Engkau telah mengambil dari kami sesuatu yang tidak engkau ambil dari kaum lelaki, maka kami telah memberikannya kepadamu.”

Lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkata: “dan tidak akan mencuri.” la berkata: “Wahai Rosululloh, aku pernah mencuri harta Abu Sufyan, karena ia adalah seorang yang pelit, apa yang ia.berikan kepa-daku tidak cukup bagiku dan anak-anakku, apakah harta itu halal bagiku?” Abu Sufyan berkata: “Ya, apa yang engkau ambil dahulu dan setelannya halal bagimu.” Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkata: “Jadi, engkau ini adalah Hindun binti ‘Utbah?” la berkata: “Benar, wahai Rosululloh, maafkanlah aku atas apa yang aku perbuat di masa lalu.” Beliau menjawab: “Semoga Alloh memaafkanmu”. Beliau melanjutkan: “Dan tidak akan berzina.” la berkata: “Apakah wanita yang merdeka akan mau berzina?” Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم berkata lagi: “Dan kalian tidak akan membunuh anak-anak kalian.” Hindun berkata: “Kami telah mendidik mereka di masa kecil dan kalian membunuh mereka di Badar ketika dewasa.” Mendengar perkataan itu Rosululloh صلى الله عليه وسلم dan Umar رضي الله عنه pun tertawa, kemudian Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkata: “Alloh-lah yang membunuh mereka, wahai Hindun.”

Kemudian beliau membaca surat al-Anfal ayat 17 dan berkata: “Dan tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan dengan tangan dan kaki kalian (dusta di sini maksudnya adalah mengada-adakan pengakuan palsu me-ngenai hubungan antara laki-laki dan perempuan, seperti tuduhan berzina, tuduhan bahwa anak si Fulan bukan anak suaminya dan sebagainya).” Hindun berkata: “Sesungguhnya dusta itu adalah perbuatan yang sangat jelek. Engkau tidak menyuruh kami kecuali kepada petunjuk dan akhlak yang mulia.” Beliau صلى الله عليه وسلم berkata: “Dan kalian tidak akan mendurhakaiku dalam urusan yang baik.” la berkata: “Tidaklah kami duduk di majelis ini, dan kami ingin mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya.” Kemudian Rosululloh صلى الله عليه وسلم membai’at mereka dan memintakan ampunan bagi mereka.

Setelah berbai’at, Hindun berkata kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم: “Wahai Ro-sululloh, sebelumnya tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu, namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.” Lalu Rosululloh صلى الله عليه وسلم berkata: “Dan juga Demi jiwa Muhammad di tangan-Nya”.

SETELAH MENJADI MUSLIMAH

Suatu kali ketika telah masuk Islam, setelah Alloh membukakan hatinya untuk iman yang mana sebelumnya tertutup oleh kekafiran dan dibekukan oleh kemusyrikan, Hindun pernah mengirimkan hadiah kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang diantarkan oleh budak perempuannya. Ketika itu Rosululloh صلى الله عليه وسلم sedang berada di kemah bersama istri-istri beliau dan beberapa orang wanita dari Bani Abdil Muththolib. Budak itu berkata:. “Sesungguhnya nyonyaku mengirimkan hadiah ini untukmu dan ia meminta maaf kepadamu.” Kemudian budak itu menyambung: “Sesungguhnya kambing kami akhir-akhir ini jarang beranak, hadiah ini adalah domba betina yang dipanggang”.

Rosululloh صلى الله عليه وسلم lalu berkata: “Semoga Alloh memberkati kambing kalian dan memperbanyak kelahirannya”. Kemudian pulanglah budak itu meng-hadap nyonyanya dan menceritakan do’a Rosululloh صلى الله عليه وسلم tadi. Maka senanglah Hindun dengan do’a Rosululloh صلى الله عليه وسلم itu. Budak tersebut menceritakan: “Kami melihat sendiri bagaimana banyaknya anak kambingnya dan seringnya melahirkan, yang tidak pernah kami lihat sebelumnya”. Hindun berkata: “Ini adalah berkat do’a Rosululloh صلى الله عليه وسلم”.

Hindun berusaha menghapus masa lalunya dengan ikut serta berjihad di Perang Yarmuk, dan di sana ia mendapatkan cobaan yang baik. la pernah berkata mengingat masa lalunya: “Aku pernah bermimpi berdiri di bawah matahari dan di dekatku ada tempat berteduh namun aku tidak bisa berlindung di bawahnya. Ketika aku telah masuk Islam, aku bermimpi seolah-olah aku telah masuk dalam lindungannya. Segala puji bagi Alloh yang telah menunjuki kita kepada Islam”.

Dengan kata-kata inilah Hindun binti ‘Utbah menghibur dirinya sampai akhir hayatnya di masa kekhilafahan Umar bin Khoththob رضي الله عنه pada tahun 14 H. Semoga Alloh meridhoi-nya dan menempatkannya di surga Firdaus yang tinggi. Amin. ❖

Referensi:

  1. Mukhtashor Tarikh Dimasq, Ibnu Mandzur
  2. A’lamun Nisaa fi ‘aalamay al-Arob wal Islam, Umar Ridho Kahaalah
  3. Shuwarun   min   Siyar   ash-Shohabiyat, Abdulhamin Suhaibany
  4. Shuwarun min hayati shohabiyatir Rosul صلى الله عليه وسلم, Kholid al-’Akk

[1] Itulah jeleknya dendam kesumat, ia dapat merusak dan mematikan perasaan manusia, membuat orang yang menyimpannya di dalam hati seperti orang gila, kehilangan akal sehat serta hati nurani, na’udzubillahmindzalik.

Disalin dari Majalah al-Mawaddah Ed.12 Th. Ke-2, Rojab 1430 H_2009, Rubrik Qudwah, hal.45-46.

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.093 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: