Syarah Doa Agar Bisa Melunasi Hutang (2)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan keluh-kesah dan rasa sedih, dan kelemahan dan kemalasan, dan sifat bakhil dan penakut, dari belitan hutang dan para penindas yang menagih(ku).”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan di bagian awal hadits ini ucapan Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu,

فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كُلَّمَا نَزَلَ، فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ أَنْ يَقُوْلَ …..

“Maka aku banyak berbakti kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setiap kali beliau turun. Sehingga aku banyak mendengar beliau mengucapkan …”

Ungkapan الْهَمِّ وَالْحُزْنِ ‘keluh-kesah dan rasa sedih‘. Ath-Thibi Rahimahullah berkata, “Hamm adalah dalam pe-nantian dan kesedihan (hazan) pada apa-apa yang telah lalu.

Ungkapan ضَلَعِ الدَّيْنِ ‘belitan hutang‘. Asal kata ضَلَعِ ‘kebengkokan‘. Dikatakan, ضَلَعَ – يَضْلَعُ yang artinya مَالَ ‘miring‘ atau ‘condong‘.” Sedangkan yang dimaksud di sini adalah keras dan beratnya beban hutang. Sebagaimana banyak ditemukan bahwa orang yang tertimpa hutang tidak memenuhi janjinya. Apalagi dibarengi dengan penagihan.

Sebagian kalangan salaf berkata, “Tidaklah kesedihan karena hutang masuk ke dalam hati, melainkan akan meng-hilangkan akal dan tidak akan kembali lagi kepadanya.”

Ungkapan غَلَبَةِ الرِّجَالِ ‘para penindas yang menagih-nya‘, dengan kata lain, paksaan dan kerasnya kekuasaan orang atas dirinya. Yang dimaksud dengan orang di sini adalah orang-orang zalim atau pemberi hutang. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung dari orang lain yang akan menguasainya, karena pada yang demikian ter-dapat kelemahan dalam jiwa.

Al-Karmani Rahimahullah mengatakan, “Do’a ini adalah bagian dari Jawami’ al-kalim (ungkapan singkat namun padat makna) karena macam-macam kehinaan itu ada tiga macam faktor: psikis, fisik, dan eksternal. Adapun yang pertama sesuai dengan kekuatan yang dimiliki seseorang, yang terbagi menjadi tiga macam: akal, emosional, dan syahwat. Sedangkan duka dan kesedihan berkaitan dengan akal; pengecut berkaitan dengan emosi; kikir berkaitan dengan syahwat; kelemahan dan kemalasan berkaitan dengan badan; kekerasan dan pemerasan berkaitan dengan berbagai faktor eksternal; dan do’a berkaitan dengan semua itu.”

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 359-360


[1] Al-Bukhari, (7/158), no. 6363.

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.082 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: