Arsip Kategori: Doa Puasa

Tentang Qunut

Tentang Mengangkat Tangan

Disunnahkan mengangkat tangan baik dalam qunut Nazilah maupun dalam qunut Witir berdasarkan dalil hadits-hadits yang shahih.

Adapun mengusap wajah sesudah qunut atau do’a, tidak ada satu pun riwayat yang shahih. Maka, perbuatan ini adalah bid’ah. [1]

Imam al-Baihaqi -Asy-Sayfi’i- juga menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun dari ulama Salaf yang melakukan pengusapan wajah sesudah do’a qunut dalam shalat.[2]

Tentang Ucapan Amin

Disunnahkan mengucapkan amin berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas bahwa para Sahabat mengucapkan amin dalam do’a qunut.

Do’a qunut hendaklah pendek, singkat, dan tidak panjang, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan para Sahabatnya  رضي الله عنهم.

Adapun do’a qunut [khusus] Shubuh, hadits-nya lemah dan tidak boleh dipakai.[3] Dalam sanadnya ada rawi yang lemah, yaitu Abu Ja’far ar-Razi, namanya adalah ‘Isa bin Mahan dan ia sayyi-ul hifzhi (jelek hafalannya).[4]

Bahkan, qunut Shubuh ini adalah muhdats (bid’ah) sebagaimana pernah ditanyakan oleh Abu Malik al-Asyja’i kepada ayahnya, Thariq bin Asy-yam al-Asyja’i “Apakah Rasulullah صلي الله عليه وسلم, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali رضي الله عنهم, pernah qunut Shubuh?” Beliau menjawab: “Wahai anakku (qunut Shubuh) itu muhdats (bid’ah).”[5]


[1] Lihat Irwaa-ul Gbaliil II/181, Shahih Kitaab al-Adzkaar wa Dha’iifuhu hal. 960-962.
[2]
Sunan al-Baihaqi II/212
[3]
Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi 11/201, dan Ahmad III/162
[4]
Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah no. 1238
[5]
HR. Ahmad III/472, VI/394, at-Tirmidzi no. 402, an-Nasa-i II/204, Ibnu Majah no. 1241, al-Baihaqi II/213 dan lainnya. At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Lihat juga Zaadul Ma’aad 1/271 dan Irwaa-ul Ghaliil II/ 182, Fataawa al-Lajnah ad-Daa-imah VII/45-46 no. 2222

Sumber:
Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Dzikir Setelah Salam dari Witir

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ

“Mahasuci (Engkau ya Allah), Raja yang Mahasuci.”

Dibaca tiga kali dengan mengeraskan pada kali ketiganya dan memanjangkan suaranya dengan mengucapkan:

رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

“Tuhannya para Malaikat dan Malaikat Jibril.”[1]


[1]HR. An-Nasai 3/244, Ad-Daruquthni dan selain keduanya. Tambahan menurut riwayat Ad-Daruquthni 2/31. Sanadnya shahih, lihat Zadul Ma’ad yang ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arnauth dan Abdul Qadir Al-Arnauth 1/337.

Sumber:
Syarh Hisnul Muslim

Doa Qunut Witir

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، [وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ]، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“Ya Allah! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qadha, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepadaMu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau.”[1]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Read the rest of this entry

Doa Orang Berpuasa Sunnah Jika Diajak Makan

Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Apabila seseorang di antara kamu diundang (makan) hendaklah dipenuhi. Apabila puasa, hendaklah mendoakan (kepada orang yang mengundang). Apabila tidak puasa, hendaklah makan.” (HR. Muslim)

Penjelasan:
Syaikh Sa’id bin ‘Ali al-Qahthani dalam Syarah Hisnul Muslim berkata: “…bahwa jika puasanya tidak menyulitkan orang yang mengundangnya dan tetap memberinya izin, maka puasanya lebih utama dan ditambah doa. Sedangkan jika puasanya menyulitkan saudaranya yang mengundang, maka berbuka baginya lebih utama, karena orang yang melakukan ibadah sunnah adalah untuk dirinya sendiri, dan karena dengan berbuka akan membuat rasa gembira pada diri saudaranya…”


Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Syarah Hisnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad

Ucapan Bila Dicaci Maki Ketika Puasa

Yakni apa yang diucapkan seseorang yang berpuasa bila ia caci / di maki atau di ajak berkelahi oleh orang lain:

إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

“Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa” (HR. Bukhari, Muslim dan selain keduanya)


Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani

Bacaan lebih lanjut:
Hukum-hukum Puasa

Doa Berbuka Puasa

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.” (HR. Abu Dawud dan selainnya, lihat Shahih al-Jami’ 4/209)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, supaya memberi ampunan atasku.” (Riwayat Ibnu Majjah secara Mauquf dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash رضي الله عنهما, dihasankan Ibnu Hajar)

Peringatan:
Adapun doa yang populer “Allahumma laka sumtu…dst” adalah hadits dhoif


Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Syarah Hisnul Muslim

Bacaan lebih lanjut:
Hukum-hukum Puasa

Doa Melihat Hilal (Bulan Sabit)

اللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ

“Allah Maha Besar. Ya Allah! Tampakkan bulan sabit (hilal) itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi dan ad-Darimi, lihat Shahih Tirmidzi 3/175)

Peringatan:
Dalam mengucapkan doa ini tidak boleh menghadap ke bulan sabit, sebaiknya menghadap Kiblat..


Sumber:
Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
Syarah Hisnul Muslim

Doa Apabila Berbuka di Rumah Orang

وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَأَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ

“Telah makan makanan kalian orang-orang bajik, dan para malaikat bershalawat (mendo’akan kebaikan) atas kalian, orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian” (HR. Ahmad, Abi Syaibah dan lainnya)

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di sisimu dan orang-orang yang baik makan makananmu, serta malaikat mendoakanmu, agar kamu mendapat rahmat” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan lainnya, dishahihkan oleh al-Albani)

Sumber dan bacaan lebih lanjut:

  1. eBook Hukum-hukum Puasa oleh Syaikh Salim Ied al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan
  2. Hisnul Muslim Karya Syaikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthan
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.