Syarah Dzikir Setelah Salam (8)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً (بَعْدَ السَّلاَمِ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ)

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (Diucapkan setelah salam khusus shalat shubuh).[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Ummu Salamah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan عِلْمًا نَافِعًا ‘ilmu yang bermanfaat‘, dengan kata lain, aku ambil manfaatnya dan untuk memberikan manfaat kepada orang lain selain diriku.

Ungkapan وَرِزْقًا طَيِّبًا ‘rezeki yang baik‘, dengan kata lain, halal.

Ungkapan وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً ‘dan amal yang diterima‘ di sisi-Mu sehingga Engkau memberiku pahala dan balasan atas semua itu sebagai pahala yang baik.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 235-236.


[1]     Ibnu Majah, no. 925; dan selainnya.  Lihat Shahih Ibnu Majah, (1/152) dan Majma’ Az-Zawaid (10/111) dan akan datang, no. 95.

 

Syarah Dzikir Setelah Salam (7)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ (عَشْرَ مَرَّاتٍ بَعْدَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ وَالصُّبْحِ)

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca sepuluh kali setelah shalat maghrib dan shubuh).[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Dzarr Al-Ghifari, Jundab bin Junadah, dan lain-lain Radhiyallahu Anhum.

Juga disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَالَ فِي دُبُرِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ … عَشْرَ مَرَّاتٍ كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكَانَ يَوْمَهُ ذَلِكَ كُلَّهُ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ وَحُرِسَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أَنْ يُدْرِكَهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ إِلَّا الشِّرْكَ بِاللَّهِ

“Barangsiapa mengucapkan setiap usai shalat shubuh (ketika beliau masih melipat kedua kakinya dan sebelum berbicara yang lain-lain …) sebanyak sepuluh kali, maka dicatatkan baginya sepuluh kebaikan, dihapuskan sepuluh kesalahan, ditinggikan sepuluh derajat, pada harinya itu dia berada dalam penjagaan dari segala macam hal yang tidak disukai, dipelihara dari syetan dan tidak selayaknya pada hari itu dosa yang dia lakukan yang menyim-pangkannya selain menyekutukan Allah Ta’ala.”

Ungkapan حِرْزٍ artinya tempat untuk menyimpan dan menjaga sesuatu di dalamnya. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah bahwa orang dimaksud dalam pemeliharaan dan penjagaan.

Ungkapan, بَعْدَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ ‘setelah shalat maghrib‘ disebutkan dalam jalur-jalur periwayatan hadits yang lain.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 234-235.


[1]     At-Tirmidzi, (5/515), no. 3474; dan Ahmad, (4/227). Lihat takhijnya dalam kitab Zaad Al-Ma’ad (1/300).

Syarah Dzikir Setelah Salam (6)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ. عَقِبَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya a pa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255). Dibaca setiap usai shalat.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Umamah Al-Bahili, Shudayyu bin Ijlan Radhiyallahu Anhu.

Haditsnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ، لَـمْ يَمْنَعْهُ مَنْ دُخُوْلِ الْـجَنَّةِ إِلَّا الْـمَوْتُ

“Barangsiapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Setelah Salam (5)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِن شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ . إِلَهِ النَّاسِ . مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tiada seorang pun yang setara dengan Dia.’ Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang menguasai shubuh. Dari kejahatan makhlukNya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap-gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dan kejahatan pendengki bila dia dengki.’ Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan nienguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.’ Setelah setiap shalat.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu.

Haditsnya dengan lafazh,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepadaku agar aku membaca Al-Muawwidzat usai setiap shalat.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Setelah Salam (4)

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ (ثَلاَثً وَثَلاَثِيْنَ) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar (dibaca tiga puluh tiga kali). Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan di dalamnya,

فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Semua itu berjumlah sembilan puluh sembilan dan genap keseratus kalinya adalah لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ ‘tiada Tuhan selain Allah …’.”

Telah muncul dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkenaan dengan keutamaan dzikir ini dan cara-caranya sebagai berikut. “Bahwa orang-orang fakir dari kalangan para Muhajirin datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu mereka berkata,

ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنْ الْأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَا وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا وَيَعْتَمِرُونَ وَيُجَاهِدُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ؟ فَقَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

‘”Para orang kaya bisa menuju derajat mulia dan kesenangan yang abadi. Mereka bisa menunaikan shalat sebagaimana kami menunaikannya, mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa menunaikan ibadah haji dan ibadah umrah dengan hartanya itu. Juga mereka bisa berjihad dan bersedekah. Maka, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Maukah kuajarkan kepada kalian sesuatu dengannya kalian bisa mengejar orang-orang yang mendahului kalian, dan orang-orang di belakang kalian akan mendahului dengannya sehingga tiada seorang pun lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan apa-apa yang kalian lakukanT Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Bertasbihlah, bertahmidlah dan bertakbirlah setiap usai shalat tiga puluh tiga kali.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Setelah Salam (3)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah. Kami tidak menyembah, kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujian yang baik. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya sekalipun orang-orang kafir membencinya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ ‘kami tidak menyembah, kecuali kepada-Nya‘, dengan kata lain, ibadah kami hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak melampaui-Nya.

Ungkapan لَهُ النِّعْمَةُ ‘bagi-Nya nikmat‘, dengan kata lain, kenikmatan yang lahir dan batin. Kata nikmat dengan nuun berkasrah adalah segala sesuatu yang diberikan berupa rezeki, harta, dan lain sebagainya. Sedangkan dengan nuun berfathah, maka artinya kesenangan, kebahagiaan, serta kehidupan yang baik.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Setelah Salam (2)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tiada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ ‘dan tiada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah‘, dengan kata lain, tak seorang pun yang mampu memberikan apa-apa yang Engkau cegah.

Ungkapan وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ‘tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu‘, dengan kata lain, tidak akan kekayaan akan mencegah orang yang memiliki kekayaan itu dari adzab-Mu.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 217-218.


[1]     Al-Bukhari. (1/225), no. 844; dan Muslim. (1/414), no. 593.

Syarah Dzikir Setelah Salam (1)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Aku mohon ampun kepada Allah (dibaca tiga kali), Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Mahasuci Engkau wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Mahamulia.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Tsauban Al-Hasyimi Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) ‘aku mohon ampun kepada Allah (dibaca tiga kali), dengan kata lain, tiga kali pengucapan. Dikatakan kepada Al-Auza’i -dia adalah salah seorang perawi hadits ini, “Bagaimana istighfar itu?” Dia menjawab, “Dengan mengatakan: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ ‘aku mohon ampun kepada Allah, aku mohon ampun kepada Allah‘.

Ungkapan أَنْتَ السَّلاَمُ ‘Engkau pemberi keselamatan‘, dengan kata lain, Yang selamat dari berbagai macam aib, kecelakaan, perubahan, dan berbagai macam bencana. السَّلاَمُ adalah nama di antara nama-nama Allah Ta’ala. Maka, Allah adalah As-Salam. Dia menyifati Dzat-Mya sendiri dengan sifat itu bahwa Dia selamat dari berbagai macam kekurangan atau Dia suka memberi keselamatan.

Baca pos ini lebih lanjut

Sholat Istikhoroh

Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ (رواه البخاري)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kami istikhoroh dalam segala macam urusan sebagaimana beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan surat dari Al Quran. Beliau berkata: “Jika salah satu dari kalian menghendaki suatu urusan, maka hendaknya dia ruku’ dua kali (mendirikan sholat 2 raka’at) selain yang diwajibkan (maksudnya sholat sunnah) kemudian katakan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

Baca pos ini lebih lanjut

Bacaan Sholawat Nabi

1. Dari Abu Mas’ud al-Badri رضي الله عنه, ia berkata, “Seorang laki-laki datang dan duduk di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم, sedangkan kami bersama beliau. Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, adapun mengucapkan salam kepadamu telah kami ketahui, lantas bagaimana kami bershalawat kepadamu ketika kami hendak bershalawat dalam shalat kami?’ Beliau صلى الله عليه وسلم, ‘Ucapkanlah oleh kalian,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

‘Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa aali Ibrahim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa aali Ibrahim, fil ‘aalamiina, innaka hamiidun majiid.’

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim atas sekalian alam. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung.’

Adapun ucapan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui.’” (HR. Muslim)

2.  Dari Ka’b bin ‘Ujrah رضي الله عنه ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم keluar menemui kami, lalu kami bertanya, ‘Engkau telah memberitahukan kepada kami bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami bershalawat kepadamu?’ Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah oleh kalian,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

‘Allaahumma shalli’ ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa aali Ibraahiim, innaka hamiidun majiid. Allaahumma baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa aali Ibraahim innaka hamiidun majiid.

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.053 pengikut lainnya.