Syarah Dzikir Setelah Salam (1)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Aku mohon ampun kepada Allah (dibaca tiga kali), Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Mahasuci Engkau wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Mahamulia.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Tsauban Al-Hasyimi Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) ‘aku mohon ampun kepada Allah (dibaca tiga kali), dengan kata lain, tiga kali pengucapan. Dikatakan kepada Al-Auza’i -dia adalah salah seorang perawi hadits ini, “Bagaimana istighfar itu?” Dia menjawab, “Dengan mengatakan: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ ‘aku mohon ampun kepada Allah, aku mohon ampun kepada Allah‘.

Ungkapan أَنْتَ السَّلاَمُ ‘Engkau pemberi keselamatan‘, dengan kata lain, Yang selamat dari berbagai macam aib, kecelakaan, perubahan, dan berbagai macam bencana. السَّلاَمُ adalah nama di antara nama-nama Allah Ta’ala. Maka, Allah adalah As-Salam. Dia menyifati Dzat-Mya sendiri dengan sifat itu bahwa Dia selamat dari berbagai macam kekurangan atau Dia suka memberi keselamatan.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Sholat Istikhoroh

Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ (رواه البخاري)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kami istikhoroh dalam segala macam urusan sebagaimana beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan surat dari Al Quran. Beliau berkata: “Jika salah satu dari kalian menghendaki suatu urusan, maka hendaknya dia ruku’ dua kali (mendirikan sholat 2 raka’at) selain yang diwajibkan (maksudnya sholat sunnah) kemudian katakan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

Baca tulisan ini lebih lanjut

Bacaan Sholawat Nabi

1. Dari Abu Mas’ud al-Badri رضي الله عنه, ia berkata, “Seorang laki-laki datang dan duduk di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم, sedangkan kami bersama beliau. Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, adapun mengucapkan salam kepadamu telah kami ketahui, lantas bagaimana kami bershalawat kepadamu ketika kami hendak bershalawat dalam shalat kami?’ Beliau صلى الله عليه وسلم, ‘Ucapkanlah oleh kalian,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

‘Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa aali Ibrahim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa aali Ibrahim, fil ‘aalamiina, innaka hamiidun majiid.’

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim atas sekalian alam. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahaagung.’

Adapun ucapan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui.’” (HR. Muslim)

2.  Dari Ka’b bin ‘Ujrah رضي الله عنه ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم keluar menemui kami, lalu kami bertanya, ‘Engkau telah memberitahukan kepada kami bagaimana mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana kami bershalawat kepadamu?’ Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah oleh kalian,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

‘Allaahumma shalli’ ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa aali Ibraahiim, innaka hamiidun majiid. Allaahumma baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarakta ‘alaa aali Ibraahim innaka hamiidun majiid.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (11)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan (yang berhak untuk disembah), kecuali Engkau Yang Esa, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tiada satu pun yang setara dengan-Nya”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ ‘Yang Maha Esa Mahatunggal’. Tiada perbedaan antara satu dan esa, dengan kata lain, satu oknum yang tiada tandingannya. Lafazh ini tidak disebutkan untuk seseorang dalam penetapan melainkan hanya kepada Allah Ta’ala, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Sempurna dalam semua sifat dan perbuatan-hya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (10)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, bahwasanya bagi-Mu segala pujian, tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Wahai Pencipta langit dan bumi, Wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan Yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْمَنَّانُ ‘Yang Maha Pemberi’, dengan kata lain, yang banyak memberi. Berasal dari kata minnah yang artinya nikmat. Minnah itu tercela jika datang dari manusia, karena mereka tidak memiliki sesuatu apa pun. Penulis Ash-Shihah berkata, “Memberi di sini, dengan kata lain, memberi nikmat. Dan Al-Mannan adalah satu dari nama-nama Allah Ta’ala.”

Ungkapan يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ‘wahai Pencipta langit dan bumi’ dengan kata lain, Pencipta dan inspiratornya dengan tanpa contoh yang telah ada terlebih dahulu.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (9)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu. Ya Allah, dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan Yang Maha Esa, Mahatunggal yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia, aku mohon kepada-Mu agar mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Mihjan bin Al-Arda’ Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan بِأَنَّكَ ‘bahwa Engkau’. Huruf ‘ba’ adalah untuk menunjukkan sababiyah. Sehingga dengan kata lain, dengan sebab bahwa Engkau adalah Esa.

Ungkapan الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ ‘Yang Maha Esa Mahatunggal’. Tiada perbedaan antara satu dan esa, dengan kata lain, satu oknum yang tiada tandingannya. Lafazh ini tidak disebutkan untuk seseorang dalam penetapan melainkan hanya kepada Allah Ta’ala, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Sempurna dalam semua sifat dan perbuatan-nya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (8)

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِيْ مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِيْ، وَتَوَفَّنِيْ إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَأَسْأَلُكَ نَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ يَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

“Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang gaib dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa hematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam keadaan gaib dan nampak. Aku mohon kepada-Mu, agar dapat berpegang dengan kalimat hak di waktu ridha atau marah. Aku minta kepada-Mu, agar aku bisa melaksanakan keseder-hanaan dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepada-Mu agar diberi nikmat yang tidak akan habis dan aku minta kepada-Mu agar diberi penyejuk mata yang tak terputus. Aku mohon kepada-Mu, agar aku dapat ridha setelah qadha-Mu. Aku mohon kepada-Mu, kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan yang memperoleh bimbingan dari-Mu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِيْ ‘bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku’, dengan kata lain, jika kehidupan lebih baik bagiku menurut pengetahuan-Mu tentang sesuatu yang gaib. Demikian juga bentuk asli dalam ungkapan وَتَفَوَفَنِي إذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرَالِي ‘dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku’. Dengan kata lain, jika kematian lebih baik bagiku menurut pengetahuan-Mu.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (7)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka!”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Dengan kata lain, ya Allah, sesungguhnya aku memohon keberuntungan kepada-Mu berupa surga dan hendak-nya Engkau menyelamatkanku dari adzab neraka.

Do’a ini mencakup permohonan taufik dan hidayah untuk menuju kepada amal-amal shalih yang dengannya seseorang mengharapkan ridha Allah ta’ala yang merupakan sebab keberuntungan dengan mendapatkan surga. Dan juga permohonan dijauhkan dari berbagai amal kebu-rukan yang merupakan sebab adzab api neraka.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 206-207.


[1]     Abu Dawud, no. 792; dan Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah (2/328).

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (6)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) penakut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْبُخْلِ ‘(sifat) bakhil’, dengan kata lain, tidak mau menginfakkan harta setelah mendapatkannya. Dia sangat mencintai dan menahannya.

Ungkapan الْجُبْن ‘(sifat) penakut’, dengan kata lain, takut bergerak maju karena sesuatu yang tidak perlu dia takut kepadanya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (5)

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, syukur kepada-Mu, dan ibadah yang baik untuk-Mu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ذِكْرِكَ ‘menyebut nama-Mu’, mencakup segala macam pujian hingga membaca Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan ilmu agama.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.022 pengikut lainnya.