Syarah Dzikir Setelah Muadzin Bersyahadat

وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا

“Aku bersaksi, bahwa tiada Ilah Yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama.”[1]

Dibaca setelah muadzin membaca syahadat.[2]

Shahabat yang meriwayatkan hadits tersebut adalah Sa’ad bin Abu Waqqash Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا ‘aku ridha Allah sebagai Rabb’, dengan kata lain, sebagai Raja, sebagai Pemilik, sebagai Dzat Yang menyikapi, dan sebagai Pengelola …. (dan sebagai Ilah Yang sebenar-benarnya).[3]

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Menjawab Bacaan Adzan

يَقُوْلُ مِثْلَ مَ يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ إِلاَّ فِي ” حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ وَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ” فَيَقُوْلُ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله

“Seseorang yang mendengarkan adzan, hendaklah menjawab sebagaimana yang diucapkan muadzin, kecuali pada ucapan ‘hayya ‘alash shalaat dan hayya ‘alal falaah’, maka ia menjawab ‘laa haula wala quwwata illa billah’.”[1]

Hadits  muttafaq alaih yang  dipaparkan  penyusun adalah sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Jika kalian mendengar seruan adzan, maka jawablah sebagaimana yang diucapkan muadzin.”

Ini dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu.

Sedangkan   hadits   yang   di   dalamnya   disebutkan haialah (ucapan حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ وَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ ‘mari menunai kan shalat dan mari menuju keberuntungan’) secara rinci dari riwayat Muslim, yaitu sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله ثُمَّ قَالَ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ قَالَ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا الله قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا الله مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Masuk Rumah

بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى اللهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ

“Dengan nama Allah kami masuk, dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Tuhan kami, kami bertawakal.’ Kemudian mengucapkan salam kepada keluarganya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Malik Al-Asy’ari. Ada perdebatan dalam namanya. Dikatakan, “Ubaid.” Ada pula yang mengatakan, “Abdullah.” Dikatakan pula, “Amr.” Dikatakan pula, “Ka’ab bin Ka’ab.” Dikatakan pula, “Amir bin Al-Harits Radhiyallahu Anhum.”

Ungkapan بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا ‘dengan nama Allah kami masuk‘.

Ungkapan بِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا ‘dengan nama Allah kami keluar‘, dengan kata lain, keberangkatan kita juga dengan dzikir kepada Allah Ta’ala.

Ungkapan وَعَلَى اللهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا ‘dan kepada Allah Rabb kami, kami bertawakal‘, dengan kata lain, kami bersandar ketika kami masuk atau berangkat dan dalam setiap kondisi kami dengan bersandar kepada Allah, Rabb kami Azza wa Jalla.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Pergi Ke Masjid

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَمِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا، وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا، وَعَنْ شَمَالِيْ نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِيْ نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ عَصَبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا. (اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ … ونُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ) (وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا) (وَهَبْ لِيْ نُوْرًا عَلَى نُوْرٍ)

“Ya Allah, ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untukku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku.”[1]

“Ya Allah, ciptakanlah cahaya untukku dalam kuburku… dan cahaya dalam tulangku.”[2]

“Tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku.”[3]

“Dan karuniakanlah bagiku cahaya di atas cahaya.”[4]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Cahaya-cahaya yang mana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdo’a mengharapkannya bisa dibawa kepada makna eksplisit-nya. Sehingga menjadi memohon kepada Allah Ta’ala sudi kiranya menjadikan cahaya bagi beliau dalam semua anggota badan beliau untuk penerangan pada Hari Kiamat dalam kegelapannya itu. Bagi beliau dan semua orang yang mengikutinya atau siapa saja yang dikehendaki Allah di antara mereka.”

Yang lebih baik hendaknya dikatakan, “Cahaya itu sindiran bagi arti ilmu dan petunjuk, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّن رَّبِّهِ

“…Lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (Az-Zumar [39]: 22)

Juga sebagaimana firman-Nya,

وَجَعَلْنَا لَهُ نُوراً يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ

“…Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia …” (Al-An’am [6]: 122)

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Dzikir Keluar Rumah (2)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

” Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (syetan atau orang yang berwatak syetan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.”[1]

Shahabat wanita yang merawikan hadits adalah Ummu Salamah, Hindun bintu Abi Umayyah Al-Makhzumiah Radhiyallahu Anha istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ungkapan أَنْ أَضِلَّ ‘aku sesat‘, dengan kata lain, aku sesat dalam diriku sendiri. Kesesatan yang merupakan kebalikan petunjuk. Asalnya, “sesuatu sesat” adalah jika sesuatu itu hilang, sesat dari jalan jika ia bingung.

Ungkapan أَوْ أُضَلَّ ‘atau disesatkan‘, dengan kata lain, orang lain menyesatkanku.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Dzikir Keluar Rumah (1)

بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Dengan nama Allah. Aku bertawakal kepada-Nya, dan tiada daya dan kekuatan, kecuali karena pertolongan Allah.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Pada  bagian akhir  hadits  disebutkan  sabda  beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

يُقَالُ لَهُ: كُفِيتَ وَوُقِيتَ وَهُدِيْتَ، وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيَاطَينُ، فَيَقُولُ لَهُ لِشَيْطَانٍ آخَرَ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

“Dikatakan kepadanya, ‘Engkau telah dicukupkan, dijaga, dan diberi petunjuk.’ Maka, syetan menjauk darinya. Maka, dikatakan kepada syetan yang lain, ‘Bagaimana engkau dengan orang yang telah diberi petunjuk, telah dicukupkan dan telah dijaga?.”

Ungkapan بِسْمِ اللهِ ‘dengan nama Allah‘, dengan kata lain, dengan nama Allah aku berangkat.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Keluar WC

Yakni do’a setelah keluar dari toilet.

غُفْرَانَكَ

“Aku   minta   ampun   kepada-Mu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah bintu Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anha wa Anhu.

Ungkapan غُفْرَانَكَ dengan kata lain ‘aku minta ampun kepada-Mu’.

Dikatakan, berkenaan dengan membaca do’a ini setelah beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar adalah karena kekuatan manusiawi sangat terbatas untuk memenuhi keharusan bersyukur atas apa-apa yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan memudahkan memakan makanan dan minuman serta menyusun makanan dengan pola yang sangat sesuai demi kemaslahatan badan hingga sampai waktunya untuk keluar. Maka, orang harus kembali kepada istighfar dan pengakuan akan keterbatasan untuk sampai kepada pemenuhan hak makanan itu. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 120-121 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ditakhrij Ashhabussunan; At-Tirmidzi, no. 7; Abu Dawud, no. 30; Ibnu Majah, no. 300, kecuali An-Nasa’i yang mentakhrijnya dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 79. Lihat pula takhrij Zaad Al-Ma’ad (2/386).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.081 pengikut lainnya.