Syarah: Doa Setelah Wudhu (2)

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci “[1]

Shahabat yang merawikan hadits ini adalah Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan التَّوَّابِيْنَ ‘orang-orang yang bertaubat‘ adalah bentuk jamak dari kata تَوَّابٌ, ‘banyak bertaubat‘ dan kata ini termasuk sifat mubalaghah (berfungsi untuk menunjukkan banyak). Taubat adalah kembali dari maksiat kepada Allah Ta’ala menuju ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Para ulama berkata, “Taubat dari segala macam dosa adalah wajib. Jika kemaksiatan antara hamba dan Allah Ta’ala tiada sangkut-pautnya dengan hak manusia, maka taubatnya harus dengan tiga macam syarat: (1) hendaknya melepas dari kemaksiatan, (2) harus menyesali apa-apa yang telah dia perbuat, dan (3) berkemauan keras untuk tidak kembali melakukannya.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Setelah Wudhu (1)

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Aku bersaksi, bahwa tiada Tukan Yang hak, kecuali Allah, Yang Maha Esa, dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya …..”[1]

Shababat yang meriwayatkan hadits ini adalah Uqbah bin Amir Al-Juhani Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَشْهَدُ ‘aku bersaksi‘, dengan kata lain, aku berketetapan dengan hatiku dan ucapan lisanku; karena persaksian adalah ucapan dan pengutaraan berkenaan dengan apa-apa yang ada dalam hati.

Aslinya, yakni persaksian adalah dari شُهُوْدُ الشَّيْءِ ‘menyaksikan sesuatu‘, dengan kata lain, keberadaannya dan rnelihatnya. Sehingga orang yang menyampaikan kabar tentang apa-apa yang ada dalam hatinya dengan ucapan lisan itu, seakan-akan menyaksikan perkara itu dengan mata kepalanya sendiri.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Dzikir Sebelum Wudhu

بِسْمِ اللهِ

” Dengan nama Allah (aku berwudhu).”[1]

Perawi hadits ini adaiah Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dan selainnya.

Seutuhnya hadits ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا وُضُوءَ لَهُ، وَلَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

”Tidak sah shalat bagi orang yang tidak berwudhu. Tidak sah wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah di dalamnya”[2]

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Keluar WC

Yakni do’a setelah keluar dari toilet.

غُفْرَانَكَ

“Aku   minta   ampun   kepada-Mu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah bintu Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anha wa Anhu.

Ungkapan غُفْرَانَكَ dengan kata lain ‘aku minta ampun kepada-Mu’.

Dikatakan, berkenaan dengan membaca do’a ini setelah beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar adalah karena kekuatan manusiawi sangat terbatas untuk memenuhi keharusan bersyukur atas apa-apa yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan memudahkan memakan makanan dan minuman serta menyusun makanan dengan pola yang sangat sesuai demi kemaslahatan badan hingga sampai waktunya untuk keluar. Maka, orang harus kembali kepada istighfar dan pengakuan akan keterbatasan untuk sampai kepada pemenuhan hak makanan itu. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 120-121 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ditakhrij Ashhabussunan; At-Tirmidzi, no. 7; Abu Dawud, no. 30; Ibnu Majah, no. 300, kecuali An-Nasa’i yang mentakhrijnya dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 79. Lihat pula takhrij Zaad Al-Ma’ad (2/386).

Syarah: Doa Masuk WC

Ungkapan خَلاَء ‘toilet (WC)’ adalah tempat buang hajat. Asalnya, adalah ‘tempat kosong’. Lalu digunakan untuk arti tempat yang khusus disediakan untuk buang hajat.

بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Dengan nama Allah. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki-laki dan perempuan.”[1]

Perawi  hadits ini adalah shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Dalam salah satu riwayat Al-Bukhari: تُبْلِي  ‘Jika seseorang hendak masuk‘ artinya bahwa mengucapkan do’a ini adalah sebelum masuk dan bukan setelahnya.

Ungkapan اَللَّهُمَّ ‘Ya Allah’ aslinya: يَا الله ‘Ya Allah’ Huruf miim bertasydid di bagian akhir kata sebagai pengganti huruf ya.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Bagi Orang yang Mengenakan Pakaian Baru (2)

اِلْبَسْ جَدِيْدًا، وَعِشْ حَمِيْدًا، وَمُتْ شَهِيْدًا

“Berpakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan syahid.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan اِلْبَسْ جَدِيْدًا  ‘berpakaian yang baru’ adalah bentuk perintah, namun yang dimaksudkan dengan ungkapan itu sebagai do’a: kiranya Allah Ta’ala menganuge-rahkan pakaian baru. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan do’a yang demikian ketika meiihat umar yang mengenakan baju putih. Maka, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya,

ثَوْبُكَ هَذَا غَسِيلٌ أَمْ جَدِيدٌ فَقَالَ: لَا، بَلْ غَسِيلٌ قَالَ صلى الله عليه وسلم: الْبَسْ جَدِيدًا

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah: Doa Bagi Orang yang Mengenakan Pakaian Baru (1)

تُبْلِي وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى

“Kenakanlah sampai lusuh, semoga Allah Ta’ala memberikan gantinya kepadamu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan تُبْلِي berasal dari kata: الْإِبْلاَءُ dengan kata lain ‘lusuh’ yang dimaksud adalah mengenakan pakaian itu hingga lusuh dan menjadi gombal.

Ungkapan وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى ‘Allah Ta’ala memberikan gantinya’ dengan kata lain, pakaian yang rusak itu diganti dengan yang lebih baik.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ditakhrij Abu Dawud, (4/41), no. 4020. Dan lihat Shahih Abu Dawud (2/760).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.073 pengikut lainnya.