Syarah Doa Agar Terhindar Dari Syirik

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tindakan menyekutukan Engkau, sedang aku mengetahuinya dan aku minta ampun kepadamu terhadap apa yang tidak aku ketahui (bahwa hal itu perbuatan syirik-red.).'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Musa Al-Asy’ari dan selainnya Radhiyallahu Anhum.

Disebutkan di dalamnya sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ، فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ، وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ قُولُوا…

“Wahai sekalian manusia, takutlah kepada tindakan syirik ini, sesungguhnya dia itu lebih tersembunyi dari pada langkah seekor semut.’ Seseorang yang dikehendaki Allah untuk berkata kepada beliau, ‘Bagaimana kita takut kepadanya, padahal dia itu lebih tersembunyi daripada langkah seekor semut, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, ‘Katakan: …’.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Menyebarkan Salam (3)

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ : أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Dan Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, ‘Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, manakah ajaran Islam yang baik? Rasul bersabda. ‘Hendaklah engkau memberi makan. mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal’.”[1]

Ungkapan أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ ‘Islam yang bagaimana yang paling bagus itu?‘, dengan kata lain, adab-adab Islam dan sifat-sifat pemeluknya yang paling baik? Beliau menjawab: تُطْعِمُ الطَّعَامَ ‘engkau memberikan makan‘, dan tidak mengatakan: اِطْعَامُ الطَّعَامَ dan tidak juga mengatakan: وَإِلْقَا السَّلاَم agar dengan bentuk jawaban yang demikian diketahui bahwa manusia itu bertingkat-tingkat dalam sifat-sifat itu sesuai dengan kondisinya dan tingkat pengetahuan mereka. Dua macam sifat tersebut di atas keduanya sesuai dengan kondisi orang yang bertanya. Keduanya itu lebih baik baginya ditinjau dari dirinya dan bukan dari seluruh kaum Muslimin. Atau kita katakan, “Bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab pertanyaannya dengan menisbatkan kata kerja langsung kepada dirinya agar menjadi lebih menjurus kepada perbuatan darinya. Sedangkan bentuk khabar kadang-kadang masuk ke dalam posisi perintah, dengan kata lain, أَطْعِمِ الطَّعَامَ dan أَقْرِيْءِ السَّلاَمَ ‘berikan makanan dan sampaikan salam’.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Menyebarkan Salam (2)

ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ اْلإِيْمَانَ: اْلإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ، وَاْلإِنْفَاقُ مِنَ اْلإِقْتَارِ

“Ada tiga perkara, barangsiapa yang bisa mengerjakannya, maka sungguh telah mengumpulkan keimanan: berlaku adil terhadap dirimu sendiri, menyebarkan salam ke seluruh manusia, dan berinfak dalam keadaan fakir.”[1]

Ini adalah atsar dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan اْلإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ‘berlaku adil terhadap dirimu sendiri’. Inilah yang pertama. Berlaku adil berkonsekuensi menunaikan semua hak Allah, semua yang Dia perintahkan, menjauhi segala yang Dia larang, menunaikan kepada manusia semua hak mereka, tidak meminta apa-apa yang bukan miliknya, dan juga harus berlaku adil dengan tidak menjerumuskan semua itu ke dalam keburukan sama sekali.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Menyebarkan Salam (1)

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا، وَلاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا، أَوَ لاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ، أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman secara sempurna hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu, apabila kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”‘[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Sesungguhnya menyebarkan salam adalah penyebab munculnya kecintaan, karena salam tidak mungkin melainkan dari hati yang jernih, tawadhu’, dan kerendahan hati. Maka, siapa saja yang memiliki hati yang jernih, tawadhu’ dan kerendahan hati, akan dicintai orang banyak. Ketahuilah bahwa orang-orang zalim dan sombong tidak mengucapkan salam kepada orang lain melainkan sangat sedikit. Yang demikian karena kesombongan, kebanggaan, dan kecongkakan mereka. Maka, tidak ayal lagi, semua orang marah kepadanya. Sehingga sikapnya meninggalkan salam menjadi sebab permusuhan dan kebencian orang.

Baca pos ini lebih lanjut

Doa Agar Diselamatkan Dari Penyakit Kikir

Ada sebuah do’a sederhana yang jaami’ (singkat dan syarat makna) yang sudah sepatutnya kita menghafalkannya karena amat bermanfaat. Do’a ini berisi permintaan agar kita terhindar dari penyakit hati yaitu ‘syuh’ (pelit lagi tamak) yang merupakan penyakit yang amat berbahaya. Penyakit tersebut membuat kita tidak pernah puas dengan pemberian dan nikmat Allah Ta’ala, dan dapat mengantarkan pada kerusakan lainnya. Do’a ini kami ambil dari buku “Ad Du’aa’ min Al Kitab wa As Sunnah” yang disusun oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthani hafizhahullah.

Do’a tersebut adalah,

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ

Allahumma qinii syuhha nafsii, waj’alnii minal muflihiin

“Ya Allah, hilangkanlah dariku sifat pelit (lagi tamak), dan jadikanlah aku orang-orang yang beruntung”

Do’a ini diambil dari firman Allah Ta’ala dalam surat Ath Taghabun ayat 16,

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Kebencian Kepada Thiyarah

اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tiada kesialan, kecuali kesialan yang Engkau tentukan, dan tiada kebaikan, kecuali kebaikan-Mu, serta tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma.

Di dalamnya disebutkan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ أَرْجَعَتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَتِهِ، فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوا: وَمَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: يَقُولُ أَحَدُكُمْ

“Barangsiapa menunda kepentingannya karna thiyarah, maka dia telah syirik.’ Para shahabat bertanya, ‘Apa kafarah hal itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, ‘Salah seorang dan kalian harus mengatakan …”

Ungkapan الطِّيَرَةُ adalah sikap optimisme dan pesimis atas dasar perilaku burung. Dengan perilaku burung-burung itu mereka mengambil keputusan tentang arah dan lain-lain. Mereka menggunakan cara mengejutkan burung dari tempatnya untuk kepentingan itu.

Baca pos ini lebih lanjut

Mohon Ampunan dan Rahmat Allah

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Rabb-ku, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan jika Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud[11]: 47)

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Rabb kami, kami telah beriman, Maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik. (QS. Al-Mu’minun[23]: 109)

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Rabb-ku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 118)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.075 pengikut lainnya.