Syarah Doa Ketika Melihat Orang Lain Tertimpa Bala

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari sesuatu yang Allah memberi cobaan kepadamu. Dan Allah telah memberi keutamaan kepadaku, melebihi orang banyak yang telah Dia ciptakan.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Di dalamnya disebutkan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ… لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ

“Barangsiapa melihat orang tertimpa bala, lalu mengucapkan … maka dia tidak akan tertimpa bala itu.”

Baca tulisan ini lebih lanjut

Syarah Doa Kebencian Kepada Thiyarah

اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tiada kesialan, kecuali kesialan yang Engkau tentukan, dan tiada kebaikan, kecuali kebaikan-Mu, serta tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma.

Di dalamnya disebutkan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ أَرْجَعَتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَتِهِ، فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوا: وَمَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: يَقُولُ أَحَدُكُمْ

“Barangsiapa menunda kepentingannya karna thiyarah, maka dia telah syirik.’ Para shahabat bertanya, ‘Apa kafarah hal itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, ‘Salah seorang dan kalian harus mengatakan …”

Ungkapan الطِّيَرَةُ adalah sikap optimisme dan pesimis atas dasar perilaku burung. Dengan perilaku burung-burung itu mereka mengambil keputusan tentang arah dan lain-lain. Mereka menggunakan cara mengejutkan burung dari tempatnya untuk kepentingan itu.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Berlindung dari Hilangnya Nikmat Allah عزّوجلّ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya kenikmatan-Mu dan berubahnya a’fiyah (kesejahtera’an) dari-Mu, dan aku berlindung dari kemurkaan-Mu yang datang dengan tiba-tiba dan seluruh kemarahan-Mu. (HR. Muslim)

Imam As-Syaukani رحمه الله mengatakan, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم berlindung dari hilangnya nikmat Allah عزّوجلّ. Karena itu hanya akan terjadi bila tidak mensyukuri nikmat dan tidak menjalankan apa yang menjadi hak dan tuntutan nikmat tersebut. Seperti bakhil terhadap apa yang menjadi konsekuensi nikmat pada pemiliknya yaitu melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya seperti kewajiban bersyukur, memberikan bantuan dan mengeluarkan apa yang wajib dikeluarkan.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Ucapan Ketika Menyaksikan Hal yang Disukai

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan sempurna.”

Berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal

Lihat sumber:

  1. Shahih Sunan Ibnu Majah, Bab. 55, hadits No. 3081-3871
  2. Ucapan “Alhamdulillah ‘ala Kulli Hal

Ucapan Ketika Menyaksikan Hal yang Tidak Disukai

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala Puji Bagi Allah Atas Segala Keadaan”

Berdasarkan hadits:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal

Lihat sumber:

  1. Shahih Sunan Ibnu Majah, Bab. 55, hadits No. 3081-3871
  2. Ucapan “Alhamdulillah ‘ala Kulli Hal

Larangan Thiyarah

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما: ia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Barang siapa mengurungkan niatnya karena thiyarah,[1] maka ia telah berbuat syirik.’ Para Sahabat bertanya: ‘Lalu, apakah tebusan-nya?’ Beliau menjawab: ‘Hendaklah ia mengucapkan:

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’”[2]

Tathayyur termasuk adat Jahiliyyah. Mereka biasanya berpatokan kepada burung-burung, jika mereka lihat burung itu terbang ke arah kanan, mereka bergembira dan meneruskan niat. Jika burung itu terbang ke arah kiri, mereka anggap membawa sial dan mereka menangguhkan niat. Bahkan, sebagian mereka sengaja menerbangkan burung untuk meramal nasib.

Syari’at yang hanif ini telah melarang segala macam bentuk tathayyur. Sebab, thair (burung) tidak memiliki keistimewaan apa pun sehingga gerak-geriknya harus dijadikan sebagai petunjuk untung atau rugi. Dalam banyak hadits, Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menegaskan berulang kali: “Tidak ada thiyarah!” Penegasan seperti ini juga dinuki! dari sejumlah Sahabat رضي الله عنهم.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Mohon Ampunan dan Rahmat Allah

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Rabb-ku, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan jika Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud[11]: 47)

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Rabb kami, kami telah beriman, Maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik. (QS. Al-Mu’minun[23]: 109)

رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Rabb-ku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 118)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Baca tulisan ini lebih lanjut

Berlindung dari Fitnah Orang Kafir

BERLINDUNG DARI FITNAH (DIMENANGKANNYA)
ORANG-ORANG KAFIR1

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Mumtahanah[60]: 5)

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ. وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim. dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari (tipu daya) orang-orang yang kafir.” (QS. Yunus[10]: 85-86)


[1] Maksudnya: Janganlah mereka (orang-orang kafir) dimenangkan atas kami, sehingga mereka terfitnah (tertipu) dengan hal itu, mereka memandang bahwa menangnya (berkuasanya) mereka atas kami adalah karena mereka menyangka berada di atas kebenaran. (Disarikan dari Tafsiir Ibni Katsir tentang Masalah ini.).-Ed

Disalin dari Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. hal.44-45

Berlindung dari Orang-orang Zhalim

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu” (QS. Al-Qashash[28]: 21)

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu” (QS. al-A’raaf[7]: 47)

رَبِّ انصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ

“Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu” (QS. al-’Ankabuut[29]: 30)

Berlindung dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمًا لاَ يَنْفَعُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

HR. Ibnu Majah no. 3843 dari Jabir رضي الله عنه. Lihat juga Shahiih Sunan Ibni Majah 11/327 no. 3100 dan lafazhnya:

سَلُوا اللهَ عِلْمًا نَافِعًا، وَتَعَوَّ ذُوْا بِاللهِ مِنْ عِلْمًا لاَ يَنْفَعُ

“Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَؤُلَاءِ الْأَرْبَعِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, do’a yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari keempat hal tersebut.”

HR. At-Tirmidzi no. 3482, an-Nasa-i VIII/254-255 dari ‘Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنه. Abu Dawud no. 1548, dan selainnya dari Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 1297, Shahiih an-Nasa-i III/1113 no. 5053, dan Shahiih Sunan Abi Dawud no. 1384 cet. Gharras
Dikutip dari: Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih, oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.022 pengikut lainnya.