Arsip Kategori: Perintah dan Keutamaan Berdoa

Keutamaan Berdzikir Sendirian

Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan di dalam Shahihnya: Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku demikian juga Muhammad bin al-Mutsanna. Mereka semua menuturkan dari Yahya al-Qaththan. Zuhair mengatakan, Yahya bin Sa’id menuturkan kepada kami dari Ubaidillah. Dia berkata, Khubaib bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah رضي الله عنه dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

  1. Seorang pemimpin yang adil,
  2. Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah,
  3. Seorang lelaki yang hatinya selalu bergantung di masjid,
  4. Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya,
  5. Seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang perempuan cantik lagi berkedudukan namun mengatakan, ‘Aku merasa takut kepada Allah’,
  6. Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kanannya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kirinya (terbalik, seharusnya ‘sampai-sampai tangan kirinya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya’, pent),
  7. Dan juga seorang yang mengingat Allah di saat sendirian hingga kedua matanya mengalirkan air mata.”

(Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab az-Zakah dengan judul bab ‘Shadaqah dengan tangan kanan’. Diterjemahkan secara bebas dari as-Shahih al-Musnad min Adzkar al-Yaum wa al-Lailah, Syaikh Musthofa al-Adawi, hal. 12-13)

Hadits ini mengandung banyak pelajaran berharga, di antaranya: Read the rest of this entry

Dapatkah Doa Merubah Takdir

Soal:

Assalamu’alaikum Warohmatulloh. Apakah benar bahwa takdir bisa dirubah dengan do’a, mohon penjelasannya. (Rohmat Arif-Lamongan)

Jawab:

Wa’alaikumussalam Warohmatulloh Wabarokatuh. Benar, takdir bisa dirubah dengan do’a, sebagaimana sabda Rosululloh صلي الله عليه وسلم:

لاَ يَرُدُّ القَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ

“Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali do’a.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrok: 1/493, dari hadits Tsauban, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shohih at-Targhib wat-Tarhib: 2/129)

Read the rest of this entry

Anjuran Berdzikir

TEKS HADITS

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رجلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جَامِعٌ؟ قَالَ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Abdullah bin Busr, beliau berkata, seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak atas kami, maka apakah ada sebuah amal ibadah menyeluruh yang dapat kami amalkan?”. Beliau pun bersabda, “Hendaknya senantiasa lisanmu basah dengan berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla“. (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan lafazh seperti ini, dan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan makna yang serupa. Dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan Gharib“.)[1]

PENJELASAN HADITS

1. Pertanyaan seorang sahabat ini merupakan satu contoh dari sekian contoh yang banyak dalam pertanyaan-pertanyaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbagai macam perkara agama. Semua itu menunjukkan keutamaan, kepandaian, ketanggapan, dan semangat mereka dalam menginginkan dan memperoleh setiap kebaikan. Dan maksud dari syariat-syariat yang telah banyak adalah ibadah-ibadah yang sunnah. Sahabat ini ingin mengetahui satu jalan dari jalan-jalan kebaikan yang hendak ia khususkan dan lebih perhatikan agar ia mendapatkan pahala labih dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun hal-hal yang wajib, maka seluruhnya dibutuhkan. Dan wajib bagi setiap Muslim untuk melakukan seluruhnya. Dalam hadits ini Nabi menjawab agar sahabat tersebut konsisten dengan berdzikir kepada Allah, dan menganjurkan agar lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah. Dan dzikir, ada dua macam; umum dan khusus. Dzikir yang bersifat umum adalah seperti; melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, mempelajari dan mengajarkan ilmu, memuji Allah, menyucikan Allah dari segala yang tidak layak bagi-Nya. Adapaun dzikir khusus, maka seperti memuji-Nya dengan berhamdalah, mengucapkan laa ilaaha illallaah, bertakbir, dan semisalnya, yang semua ini diiringi dengan berdoa kepada Allah. Maka sering diucapkan kata “Dzikir dan Doa”. Amalan ini mudah bagi seseorang, namun besar pahalanya di sisi Allah. Dan telah tetap sebuah hadits di dalam Ash-Shahihain, dan hadits ini merupakan hadits yang paling akhir dalam Shahih Al-Bukhari, yaitu sabdanya:

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

Dua kata yang dicintai Allah, ringan diucapkan oleh lisan, berat timbangannya dalam mizan. Dua kalimat tersebut adalah: “Subhanallahi wa bihamdihi dan Subhanallahil ‘Azhim“.

2.  Pelajaran dan faidah hadits:

a. Semangat para sahabat radhiallahu ‘anhum dalam bertanya-tanya tentang perkara agama mereka.

b. Keutamaan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan konsisiten di dalamnya.


[1] HR Ahmad (4/188), At-Tirmidzi (3375), Ibnu Majah (3793), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (814). Dan hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (2/95/1491) dan kitab-kitab beliau lainnya.

Disalin dari Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in wa Tatimmatul Khamsin, edisi Indonesia: Penjelasan 50 Hadits Inti Ajaran Islam karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbad Al-Badr -hafizhahullah-,pada hadits ke-50.

Istigfar dan Taubat

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَاللهِ إِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرُ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً

“Demi Allah! Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”[1]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”[2]

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، غَفَرَ اللهُ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ

“Barangsiapa yang membaca: ‘Aku minta ampun kepada Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Hidup dan terus-menerus mengurus makhlukNya.’ Maka Allah mengampuninya. Sekalipun dia pernah lari dari perang.”[3]

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ اْلآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُوْنَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللهَ فِيْ تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Keadaan yang paling dekat antara Tuhan dan hambaNya adalah di tengah malam yang terakhir. Apabila kamu mampu tergolong orang yang dzikir kepada Allah pada saat itu, lakukanlah.”[4]

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Seorang hamba berada dalam keadaan yang paling dekat dengan Tuhannya adalah di saat sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa.”[5]

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya hatiku lupa (tidak ingat kepada Allah) padahal sesungguhnya aku minta ampun kepadaNya dalam sehari seratus kali.”[6]

Disalin dengan sedikit ringkas dari Hisnul Muslim, Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali Wahf al-Qahthani


[1] HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 11/101
[2]
HR. Muslim 4/2076
[3]
HR. Abu Dawud 2/85, At-Tirmidzi 5/569, Al-Hakim, dan menurut pendapatnya hadits di atas adalah shahih. Imam Adz-Dzahabi menyetujuinya 1/511, Al-Albani menyatakan hadits tersebut adalah shahih. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 3/182, Jami’ul Ushul li ahaditsir Rasul 4/389-390 dengan tahqiq Al-Arnauth
[4]
HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i 1/279 dan Al-Hakim, lihat Shahih At-Tirmidzi 3/183, Jami’ul Ushul dengan tahqiq Al-Arnauth 4/144
[5]
HR. Muslim 1/350
[6]
HR. Muslim 4/2075, Ibnul Atsir berkata: “Maksud Nabi صلى الله عليه وسلم lupa”, karena beliau senantiasa memperbanyak dzikir, selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan waspada. Jadi, apabila sebagian waktu yang lewat tidak melakukan dzikir, maka beliau menganggapnya dosa. Kemudian beliau cepat-cepat membaca istighfar. Lihat Jami’ul Ushul 4/386.

Mengenal Jenis Dzikir

Ada pelajaran yang amat menarik dari Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab beliau Al Wabilush Shoyyib, juga kitab beliau lainnya yaitu Madarijus Salikin dan Jala-ul Afham dibahas mengenai berbagai jenis dzikir. Dari situ kita dapat melihat bahwa dzikir tidak terbatas pada bacaan dzikir seperti tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah) dan takbir (Allahu akbar) saja. Ternyata dzikir itu lebih luas dari itu. Mengingat-ingat nikmat Allah juga termasuk dzikir. Begitu pula mengingat perintah Allah sehingga seseorang segera menjalankan perintah tersebut, itu juga termasuk dzikir. Selengkapnya silakan simak ulasan berikut yang kami sarikan dari penjelasan beliau rahimahullah.

Dzikir itu ada tiga jenis:

Jenis Pertama:

Dzikir dengan mengingat nama dan sifat Allah serta memuji, mensucikan Allah dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

Dzikir jenis ini ada dua macam:

Macam pertama: Sekedar menyanjung Allah seperti mengucapkan “subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar”, “subhanallah wa bihamdih”, “laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir”.

Dzikir dari macam pertama ini yang utama adalah apabila dzikir tersebut lebih mencakup banyak sanjungan dan lebih umum seperti ucapan “subhanallah ‘adada kholqih” (Maha suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya). Ucapan dzikir ini lebih afdhol dari ucapan “subhanallah” saja.

Macam kedua: Menyebut konsekuensi dari nama dan sifat Allah atau sekedar menceritakan tentang Allah. Contohnya adalah seperti mengatakan, “Allah Maha Mendengar segala yang diucapkan hamba-Nya”, “Allah Maha Melihat segala gerakan hamba-Nya, “tidak mungkin perbuatan hamba yang samar dari penglihatan Allah”, “Allah Maha menyayangi hamba-Nya”, “Allah kuasa atas segala sesuatu”, “Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya.”

Dan sebaik-baik dzikir jenis ini adalah dengan memuji Allah sesuai dengan yang Allah puji pada diri-Nya dan memuji Allah sesuai dengan yang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji-Nya, yang di mana ini dilakukan tanpa menyelewengkan, tanpa menolak makna, tanpa menyerupakan atau tanpa memisalkan-Nya dengan makhluk.

Jenis Kedua: Read the rest of this entry

7 Faedah Dzikir

Mengingat Allah (baca: dzikir) merupakan pokok daripada syukur. Manfaat yang besar dapat diperoleh dengan mengerjakan amalan ini. Namun, sayang sekali kebanyakan orang melupakan dan melalaikannya. Padahal, faedah dzikir itu banyak sekali, di antaranya adalah:

1. Mendatangkan Pertolongan Allah

Allah ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152)

2. Mendatangkan Ampunan dan Pahala yang Besar

Allah ta’ala berfirman, Read the rest of this entry

Dzikir, Ibadah yang Sangat Agung

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Dzat yang menetapkan takdir dan mengatur segala urusan. Dzat yang mempergilirkan malam dan siang sebagai pelajaran bagi orang-orang yang memiliki hati dan pemahaman. Dzat yang menyadarkan sebagian makhluk dan memilihnya di antara orang pilihan-Nya dan kemudian Allah memasukkan dia ke dalam golongan orang-orang yang terbaik. Dzat yang memberikan taufik kepada orang yang Dia pilih di antara hamba-hamba-Nya kemudian Allah jadikan dia termasuk golongan al-Muqarrabin al-Abrar. Segala puji bagi-Nya yang telah memberikan pencerahan kepada orang yang dicintai-Nya sehingga membuat mereka untuk bersikap zuhud di alam kehidupan dunia ini, sehingga mereka bersungguh-sungguh untuk meraih ridha-Nya serta bersiap-siap untuk menyambut negeri yang kekal. Oleh sebab itu, mereka pun menjauhi perkara yang membuat-Nya murka dan menjauhkan diri dari ancaman siksa neraka. Mereka menundukkan dirinya dengan penuh kesungguhan dalam ketaatan kepada-Nya serta senantiasa berdzikir kepada-Nya pada waktu petang maupun pagi. Dzikir itu senantiasa mereka lakukan walaupun terjadi perubahan keadaan dan di setiap kesempatan; malam maupun siang hari. Oleh sebab itu, bersinarlah hati mereka dengan pancaran cahaya keimanan (lihat Mukadimah Al Adzkar, dalam Shahih Al Adzkar, hal. 11)

Saudaraku -semoga Allah menyinari hati kita dengan keimanan-, dzikir merupakan ibadah yang sangat agung. Allah ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku juga akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152)

Orang-orang yang hadir dalam majelis dzikir adalah orang-orang yang berbahagia. Bagaimana tidak, sedangkan di dalam majelis itu dibacakan ayat-ayat Allah ta’ala dan hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang itu merupakan sumber ketenangan hati dan kebahagiaan sejati.

Read the rest of this entry

Tempat dan Waktu Membaca Shalawat Nabi

TEMPAT-TEMPAT DAN WAKTU YANG DISYARI’ATKAN MENGUCAPKAN SHALAWAT DAN SALAM KEPADA RASULULLAH صلى الله عليه وسلم

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله

1. Di dalam shalat ketika tasyahhud/ tahiyyat awal dan akhir.[1] Berdasarkan hadits Fadhalah bin ‘Ubaid al-Anshari رضي الله عنه, “Nabi صلى الله عليه وسلم menegur seseorang yang tidak bershalawat kepada beliau.” [2]

Imam asy-Syafi’i رحمه الله, berkata: “Tasyahhud awal dan akhir lafazhnya sama, tidak ada perbedaan, yang saya maksud dengan tasyahhud ialah tasyahhud dan shalawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم, karena tidak sempurna bila salah satunya ditinggalkan.” [3]

Basyir bin Sa’ad رضي الله عنه pernah bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم: “Bagaimana shalawat kepada Nabi dalam shalat?” Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم mengajarkannya… [4]

2. Di dalam shalat Jenazah sesudah takbir yang kedua. Disunnahkan membaca shalawat dalam shalat Jenazah sesudah takbir yang kedua berdasarkan riwayat yang masyhur dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif.[5]
3. Di dalam khutbah: seperti khutbah Jum’at, ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha, Istisqa’ dan lain-lain.[6]
4. Setelah menjawab Adzan.[7]
5. Ketika berdo’a. Ada tiga cara:

Read the rest of this entry

Keutamaan Shalawat & Salam Kepada Nabi صلى الله عليه وسلم

KEUTAMAAN[1] MEMBACA SHALAWAT DAN SALAM KEPADA NABI صلى الله عليه وسلم

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله

Firman Allah عزّوجلّ:

إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzaab: 56).

Makna shalawat Allah kepada Nabi Muhammad adalah pujian dan sanjungan-Nya kepada beliau di sisi para Malaikat. (Lihat Tafsiir Ibnu Katsir III/557)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“…Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan memberikan balasan shalawat kepadanya sepuluh kali…” [2]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil adalah orang yang mendengar namaku disebut, tetapi dia tidak membaca shalawat kepadaku.” [3]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Read the rest of this entry

Bacaan Shalawat Nabi yang Paling Ringkas

SHIGHAH (BENTUK) SHALAWAT DAN SALAM YANG PALING RINGKAS

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله

١. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

٢. عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَسَلَّمَ

٣. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمَ عَلَيْهِ

Imam an-Nawawi Asy-Syafi’i رحمه الله berkata: “Apabila seseorang dari kalian bershalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hendaklah ia menggabungkan antara shalawat dan salam, tidak boleh ia hanya mengucapkan صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ saja atau عَلَيْهِ وَسَلَّمَ saja.” [1]

Imam Ibnu Shalah Asy-Syafi’i رحمه الله berkata: “Sebaiknya penulis hadits dan para penuntut ilmu menulis shalawat serta salam atas Rasulullah صلى الله عليه وسلم (dengan lengkap), dan ketika menyebutnya jangan bosan mengulang-ulangnya, karena yang demikian itu sangat besar manfaatnya yang segera diperoleh bagi penuntut ilmu (hadits) dan penulisnya. Barang siapa yang lalai, maka ia tercegah mendapat pahala yang besar, hendaklah ia tidak memotongnya/ tidak menyingkat ketika menulisnya.” [2]

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 99 pengikut lainnya.