Keutamaan Doa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَـمْ يَدْعُ اللَّهَ سُبْحَانَهُ غَضِبَ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Barangsiapa enggan berdoa (memohon) kepada Allah Subhanahu, niscaya Dia akan marah kepadanya’.”

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ، ثُمَّ قَرَأَ: وَقَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dari An-Nu’man bin Basyir رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Sesungguhnya berdoa adalah ibadah’ Kemudian beliau membaca ayat, ‘Dan Tuhan-mu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghaafir [40]:60)

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ مِنْ الدُّعَاءِ

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda: “Tidaklah ada sesuatu yang paling mulia bagi Allah Subhanahu daripada doa.”[]

Disalin dari Shahih Sunan Ibnu Majah hadits ke 3100-3102, silahkan download eBook-nya disini

Ucapan yang Paling Dicintai Allah

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجِسْرِيِّ مِنْ عَنَزَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami; Yahya bin Bukair menuturkan kepada kami dari Syu’bah dari al-Jurairi dari Abu Abdillah al-Jisri dari ‘Anazah dari Abdullah bin Shamit dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu ucapan yang paling dicintai oleh Allah?”. Maka aku katakan, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku ucapan yang paling dicintai Allah itu.” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah adalah ‘Subhanallahi wa bihamdih’ (Maha suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya).” (HR. Muslim [4911] as-Syamilah)

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنْ رَبِيعِ بْنِ عُمَيْلَةَ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Bershalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم

1. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

‘Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.'”[1]

2. Dari Abud Darda رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Barangsiapa bershalawat kepadaku sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, niscaya ia akan mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat.'”[2]

3. Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إنَّ للهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ يُبَلِّغُونَنِي مِنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ

‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki para Malaikat yang berkeliling di muka bumi, mereka menyampaikan kepadaku ucapan salam dari umatku.”‘[3]

Baca pos ini lebih lanjut

Hukum Bershalawat Kepada Nabi صلى الله عليه وسلم

Menurut Imam ath-Thahawi رحمه الله, bershalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم wajib dilakukan satu kali saja (minimal). Sedangkan menurut Imam al-Kurkhi رحمه الله, bershalawat hukumnya wajib setiap kali nama beliau صلى الله عليه وسلم disebut, dan ini adalah pendapat yang lebih hati-hati. Pendapat inilah yang dipegang oleh Jumhur Ulama.

Tentang firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orangyang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan ke-padanya. “(QS. Al-Ahzaab: 56)

Abu Su’ud berkata, “Ayat ini sebagai dalil wajibnya mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau صلى الله عليه وسلم secara mutlak tanpa harus mengulang-ulangnya.”

Imam al-Qasthalani رحمه الله mengatakan, “Dikatakan bahwa hukumnya adalah mustahabbah (dianjurkan). Dikatakan pula bahwa hukumnya wajib dalam ‘Tasyahhud akhir’ di setiap shalat menurut pendapat Imam asy-Syafi’i رحمه الله dan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad رحمه الله.”

Baca pos ini lebih lanjut

Perintah Bershalawat

Perintah Mengucapkan Shalawat
dan Salam kepada Nabi
صلى الله عليه وسلم

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. “(QS. Al-Ahzaab: 56)

Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما mengatakan, “‘Yushalluuna‘ (mereka bershalawat) maksudnya, ‘Yubarrikuuna‘ (memohonkan keberkahan).”

Abul ‘Aliyah رحمه الله mengatakan, “Shalawat Allah Ta’ala kepada beliau adalah pujian-Nya kepada beliau di sisi para Malaikat. Sedangkan shalawat Malaikat adalah do’a.”[1]

Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله mengatakan, “Maksud dari ayat ini bahwa Allah Ta’ala mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba sekaligus Nabi-Nya di sisi-Nya di Mala-ul a’laa. Yaitu bahwa Allah Ta’ala memuji beliau صلى الله عليه وسلم di sisi para Malaikat yang didekatkan kepada Allah. Dan Dia pun mengabarkan bahwa para Malaikat bershalawat kepada beliau صلى الله عليه وسلم, sehingga terkumpullah untuk beliau pujian dua penduduk alam; alam bawah (bumi) dan alam atas (langit).”

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Dzikir

1.  Diriwayatkan dari Abu Darda’ رضي الله عنه ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا بَلَى، قَالَ: ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى

“Maukah kamu aku tunjukkan amalan yang terbaik dan paling suci di sisi Rabbmu, yang. paling mengangkat derajatmu, lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu lantas kamu memenggal leher mereka atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir menjawab; “Tentu saja wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: “Dzikir   kepada  Allah   Yang  Maha   Tinggi.”  (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Al-Hakim berkata: “Hadits ini sanadnya shahih)”[1]

2.  Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

سَبَقَ الْـمُفَرِّدُونَ ٌقَالُوا وَمَا الْمُـفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ

‘”Kaum mufarridun (hamba-hamba yang teristimewa) telah mendahului kalian”. Para sahabat bertanya: ” Siapakah mufarridun itu wahai Rasulullah? Rasulullah bersabda: “Kaum laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir. (HR. Muslim)

Baca pos ini lebih lanjut

Seribu Kebaikan dalam Sehari

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ وَعَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ مُوسَى الْجُهَنِيِّ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا مُوسَى الْجُهَنِيُّ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ قَالَ يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Marwan dan Ali bin Mus-hir menuturkan kepada kami dari Musa al-Juhani. Sedangkan dari jalan yang lain Imam Muslim mengatakan: Muhammad bin Abdullah bin Numair menuturkan kepada kami dengan lafaz darinya, dia berkata: Musa al-Juhani menuturkan kepada kami dari Mush’ab bin Sa’d. Dia mengatakan: Ayahku menuturkan kepadaku, dia berkata: Dahulu kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau mengatakan,

“Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu untuk menghasilkan pada setiap hari seribu kebaikan?”.

Lalu ada seorang yang duduk bersama beliau bertanya, “Bagaimana salah seorang di antara kami bisa menghasilkan seribu kebaikan?”. Beliau menjawab,

“Yaitu dengan bertasbih (membaca subhanallah) seratus kali, maka dengan itu akan dicatat seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan.” (HR. Muslim dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a wa at-Taubah wa al-Istighfar)

Hadits yang agung ini mengandung pelajaran:

  1. Baca pos ini lebih lanjut
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.065 pengikut lainnya.