Dzikir Pagi dan Petang (13)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ. (مِائَةَ مَرَّةٍ)

“Maha Suci Allah dan Segala puji (bagi-Nya)” (Dibaca seratus kali)[1]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. (عشر مرات أو مرة واحدة عند الكسل)

“Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca sepuluh kali[2], atau sekali saja saat malas[3]) Baca pos ini lebih lanjut

Dzikir Pagi dan Petang (12)

Pagi hari membaca:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ: فَتْحَهُ، وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ، وَبَرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ

“Kami masuk pagi, sedang kerajaan hanya milik Allah, Tuhan pengusa alam. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar memperoleh kebaikan, pembuka (rahmat), pertolongan, cahaya, berkah dan petunjuk di hari ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan sesudahnya.”

Sore hari membaca:

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ؛ فَتْحَهَا، وَنَصْرَهَا وَنُوْرَهَا، وَبَرَكَتَهَا، وَهُدَاهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا

“Kami masuk sore, sedang kerajaan hanya milik Allah, Tuhan pengusa alam. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar memperoleh kebaikan, pembuka (rahmat), pertolongan, cahaya, berkah dan petunjuk di malam ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan sesudahnya.” [1]

Baca pos ini lebih lanjut

Dzikir Pagi dan Petang (9)

حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

“Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhanku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, kepadaNya aku bertawakal. Dia-lah Tuhan yang menguasai ‘Arsy yang agung.” (Dibaca tujuh kali waktu pagi dan sore).[1]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى.  اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, (kehidupan) duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan berilah ketenteraman dihatiku. Ya Allah! Peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku.” [2]

Disalin dari Terjemah Hishnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, Hal. 87-88.


[1]  HR. Ibnu Sunni dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 72, hal. 37, Abu Dawud: 4/321 dan sanad haditsnya baik.
[2]  HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 2/332.

Dzikir Pagi dan Petang (8)

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah! Selamatkan tubuhku (dari penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca tiga kali di waktu pagi dan petang).[1]

Disalin dari Terjemah Hishnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, Hal. 86.


[1]     HR. Abu Daud: 4/324, Ahmad: 5/42, An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 22, halaman 146, Ibnus Sunni no. 69. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz رحمه الله menyatakan sanad hadits tersebut hasan. Lihat juga Tuhfatul Akhyar, halaman 26.

Syarah Ucapan Bila Orang Kafir Memuji Allah Ketika Bersin

يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Semoga Allah memberi hidayah kepadamu dan memperbaiki kondisimu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu.

Di dalamnya terdapat ucapan Abu Musa Radhiyallahu Anhu,

كَانَتِ الْيَهُوْدُ تَعَاطَسَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَاءً أَنْ يَقُوْلَ لَهَا: يَرْحَمُكَ اللهُ، فَكَانَ يَقُوْلُ: ….

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Orang yang Bersin

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُل: اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوْهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكُ اللهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ فَلْيَقُلْ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Jika salah seorang di antara kalian bersin hendaknya dia mengucapkan : اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ ‘Segala puji hanya bagi Allah‘. Sedangkan saudara atau sahabatnya hendaknya mengucapkan kepadanya: يَرْحَمُكُ اللهُ ‘Semoga Allah merahmatimu‘. Jika dia mengatakan kepadanya: يَرْحَمُكُ اللهُ ‘Semoga Allah merahmatimu‘, maka dia harus mengucapkan يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ‘Semoga Allah memberimu petunjuk dan membaguskan kondisimu’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوْهُ أَوْ صَاحِبُهُ ‘sedangkan saudara atau sahabatnya hendaknya mengucapkan’. Terdapat suatu keraguan dari perawi.

Ungkapan يَرْحَمُكُ اللهُ ‘semoga Allah merahmatimu‘. Ini bisa berkemungkinan sebagai do’a memohon rahmat, dan bisa juga sebagai informasi yang menyenangkan orang, dengan kata lain, itu adalah rahmat untukmu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Shalawat Atas Nabi (2)

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِي عِيْدًا وَصَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّ صَلاَتَكَ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Janganlah kamu menjadikan kuburanku sebagai hari raya, dan bershalawatlah kalian kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku, di mana saja kalian ber-ada’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan عِيْدًا ‘hari raya‘. led adalah tempat kepadanya kembali, dengan kata lain, janganlah kalian jadikan kuburan tempat kembali sehingga kalian datang kepadanya setiap kali kalian ingin bershalawat kepadaku.

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.093 pengikut lainnya.