Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (7)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka!”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Dengan kata lain, ya Allah, sesungguhnya aku memohon keberuntungan kepada-Mu berupa surga dan hendak-nya Engkau menyelamatkanku dari adzab neraka.

Do’a ini mencakup permohonan taufik dan hidayah untuk menuju kepada amal-amal shalih yang dengannya seseorang mengharapkan ridha Allah ta’ala yang merupakan sebab keberuntungan dengan mendapatkan surga. Dan juga permohonan dijauhkan dari berbagai amal kebu-rukan yang merupakan sebab adzab api neraka.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 206-207.


[1]     Abu Dawud, no. 792; dan Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah (2/328).

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (5)

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, syukur kepada-Mu, dan ibadah yang baik untuk-Mu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ذِكْرِكَ ‘menyebut nama-Mu’, mencakup segala macam pujian hingga membaca Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan ilmu agama.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (4)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, ampunilah aku akan (dosaku) yang kulewatkan dan yang kuakhirkan, apa yang kurahasiakan dan yang kutampakkan, yang kulakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui daripada diriku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Engkau”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.

Saya mengatakan, “Ini juga untuk memberikan pelajaran kepada umat. Untuk mengagungkan Allah Ta’ala sehingga tidak akan terputus permohonannya kepada-Nya.”

Ungkapan مَا قَدَّمْتُ ‘apa yang kulewatkan’, yakni berupa berbagai macam dosa.

Ungkapan وَمَا أَخَّرْتُ ‘dan apa yang kuakhirkan’, yakni berupa berbagai ketaatan. Dikatakan, “Jika aku melakukan dosa, maka ampunilah aku dari dosa-dosaku.”[2]

Ungkapan مَا أَسْرَرْتُ ‘yang kulakukan secara berlebihan’, dengan kata lain, dosa dan kesalahan yang paling banyak kulakukan.

Ungkapan أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ‘Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan’. Arti mendahulukan dan mengakhirkan itu adalah mendudukkan segala sesuatu pada tempat dan urutannya dalam penciptaan dan pengu-tamaan. Dan lain-lain selain semua itu sesuai dengan apa yang dibutuhkan hikmah.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 202-203.


[1]     Muslim, (1/534), no. 771.
[2]
    Mirqat Al-Mafatih (2/534). (Korektor).

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (3)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma,

Pensyarah mengatakan, ظُلْمًا كَثِيْرًا ‘banyak menganiaya diriku’ dengan huruf tsa dengan titik tiga di sebagian besar riwayat. Dalam sebagian riwayat dari Muslim كَبِرًا ‘besar’, dengan huruf baa dengan titik satu. Keduanya adalah hasan (bagus). An-Nawawi Rahimahullah dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Seharusnya dengan menggabungkan antara keduanya, sehingga menjadi: ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِرًا ‘kezaliman yang sangat banyak dan besar‘.

Atau kadang-kadang dengan membaca yang satu dan kadang-kadang dengan membaca yang satunya lagi.

Dalam hadits ini dalil yang menunjukkan bahwa manusia tidak akan lepas dari dosa dan keterbatasan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

اِسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا

“Istiqamahlah dan sama sekali kalian tidak akan mampu menghitung pahala istiqamah itu.”[2]

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (2)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan hutang”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Disebutkan di dalamnya bahwa seseorang takjub kepada beliau, “Berapa banyak engkau berlindung kepada Allah dari belitan hutang, wahai Rasulullah?” Sehingga beliau bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Balasan Doa Ghofarollahu Laka_غَفَرَ اللَّهُ لَكَ

وَلَكَ

“Begitu juga kamu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Sirjis Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah dari ucapan Abdullah bin Sirjis Radhiyallahu Anhu,

رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكَلْتُ مَعَهُ مِنْ طَعَامِهِ فَقُلْتُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكَ قَالَ قُلْتُ لِعَبْد الله أَسْتَغْفَرَ لَكَ قَالَ نَعَمْ وَلَكُمْ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الآيَةَ: وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan aku sedang makan dari makanan beliau. Aku mengatakan, ‘Semoga Allah mengampuni dosamu, ya Rasulullah.’ Beliau menjawab, ‘Dan juga dosamu.’ Perawi berkata, ‘Kemudian kukatakan kepada Abdullah, ‘Aku mohonkan ampun untukmu’ Dia menjawab, ‘Ya, dan juga untukmu.’ Kemudian dia membaca ayat: ‘… Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan.’ (QS. Muhammad: 19).[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 479-480.


[1]    HR. Ahmad, (5/82), An-Nasa’i, dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, hlm. 218, no. 421. Tahqiq oleh Dr. Faruq Hammadah.

Syarah Doa Ketika Marah

Dengan kata lain, apa yang harus Anda katakan ketika sedang marah.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Sulaiman bin Shurad Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah ungkapannya Radhiyallahu Anhu,

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ رَسُلولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ وَأَحَدُهُمَا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَت أَوْدَاجَهُ فَقَالَ رَسُلولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ذَهَبَ عَنْهُ مَايَجِدُ

“Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tiba-tiba muncul dua orang yang saling mencerca. Yang satu telah memerah wajahnya dan mengembang urat lehernya. Sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat jika dia mengucapkannya pasti akan hilang apa yang ada padanya itu.'”

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.081 pengikut lainnya.