Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (11)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan (yang berhak untuk disembah), kecuali Engkau Yang Esa, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tiada satu pun yang setara dengan-Nya”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ ‘Yang Maha Esa Mahatunggal’. Tiada perbedaan antara satu dan esa, dengan kata lain, satu oknum yang tiada tandingannya. Lafazh ini tidak disebutkan untuk seseorang dalam penetapan melainkan hanya kepada Allah Ta’ala, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Sempurna dalam semua sifat dan perbuatan-hya.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (10)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, bahwasanya bagi-Mu segala pujian, tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Wahai Pencipta langit dan bumi, Wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan Yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْمَنَّانُ ‘Yang Maha Pemberi’, dengan kata lain, yang banyak memberi. Berasal dari kata minnah yang artinya nikmat. Minnah itu tercela jika datang dari manusia, karena mereka tidak memiliki sesuatu apa pun. Penulis Ash-Shihah berkata, “Memberi di sini, dengan kata lain, memberi nikmat. Dan Al-Mannan adalah satu dari nama-nama Allah Ta’ala.”

Ungkapan يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ‘wahai Pencipta langit dan bumi’ dengan kata lain, Pencipta dan inspiratornya dengan tanpa contoh yang telah ada terlebih dahulu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (8)

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِيْ مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِيْ، وَتَوَفَّنِيْ إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَأَسْأَلُكَ نَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ يَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

“Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang gaib dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa hematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam keadaan gaib dan nampak. Aku mohon kepada-Mu, agar dapat berpegang dengan kalimat hak di waktu ridha atau marah. Aku minta kepada-Mu, agar aku bisa melaksanakan keseder-hanaan dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepada-Mu agar diberi nikmat yang tidak akan habis dan aku minta kepada-Mu agar diberi penyejuk mata yang tak terputus. Aku mohon kepada-Mu, agar aku dapat ridha setelah qadha-Mu. Aku mohon kepada-Mu, kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan yang memperoleh bimbingan dari-Mu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِيْ ‘bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku’, dengan kata lain, jika kehidupan lebih baik bagiku menurut pengetahuan-Mu tentang sesuatu yang gaib. Demikian juga bentuk asli dalam ungkapan وَتَفَوَفَنِي إذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرَالِي ‘dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku’. Dengan kata lain, jika kematian lebih baik bagiku menurut pengetahuan-Mu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (7)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka!”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Dengan kata lain, ya Allah, sesungguhnya aku memohon keberuntungan kepada-Mu berupa surga dan hendak-nya Engkau menyelamatkanku dari adzab neraka.

Do’a ini mencakup permohonan taufik dan hidayah untuk menuju kepada amal-amal shalih yang dengannya seseorang mengharapkan ridha Allah ta’ala yang merupakan sebab keberuntungan dengan mendapatkan surga. Dan juga permohonan dijauhkan dari berbagai amal kebu-rukan yang merupakan sebab adzab api neraka.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 206-207.


[1]     Abu Dawud, no. 792; dan Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah (2/328).

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (5)

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, syukur kepada-Mu, dan ibadah yang baik untuk-Mu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ذِكْرِكَ ‘menyebut nama-Mu’, mencakup segala macam pujian hingga membaca Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan ilmu agama.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (4)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, ampunilah aku akan (dosaku) yang kulewatkan dan yang kuakhirkan, apa yang kurahasiakan dan yang kutampakkan, yang kulakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui daripada diriku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Tuhan Yang berhak disembah, kecuali Engkau”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.

Saya mengatakan, “Ini juga untuk memberikan pelajaran kepada umat. Untuk mengagungkan Allah Ta’ala sehingga tidak akan terputus permohonannya kepada-Nya.”

Ungkapan مَا قَدَّمْتُ ‘apa yang kulewatkan’, yakni berupa berbagai macam dosa.

Ungkapan وَمَا أَخَّرْتُ ‘dan apa yang kuakhirkan’, yakni berupa berbagai ketaatan. Dikatakan, “Jika aku melakukan dosa, maka ampunilah aku dari dosa-dosaku.”[2]

Ungkapan مَا أَسْرَرْتُ ‘yang kulakukan secara berlebihan’, dengan kata lain, dosa dan kesalahan yang paling banyak kulakukan.

Ungkapan أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ‘Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan’. Arti mendahulukan dan mengakhirkan itu adalah mendudukkan segala sesuatu pada tempat dan urutannya dalam penciptaan dan pengu-tamaan. Dan lain-lain selain semua itu sesuai dengan apa yang dibutuhkan hikmah.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 202-203.


[1]     Muslim, (1/534), no. 771.
[2]
    Mirqat Al-Mafatih (2/534). (Korektor).

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (3)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma,

Pensyarah mengatakan, ظُلْمًا كَثِيْرًا ‘banyak menganiaya diriku’ dengan huruf tsa dengan titik tiga di sebagian besar riwayat. Dalam sebagian riwayat dari Muslim كَبِرًا ‘besar’, dengan huruf baa dengan titik satu. Keduanya adalah hasan (bagus). An-Nawawi Rahimahullah dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Seharusnya dengan menggabungkan antara keduanya, sehingga menjadi: ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِرًا ‘kezaliman yang sangat banyak dan besar‘.

Atau kadang-kadang dengan membaca yang satu dan kadang-kadang dengan membaca yang satunya lagi.

Dalam hadits ini dalil yang menunjukkan bahwa manusia tidak akan lepas dari dosa dan keterbatasan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

اِسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا

“Istiqamahlah dan sama sekali kalian tidak akan mampu menghitung pahala istiqamah itu.”[2]

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.086 pengikut lainnya.