Syarah Balasan Doa Ghofarollahu Laka_غَفَرَ اللَّهُ لَكَ

وَلَكَ

“Begitu juga kamu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Sirjis Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah dari ucapan Abdullah bin Sirjis Radhiyallahu Anhu,

رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكَلْتُ مَعَهُ مِنْ طَعَامِهِ فَقُلْتُ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكَ قَالَ قُلْتُ لِعَبْد الله أَسْتَغْفَرَ لَكَ قَالَ نَعَمْ وَلَكُمْ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الآيَةَ: وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan aku sedang makan dari makanan beliau. Aku mengatakan, ‘Semoga Allah mengampuni dosamu, ya Rasulullah.’ Beliau menjawab, ‘Dan juga dosamu.’ Perawi berkata, ‘Kemudian kukatakan kepada Abdullah, ‘Aku mohonkan ampun untukmu’ Dia menjawab, ‘Ya, dan juga untukmu.’ Kemudian dia membaca ayat: ‘… Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan.’ (QS. Muhammad: 19).[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 479-480.


[1]    HR. Ahmad, (5/82), An-Nasa’i, dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, hlm. 218, no. 421. Tahqiq oleh Dr. Faruq Hammadah.

Syarah Doa Ketika Marah

Dengan kata lain, apa yang harus Anda katakan ketika sedang marah.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Sulaiman bin Shurad Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah ungkapannya Radhiyallahu Anhu,

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ رَسُلولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ وَأَحَدُهُمَا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَت أَوْدَاجَهُ فَقَالَ رَسُلولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ذَهَبَ عَنْهُ مَايَجِدُ

“Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tiba-tiba muncul dua orang yang saling mencerca. Yang satu telah memerah wajahnya dan mengembang urat lehernya. Sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat jika dia mengucapkannya pasti akan hilang apa yang ada padanya itu.'”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Sujud Tilawah (2)

اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَضَعْ عَنِّيْ بِهَا وِزْرًا، وَاجْعَلْهَا لِيْ عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ

“Ya Allah, tulislah untukku dengan sujudku pahala di sisi-Mu dan ampunilah dengannya akan dosaku, serta jadikanlah simpanan untukku di sisi-Mu dan terimalah sujudku sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Dawud.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ ‘ya Allah, tulislah untukku’, dengan kata lain, tetapkan bagiku dengannya -yakni sujud- أَجْرًا ‘pahala’.

Ungkapan وَضَعْ ‘dan ampunilah’, dengan kata lain, rontokkanlah.

Ungkapan وِزْرًا adalah ‘dosa’.

Ungkapan ذُخْرًا artinya ‘pundi-pundi’. Namun dikatakan pula pahala. Diulang-ulang karena maqam do’a adalah sesuai jika dipanjang-panjangkan. Dikatakan pula, yang pertama adalah permohonan dituliskannya pahala; sedangkan yang ini adalah permohonan tetapnya pahala itu dan selamat dari keguguran atau pembatalan.

Ungkapan كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ ‘sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Dawud’ ketika “… menyungkur sujud dan bertaubat.” (Shaad: 24). ltulah permohonan penerimaan yang mutlak.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa I’tidal (3)

مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ. اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“(Aku memuji-Mu dengan) pujian sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang di antara keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan Yang layak dipuji dan diagungkan, yang paling berhak dikatakan seorang hamba dan kami seluruhnya adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang da pat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu.”[1]

Shahabat yang merawikan hadits ini adalah Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ‘sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang di antara keduanya’, ini adalah isyarat yang menunjukkan kepada pengakuan ketidakmampuan untuk memenuhi hak pujian setelah habis semua daya untuk itu.

Al-Khaththabi Rahimahullah berkata, “Perkataan ini adalah perumpamaan dan upaya untuk memudahkan pemahaman. Perkataan itu tidak bisa diukur dengan berbagai tolok ukur dan tidak tertampung oleh sejumlah wadah. Akan tetapi, yang dimaksud adalah meningkatkan jumlah. Sehingga jika semua kata itu terukur karena berbentuk benda sehingga memenuhi semua tempat, maka pasti karena banyaknya akan memenuhi semua lapisan langit dan bumi.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa I’tidal (1-2)

سَـمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Wahai Rabb Kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah.”[2]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Rifa’ah bin Rafi’ Az-Zurqi Radhiyallahu Anhu.

Sebagian para ulama berdalil dengan hadits ini, bahwa tasmi’ dan tahmid digabungkan antara keduanya oleh imam dan makmum secara bersama-sama. Sedangkan ungkapan,

إِذَا قَالَ الإِمَامُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

“Jika imam mengatakan: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya’, maka katakanlah oleh kalian رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’.”

Hadits ini adalah hadits yang tidak dimunculkan untuk menjelaskan apa-apa yang diucapkan imam dan makmum dalam menjalankan rukun ini. Akan tetapi, untuk menjelaskan bahwa tahmid makmum diucapkan setelah tasmi’ imam.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Istiftah (5)

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً (ثلاثا) أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ: مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah di waktu pagi dan sore.” (Diucapkan tiga kali). “Aku berlindung kepada Allah dari kesombongan syetan, sastra-nya dan gangguannya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Jabir bin Muth’im Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا ‘Allah sungguh Mahabesar’, dengan kata lain, sungguh Engkau Mahabesar. Dan boleh juga dianggap sebagai hal yang berfungsi sebagai takkid atau mashdar dengan takdir ‘takbir Yang Mahabesar’.

Ungkapan كَثِيْرًا ‘yang banyak’, dengan kata lain, pujian yang sangat banyak.

Ungkapan بُكْرَةً وَأَصِيْلاً ‘di pagi dan sore’, dengan kata Iain, di bagian awal siang dan di bagian akhimya.

Baca pos ini lebih lanjut

E-Book Doa dan Dzikir Seputar Pakaian

Kita bersyukur dan memuji Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kemudian shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, istri, keluarga, sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang dijanjikan, amma ba’du:

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang tidak menyisakan sesuatupun melainkan telah dijelaskan kepada munusia untuk menjalankannya, termasuk dalam memakai dan menanggalkan pakaian, berikut doa dan dzikir seputar pakaian:

1. Doa Ketika Mengenakan Pakaian

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang memberi pakaian ini kepadaku sebagai rezeki daripada-Nya tanpa daya dan kekuatan dariku”.

2. Doa Ketika Mengenakan Pakaian Baru

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.077 pengikut lainnya.