e-Book Doa dan Dzikir Seputar Makan-Minum

Alhamdulillah,  shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga, sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, amma ba’du:

Seperti yang sering disampaikan, sesungguhnya agama Islam adalah agama yang sempurna dalam berbagai sisi kehidupan dan menunjuki umatnya untuk mencapai ridho Allah azza wa jalla, termasuk doa dalam urusan makan dan minum – dalam eBook akan ditampilkan doa dan dzikir seputar makan dan penjelasannya- adapun dilam ini kami tampilkan bacaan doanya saja sebagai berikut:

1. DOA SEBELUM MAKAN

“Jika salah seorang dari kalian makan makanan hendaknya mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ

dengan nama Allah‘,

Sedangkan jika lupa di permulaan makan hendaknya mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

dengan nama Allah di awal dan diakhirnya.‘”

“Barangsiapa yang diberi rezeki Allah berupa makanan, hendaklah membaca:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ

‘Ya Allah, berilah kami berkah di dalamnya dan berilah makanan yang lebih baik darinya‘,

Dan barangsiapa diberi rezeki berupa minuman susu, hendaklah membaca:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

Ya Allah, berilah kami berkah di dalamnya dan tambahkanlah kepada kami (berkah) darinya.‘”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Ketika Pulang dari Bepergian

يُكَبِّرُ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ ثَلَاثَ تَكْبِيرَاتٍ ثُمَّ يَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ، صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Di setiap tempat yang tinggi bertakbir tiga kali, kemudian mengucapkan,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ، صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

‘Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Kami kembali dengan bertaubat, beribadah, dan memuji kepada Tuhan kami. Allah telah menepati janji-Nya membela hamba-Nya, dan mengalahkan golongan musuh dengan sendirian.’”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma.

Disebutkan di dalamnya ungkapannya Radhiyallahu Anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَفَلَ مِنْ غَزْوٍ أَوْ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ…

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Masuk Pasar

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan. Dialah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini Dinar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu.

Dalam hadits itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ…، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

“Barangsiapa masuk ke dalam pasar dengan mengucapkan … maka, Allah catat baginya beribu-ribu kebaikan, di-hapuskan darinya beribu-ribu keburukan dan diangkat baginya beribu-ribu derajat.”

Ungkapan مَنْ دَخَلَ السُّوقَ ‘barangsiapa masuk ke dalam pasar’, yakni pasar mana pun juga.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Masuk Desa atau Kota

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ اْلأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنَ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ. أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا

“Ya Allah, Tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya. Tuhan penguasa tujuh bumi dan apa yang di atasnya. Tuhan Yang menguasai syetan-syetan dan apa yang mereka sesatkan. Tuhan Yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya. Aku mohon kepada-Mu kebaikan desa, kebaikan penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dan kejelekan desa ini, kejelekan penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَمَا أَظْلَلْنَ ‘dan apa yang dinaunginya’, dari kata الْإِظْلاَلُ maksudnya adalah segala sesuatu di langit yang dicakup olehnya. Ibnu Al-Atsir Rahimahullah berkata, “Langit itu memayungi bumi.” Dengan kata lain, langit itu tinggi di atasnya sehingga menjadi seperti payung bagi bumi.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Safar

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ. وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, ‘Mahasuci Tuhan Yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat)’ (QS. Az-Zukhruf: 13-14). Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridhakan-Mu. Ya Allah, mudahkanlah pcrjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan keburukan ketika kembali dalam harta dan keluarga.’ Dan ketika pulang, semua itu dibaca dengan tambahan: ‘Kami semua kembali, kami semua bertaubat, kami semua beribadah. Kepada Rabb kami, kami memuji.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan أَنْتَ الصَّاحِبُ ‘Engkau teman’, dengan kata lain, teman yang selalu dekat. Yang dimaksud dengan itu adalah dampingan Allah Ta’ala kepadanya dengan segala perhatian dan penjagaan. Yang demikian karena manusia adalah makhluk yang harus banyak didampingi dalam perjalanan. Pendampingan itu dibutuhkan agar selalu merasa senang dengan itu, selalu berhati-hati, terjaga dari apa-apa yang membahayakannya, sehingga diingatkan dengan kata itu sebagai tempat bersandar yang paling baik dan penjagaan dari-Nya yang paling sempuma daripada sahabat yang mana pun juga.

Ungkapan الْخَلِيْفَةُ ‘pengganti’, dengan kata lain, yang mengganti orang yang pergi untuk mengamankan segala apa yang diwakilkan kepadanya. Artinya, Engkaulah yang kuharapkan, bersandar kepada-Nya ketika aku tiada di tengah keluargaku, hendaknya Engkau merapikan kekacauan pada mereka, mengobati penyakit mereka, dan menjaga agama dan amanat mereka.

Ungkapan مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ ‘dari kesulitan dalam perjalanan’, dengan kata lain, kerumitannya. Diambil dari akar kata اَلْوَعْثُ yaitu suatu tempat yang datar, banyak tanah berpasir yang melelahkan, dan menyulitkan binatang ternak.

Ungkapan وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ ‘pemandangan yang menyedihkan‘. اَلْكَابَّةُ وَ اَلْكَآبَةُ وَ الْكَأْبُ adalah penampilan yang buruk, putus asa karena rasa sedih. Sedangkan yang dimaksud adalah memohon perlindungan dari segala pemandangan yang menimbulkan rasa sedih.

Ungkapan وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ ‘keburukan ketika kembali’, yaitu kembali dengan sesuatu yang buruk baginya. Kembali dengan sesuatu yang menimpa dirinya dalam perjaianan. Atau apa-apa yang menimpa diri, kerabat, harta, dan apa-apa yang menjadi kesenangannya. Al-munqalab adalah ‘tempat kembali’.

Ungkapan وَإِذَا رَجَعَ ‘dan ketika pulang‘, dari perjalanannya.

Ungkapan قَالَهُنَّ ‘semua itu dibaca’, dengan kata lain, mengucapkan semua kalimat itu وَزَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ ‘dengan tambahan: kami semua kembali’, dengan kata lain, kembali dengan baik. Dari kata آبَ artinya ‘kembali‘, dengan kata lain, ‘kami kembali’; dan تَائِبُوْنَ ‘kami semua bertaubat’ dari segala macam dosa. Serta عَابِدُوْنَ ‘kami semua beribadah’, dengan kata lain, kami mukhlish لِرَبِّنَا ‘kepada Rabb kami’, dan karenanya kami حَامِدُوْنَ ‘kami memuji’ atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kami.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 503-505 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Muslim (2/998), no. 1342.

Syarah Doa Naik Kendaraan

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Dengan nama Allah. Segala puji bagi Allah. ‘Mahasuci Tuhan Yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hart Kiamat) (QS. Az-Zukhruf: 13-14). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Mahabesar (3x), Mahasuci Engkau, ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ayat سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا dengan kata lain, Allah Mahasuci Yang telah menjadikan ini terkendali dan patuh kepada kami.

Ungkapan ayat وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ dengan kata lain mampu, dan juga dikatakan menguasai.

Ungkapan ayat وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ dengan kata lain, kembali kepada-Nya di akhirat, juga berangkat untuk kembali.

Ungkapan إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ‘sesungguhnya aku telah zalim kepada diriku sendiri‘ adalah pengakuan memiliki keterbatasan dan dosa.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 501-502 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Abu Dawud. (3/34). no. 2602; dan At-Tirmidzi, (5/501). no. 3446. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/156).

Syarah Doa Sesudah Makan (2)

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، غَيْرَ [مُكْفِيٍّ وَلاَ] مُوَدَّعٍ، وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا

“Segala puji bagi Allah (aku memuji-Nya) dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah, yang senantiasa dibutuhkan, tidak bisa ditinggalkan, dan diperlukan, ya Tuhan kami.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Umamah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan طَيِّبًا ‘bagus‘, dengan kata lain, murni dan bagus.

Ungkapan غَيْرَ مُكْفِيٍّ ‘yang senantiasa dibutuhkan’, dari kata كِفَايَة ‘diperlukan‘, dengan kata lain, tidak akan habis.

Ungkapan وَلاَ مُوَدَّعٍ ‘dan tidak bisa ditinggalkan’, dengan kata lain, tidak dibiarkan dan sangat dibutuhkan.

Ungkapan رَبَّنَا, ‘Tuhan kami‘, dengan kata lain, wahai Rabb kami.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 444-445 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Al-Bukhari, (6/214), no. 5458; dan At-Tirmidzi dengan lafazhnya, (5/507) no.3456.

Syarah Doa Sebelum Makan (2)

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

“Barangsiapa yang diberi rezeki Allah berupa makanan, hendaklah membaca:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ

‘Ya Allah, berilah kami berkah di dalamnya dan berilah makanan yang lebih baik darinya‘,

Dan barangsiapa diberi rezeki berupa minuman susu, hendaklah membaca:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

Ya Allah, berilah kami berkah di dalamnya dan tambahkanlah kepada kami (berkah) darinya.‘”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Seutuhnya hadits ini adalah ungkapan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma:

دَخَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ عَلَى مَيْمُونَةَ فَجَاءَتْنَا بِإِنَاءٍ فِيهِ لَبَنٌ فَشَرِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا عَلَى يَمِينِهِ وَخَالِدٌ عَلَى شِمَالِهِ فَقَالَ لِي الشَّرْبَةُ لَكَ فَإِنْ شِئْتَ آثَرْتَ بِهَا خَالِدًا فَقُلْتُ مَا كُنْتُ أُوثِرُ عَلَى سُؤْرِكَ أَحَدًا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Sebelum Makan (1)

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

“Jika salah seorang dari kalian makan makanan hendaknya mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ

dengan nama Allah‘,

Sedangkan jika lupa di permulaan makan hendaknya mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

dengan nama Allah di awal dan diakhirnya.‘”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Seutuhnya hadits ini adalah sabda Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai berikut:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهَ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa di Hari Arafah

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Do’a yang paling utama adalah di hari Arafah. Dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku baca pada hari itu adalah:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu’[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ‘Do’a yang paling utama adalah di hari Arafah, yakni karena Allah mengagungkan balasannya dan segera mengabulkannya. Yang dimaksud bahwa sebaik-baik do’a adalah do’a di hari Arafah adalah apa pun do’anya.

Ungkapan وَخَيْرُ مَا قُلْتُ ‘Dan sebaik-baik apa yang ak baca’. Ini adalah isyarat yang menunjukkan sesuatu yang bukan do’a. Maka, tidak perlu menjadikan apa-apa yang kukatakan’ artinya ‘aku berdo’a‘. Bisa saja yang dimaksud adalah dzikir berdasarkan do’a-do’a itu karena sangat disukai adanya pujian kepada Allah sebelum do’a. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 572-573, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    At- Tirmidzi. no. 3585; dan dihasankan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi (3/184); dan Al-Ahadits Ash-Shahihah, (4/6).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.053 pengikut lainnya.