Syarah Dzikir Setelah Salam (3)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan kekuatan, kecuali dari Allah. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah. Kami tidak menyembah, kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujian yang baik. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya sekalipun orang-orang kafir membencinya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ ‘kami tidak menyembah, kecuali kepada-Nya‘, dengan kata lain, ibadah kami hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak melampaui-Nya.

Ungkapan لَهُ النِّعْمَةُ ‘bagi-Nya nikmat‘, dengan kata lain, kenikmatan yang lahir dan batin. Kata nikmat dengan nuun berkasrah adalah segala sesuatu yang diberikan berupa rezeki, harta, dan lain sebagainya. Sedangkan dengan nuun berfathah, maka artinya kesenangan, kebahagiaan, serta kehidupan yang baik.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Setelah Salam (2)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tiada yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tiada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ ‘dan tiada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah‘, dengan kata lain, tak seorang pun yang mampu memberikan apa-apa yang Engkau cegah.

Ungkapan وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ‘tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu‘, dengan kata lain, tidak akan kekayaan akan mencegah orang yang memiliki kekayaan itu dari adzab-Mu.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 217-218.


[1]     Al-Bukhari. (1/225), no. 844; dan Muslim. (1/414), no. 593.

Syarah Dzikir Setelah Salam (1)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Aku mohon ampun kepada Allah (dibaca tiga kali), Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Mahasuci Engkau wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Mahamulia.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Tsauban Al-Hasyimi Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) ‘aku mohon ampun kepada Allah (dibaca tiga kali), dengan kata lain, tiga kali pengucapan. Dikatakan kepada Al-Auza’i -dia adalah salah seorang perawi hadits ini, “Bagaimana istighfar itu?” Dia menjawab, “Dengan mengatakan: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ ‘aku mohon ampun kepada Allah, aku mohon ampun kepada Allah‘.

Ungkapan أَنْتَ السَّلاَمُ ‘Engkau pemberi keselamatan‘, dengan kata lain, Yang selamat dari berbagai macam aib, kecelakaan, perubahan, dan berbagai macam bencana. السَّلاَمُ adalah nama di antara nama-nama Allah Ta’ala. Maka, Allah adalah As-Salam. Dia menyifati Dzat-Mya sendiri dengan sifat itu bahwa Dia selamat dari berbagai macam kekurangan atau Dia suka memberi keselamatan.

Baca pos ini lebih lanjut

Ucapan yang Paling Dicintai Allah

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجِسْرِيِّ مِنْ عَنَزَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami; Yahya bin Bukair menuturkan kepada kami dari Syu’bah dari al-Jurairi dari Abu Abdillah al-Jisri dari ‘Anazah dari Abdullah bin Shamit dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu ucapan yang paling dicintai oleh Allah?”. Maka aku katakan, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku ucapan yang paling dicintai Allah itu.” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah adalah ‘Subhanallahi wa bihamdih’ (Maha suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya).” (HR. Muslim [4911] as-Syamilah)

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنْ رَبِيعِ بْنِ عُمَيْلَةَ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (11)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan (yang berhak untuk disembah), kecuali Engkau Yang Esa, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tiada satu pun yang setara dengan-Nya”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ ‘Yang Maha Esa Mahatunggal’. Tiada perbedaan antara satu dan esa, dengan kata lain, satu oknum yang tiada tandingannya. Lafazh ini tidak disebutkan untuk seseorang dalam penetapan melainkan hanya kepada Allah Ta’ala, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Sempurna dalam semua sifat dan perbuatan-hya.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (10)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, bahwasanya bagi-Mu segala pujian, tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Wahai Pencipta langit dan bumi, Wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan Yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْمَنَّانُ ‘Yang Maha Pemberi’, dengan kata lain, yang banyak memberi. Berasal dari kata minnah yang artinya nikmat. Minnah itu tercela jika datang dari manusia, karena mereka tidak memiliki sesuatu apa pun. Penulis Ash-Shihah berkata, “Memberi di sini, dengan kata lain, memberi nikmat. Dan Al-Mannan adalah satu dari nama-nama Allah Ta’ala.”

Ungkapan يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ‘wahai Pencipta langit dan bumi’ dengan kata lain, Pencipta dan inspiratornya dengan tanpa contoh yang telah ada terlebih dahulu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (8)

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِيْ مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِيْ، وَتَوَفَّنِيْ إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَأَسْأَلُكَ نَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ يَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

“Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang gaib dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa hematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam keadaan gaib dan nampak. Aku mohon kepada-Mu, agar dapat berpegang dengan kalimat hak di waktu ridha atau marah. Aku minta kepada-Mu, agar aku bisa melaksanakan keseder-hanaan dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepada-Mu agar diberi nikmat yang tidak akan habis dan aku minta kepada-Mu agar diberi penyejuk mata yang tak terputus. Aku mohon kepada-Mu, agar aku dapat ridha setelah qadha-Mu. Aku mohon kepada-Mu, kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan yang memperoleh bimbingan dari-Mu.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِيْ ‘bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku’, dengan kata lain, jika kehidupan lebih baik bagiku menurut pengetahuan-Mu tentang sesuatu yang gaib. Demikian juga bentuk asli dalam ungkapan وَتَفَوَفَنِي إذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرَالِي ‘dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku’. Dengan kata lain, jika kematian lebih baik bagiku menurut pengetahuan-Mu.

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.093 pengikut lainnya.