Syarah Doa Ketika Mendengar Lolongan Anjing

إِذَا سَمِعْتُمْ نُبَاحَ الْكِلاَبِ وَنَهِيْقَ الْحَمِيْرِ بِاللَّيْلِ فَتَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْهُنَّ فَإِنَّهُنَّ يَرَيْنَ مَا لاَ تَرَوْنَ

“Apabila kamu mendengar anjing menggonggong dan mendengar keledai meringkik, mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya mereka melihat apa yang tidak kamu lihat.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma.

Dikaitkannya permohonan perlindungan jika mendengar lolongan anjing dan suara keledai di malam hari, karena malam adalah waktu menyebarnya syetan. Oleh sebab itu, sabda beliau فَإِنَّهُنَّ يَرَيْنَ ‘sesungguhnya mereka melihat‘ dari golongan syetan dan jin. مَا لاَ تَرَوْنَ ‘apa yang tidak kamu lihat‘. Sedangkan jika di siang hari mungkin lolongan dan suara keledai itu biasa karena alasan lain. Sekalipun alasan ini ada di malam hari, umumnya pada malam hari mereka mampu melihat syetan. Hukum selalu berputar pada keumuman. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 545.


[1]     Abu Dawud (4/327) no. 5103; Ahmad, (3/306) dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud, (3/961)

Syarah Doa di Hari Arafah

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Do’a yang paling utama adalah di hari Arafah. Dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku baca pada hari itu adalah:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu’[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ‘Do’a yang paling utama adalah di hari Arafah, yakni karena Allah mengagungkan balasannya dan segera mengabulkannya. Yang dimaksud bahwa sebaik-baik do’a adalah do’a di hari Arafah adalah apa pun do’anya.

Ungkapan وَخَيْرُ مَا قُلْتُ ‘Dan sebaik-baik apa yang ak baca’. Ini adalah isyarat yang menunjukkan sesuatu yang bukan do’a. Maka, tidak perlu menjadikan apa-apa yang kukatakan’ artinya ‘aku berdo’a‘. Bisa saja yang dimaksud adalah dzikir berdasarkan do’a-do’a itu karena sangat disukai adanya pujian kepada Allah sebelum do’a. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 572-573, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    At- Tirmidzi. no. 3585; dan dihasankan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi (3/184); dan Al-Ahadits Ash-Shahihah, (4/6).

Doa Minta Hujan

اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

“Ya Allah! Berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan secepatnya, tidak ditunda-tunda.” (HR. Abu Dawud, lihat Shahih Abu Dawud 1/216)

اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah! Berilah kami hujan. Ya Allah, turunkan hujan pada kami. Ya Allah! Hujanilah kami” (Muttafaq alaih)

اَللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِي بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

“Ya Allah! Berilah hujan kepada hamba-hambaMu, ternak-ternakMu, berilah rahmatMu dengan merata, dan suburkan tanahMu yang tandus.” (HR. Abu Dawud, lihat Shahih Abu Dawud 1/218)


Sumber:
Hisnul Muslimoleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani

Lihat pula: eBook Sholat bab Sholat Istisqo’

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.077 pengikut lainnya.