Keutamaan Dzikir Pagi dan Petang

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، والصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه dengan jalan marfu’ [Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda]:

لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari shalat Shubuh hingga terbit matahari lebih aku sukai dari memerdekakan empat orang budak keturunan Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari shalat ‘Ashar hingga terbenam matahari lebih aku sukai dari memerdekakan empat orang budak.” [1]

Disalin dari Terjemah Hishnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, Hal. 78.


[1]     HR. Abu Daud, no. 3667, dihasankan oleh al-Albani, Shahih Abu Daud: 2/698.

Syarah Keutamaan Shalawat Atas Nabi (5)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِيَ حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

”Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, ‘Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku sehingga aku membalas salam(nya)’.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Al Baihaqi Rahimahullah berkata, “Para nabi setelah diwafatkan dikembalikan kepada mereka ruh mereka sehingga mereka hidup di sisi Rabb mereka.”

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Shalawat Atas Nabi (4)

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلَّهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِيْنَ فِي اْلأَرْضِ يُبَلِّغُوْنِي مِنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ

“Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang senantiasa berkeliling di bumi yang akan menyampaikan salam kepadaku dari umatku.'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan سَيَّاحِيْنَ ‘yang senantiasa berkeliling‘. Sifat mubalaghah untuk para malaikat. Dikatakan سَاحَ فِي الأَرْضِ jika pergi di atasnya. Asalnya dari kata سيح yang artinya air yang mengalir dengan rata di muka bumi.

Dalam hadits ini perintah untuk banyak bershalawat kepada beliau, mengagungkan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga mengagungkan beliau karena posisinya sehingga dikendalikan para malaikat yang mulia untuk perkara yang agung ini.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 531-532.


[1]     An-Nasai. 3/43; dan Al-Hakim. (2/421), dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i (1/274).

Doa Mengusir Setan dan Segala Gangguannya (2)

الأَذَانُ

“Mengucapkan adzan.”

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Di antara apa-apa yang bisa untuk mengusir syetan adalah adzan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda,

إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قُضِيَ التَّأْذِيْنَ أَقْبَلَ، فَإِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ، أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ التَّثْوِيبُ، أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ، يَقُولُ اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا، لِـمَا لَـمْ يَكُنْ يَذْكُرُ، حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

“Jika diserukan untuk menunaikan shalat, maka syetan berbalik dan dia memiliki kentut sehingga tidak mendengar adzan. Jika adzan telah usai dikumandangkan, dia berbalik menghadap. Jika dikumandangkan iqamah untuk shalat, dia berbalik; jika iqamah usai dikumandangkan dia berbalik menghadap. Sehingga membuat betikan di antara orang dan jiwanya. Sehingga dia mengatakan, ‘Ingat demikian dan ingat demikian, yang sebelumnya ia tidak mengingat apa-apa, hingga orang itu tidak tahu berapa rakaat dia telah menunaikan shalat.'”[1]

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Keutamaan Membesuk Orang Sakit

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِي خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika seseorang berkunjung kepada saudaranya yang Muslim, (yang sedang menderita sakit), maka seakan-akan dia berjalan-jalan di daerah buah-buahan yang siap dipanen di surga hingga dia duduk. Apabila sudah duduk, maka dituruni rahmat dengan deras. Apabila dia berkunjung di pagi hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga sore hari. Apabila dia berkunjung di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga pagi hari.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan خِرَافَةِ dengan huruf kha berkasrah dan ber-fathah, artinya surga dan buah-buahannya yang siap dipetik. Dalam kamus, اَلْـخُرْفَةُ dengan huruf kha berdhammah. اَلْـمُخْتَرَفُ: اَلْـمُجْتَنَى artinya ‘sudah bisa dipetik‘, seperti خِرَافَة. Dalam sebagian riwayat yang lain, فِي خُرْفَةِ الْـجَنَّةِ.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Menyebarkan Salam (2)

ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ اْلإِيْمَانَ: اْلإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ، وَاْلإِنْفَاقُ مِنَ اْلإِقْتَارِ

“Ada tiga perkara, barangsiapa yang bisa mengerjakannya, maka sungguh telah mengumpulkan keimanan: berlaku adil terhadap dirimu sendiri, menyebarkan salam ke seluruh manusia, dan berinfak dalam keadaan fakir.”[1]

Ini adalah atsar dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan اْلإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ‘berlaku adil terhadap dirimu sendiri’. Inilah yang pertama. Berlaku adil berkonsekuensi menunaikan semua hak Allah, semua yang Dia perintahkan, menjauhi segala yang Dia larang, menunaikan kepada manusia semua hak mereka, tidak meminta apa-apa yang bukan miliknya, dan juga harus berlaku adil dengan tidak menjerumuskan semua itu ke dalam keburukan sama sekali.

Baca pos ini lebih lanjut

Keutamaan Bershalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم

1. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

‘Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.'”[1]

2. Dari Abud Darda رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

‘Barangsiapa bershalawat kepadaku sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, niscaya ia akan mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat.'”[2]

3. Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إنَّ للهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ يُبَلِّغُونَنِي مِنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ

‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki para Malaikat yang berkeliling di muka bumi, mereka menyampaikan kepadaku ucapan salam dari umatku.”‘[3]

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.081 pengikut lainnya.