Doa Mengusir Setan dan Segala Gangguannya (3)

الأَذْكَارُ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ

“Dzikir-dzikir dan membaca Al-Qur’an.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya syetan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah”[1]

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Sujud (2)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Mahasuci Engkau, ya Allah! Rabb kami, dan dengan pujianku pada-Mu. Ya Allah! Ampunilah dosaku.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Al-Bukhari Rahimahullah mengatur bab dan memasukkan hadits ini ke dalam bab do’a dalam ruku’.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Ruku’ (5)

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Mahasuci (Allah) yang memiliki keperkasaan, kerajaan, kebesaran, dan keagungan.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Auf bin Malik Al-Asyja’i Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ذِي الْجَبَرُوْتِ “Yang memiliki keperkasaan’, الْجَبَرُوْت berasal dari kata: الْجَبَرَ yaitu ‘paksaan’. Kata ini adalah satu di antara sifat-sifat Allah Ta’ala dan dari kata ini kata yang lain: الْجَابِر. Yang artinya yang memaksa para hamba untuk melakukan apa yang diinginkan, baik berupa perintah atau larangan.

Ungkapan اْلمَلَكُوْتِ ‘kekuasaan’, dari kata الْمُلْك yang artinya ذِي الْمَلَكَوْت ‘Pemilik kekuasaan’: Pemilik kerajaan segala sesuatu.

Bentuk shighah fa’alut untuk mubalaghah ‘sangat’.

Ungkapan وَالْكِبْرِيَاءِ ‘kebesaran’, dengan kata lain, Mahasuci Dzat Yang memiliki kebesaran, dengan kata lain, keagungan dan kekuasaan. Dikatakan, “Dia adalah ungkapan tentang kesempurnaan dzat, kesempurnaan wujud, dan tidak mungkin disifati dengannya selain Allah Ta’ala.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 160, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Abu Dawud, (1/230), no. 873; An-Nasa’i, (2/191); dan Ahmad, (6/24). Isnadnya hasan.

Syarah Doa Setelah Ada Petir

Dengan kata lain, do’a yang harus dibaca ketika terjadi petir.

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ، وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

“Mahasuci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya dan begitu pula para malaikat, karena takut kepada-Nya.”[1]

Abdullah  bin Az-Zubair Radhiyallahu Anhuma jika mendengar petir langsung berhenti berbicara dan berucap:

x(سُبْحَانَ الَّذِيْ (يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ، وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

“Mahasuci Dzat Yang disucikan (guruh dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya).” (Ar-Ra’d: 13)

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Ketika Ada Angin (1)

Dengan kata lain, do’a yang dibaca ketika ada hembusan angin.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

” Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya  dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Hadits ini seutuhnya adalah sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

الرِّيحُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ قَالَ سَلَمَةُ فَرَوْحُ اللَّهِ تَأْتِي بِالرَّحْمَةِ وَتَأْتِي بِالْعَذَابِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَلَا تَسُبُّوهَا وَسَلُوا اللَّهَ خَيْرَهَا وَاسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا

“Angin adalah sebagian dari rahmat Allah. Datang dengan membawa rahmat dan datang pula dengan adzab. Jika kalian melihatnya, maka janganlah kalian mencacinya dan mohonlah kebaikannya kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari keburukannya.”

Ungkapan الرِّيحُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ‘angin adalah sebagian dari rahmat Allah’, dengan kata lain, sebagian dari rahmat Allah Ta’ala untuk para hamba-Mya.

Baca pos ini lebih lanjut

Anjuran Berdzikir

TEKS HADITS

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رجلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جَامِعٌ؟ قَالَ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Abdullah bin Busr, beliau berkata, seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak atas kami, maka apakah ada sebuah amal ibadah menyeluruh yang dapat kami amalkan?”. Beliau pun bersabda, “Hendaknya senantiasa lisanmu basah dengan berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla“. (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan lafazh seperti ini, dan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan makna yang serupa. Dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan Gharib“.)[1]

PENJELASAN HADITS

1. Pertanyaan seorang sahabat ini merupakan satu contoh dari sekian contoh yang banyak dalam pertanyaan-pertanyaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbagai macam perkara agama. Semua itu menunjukkan keutamaan, kepandaian, ketanggapan, dan semangat mereka dalam menginginkan dan memperoleh setiap kebaikan. Dan maksud dari syariat-syariat yang telah banyak adalah ibadah-ibadah yang sunnah. Sahabat ini ingin mengetahui satu jalan dari jalan-jalan kebaikan yang hendak ia khususkan dan lebih perhatikan agar ia mendapatkan pahala labih dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun hal-hal yang wajib, maka seluruhnya dibutuhkan. Dan wajib bagi setiap Muslim untuk melakukan seluruhnya. Dalam hadits ini Nabi menjawab agar sahabat tersebut konsisten dengan berdzikir kepada Allah, dan menganjurkan agar lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah. Dan dzikir, ada dua macam; umum dan khusus. Dzikir yang bersifat umum adalah seperti; melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, mempelajari dan mengajarkan ilmu, memuji Allah, menyucikan Allah dari segala yang tidak layak bagi-Nya. Adapaun dzikir khusus, maka seperti memuji-Nya dengan berhamdalah, mengucapkan laa ilaaha illallaah, bertakbir, dan semisalnya, yang semua ini diiringi dengan berdoa kepada Allah. Maka sering diucapkan kata “Dzikir dan Doa”. Amalan ini mudah bagi seseorang, namun besar pahalanya di sisi Allah. Dan telah tetap sebuah hadits di dalam Ash-Shahihain, dan hadits ini merupakan hadits yang paling akhir dalam Shahih Al-Bukhari, yaitu sabdanya:

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

Dua kata yang dicintai Allah, ringan diucapkan oleh lisan, berat timbangannya dalam mizan. Dua kalimat tersebut adalah: “Subhanallahi wa bihamdihi dan Subhanallahil ‘Azhim“.

2.  Pelajaran dan faidah hadits:

a. Semangat para sahabat radhiallahu ‘anhum dalam bertanya-tanya tentang perkara agama mereka.

b. Keutamaan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan konsisiten di dalamnya.


[1] HR Ahmad (4/188), At-Tirmidzi (3375), Ibnu Majah (3793), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (814). Dan hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (2/95/1491) dan kitab-kitab beliau lainnya.

Disalin dari Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in wa Tatimmatul Khamsin, edisi Indonesia: Penjelasan 50 Hadits Inti Ajaran Islam karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr -hafizhahullah-,pada hadits ke-50.

Mengenal Jenis Dzikir

Ada pelajaran yang amat menarik dari Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab beliau Al Wabilush Shoyyib, juga kitab beliau lainnya yaitu Madarijus Salikin dan Jala-ul Afham dibahas mengenai berbagai jenis dzikir. Dari situ kita dapat melihat bahwa dzikir tidak terbatas pada bacaan dzikir seperti tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah) dan takbir (Allahu akbar) saja. Ternyata dzikir itu lebih luas dari itu. Mengingat-ingat nikmat Allah juga termasuk dzikir. Begitu pula mengingat perintah Allah sehingga seseorang segera menjalankan perintah tersebut, itu juga termasuk dzikir. Selengkapnya silakan simak ulasan berikut yang kami sarikan dari penjelasan beliau rahimahullah.

Dzikir itu ada tiga jenis:

Jenis Pertama:

Dzikir dengan mengingat nama dan sifat Allah serta memuji, mensucikan Allah dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

Dzikir jenis ini ada dua macam:

Macam pertama: Sekedar menyanjung Allah seperti mengucapkan “subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar”, “subhanallah wa bihamdih”, “laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir”.

Dzikir dari macam pertama ini yang utama adalah apabila dzikir tersebut lebih mencakup banyak sanjungan dan lebih umum seperti ucapan “subhanallah ‘adada kholqih” (Maha suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya). Ucapan dzikir ini lebih afdhol dari ucapan “subhanallah” saja.

Macam kedua: Menyebut konsekuensi dari nama dan sifat Allah atau sekedar menceritakan tentang Allah. Contohnya adalah seperti mengatakan, “Allah Maha Mendengar segala yang diucapkan hamba-Nya”, “Allah Maha Melihat segala gerakan hamba-Nya, “tidak mungkin perbuatan hamba yang samar dari penglihatan Allah”, “Allah Maha menyayangi hamba-Nya”, “Allah kuasa atas segala sesuatu”, “Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya.”

Dan sebaik-baik dzikir jenis ini adalah dengan memuji Allah sesuai dengan yang Allah puji pada diri-Nya dan memuji Allah sesuai dengan yang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji-Nya, yang di mana ini dilakukan tanpa menyelewengkan, tanpa menolak makna, tanpa menyerupakan atau tanpa memisalkan-Nya dengan makhluk.

Jenis Kedua: Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.067 pengikut lainnya.