Syarah Doa Sujud (2)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Mahasuci Engkau, ya Allah! Rabb kami, dan dengan pujianku pada-Mu. Ya Allah! Ampunilah dosaku.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Al-Bukhari Rahimahullah mengatur bab dan memasukkan hadits ini ke dalam bab do’a dalam ruku’.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Ruku’ (5)

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Mahasuci (Allah) yang memiliki keperkasaan, kerajaan, kebesaran, dan keagungan.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Auf bin Malik Al-Asyja’i Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan ذِي الْجَبَرُوْتِ “Yang memiliki keperkasaan’, الْجَبَرُوْت berasal dari kata: الْجَبَرَ yaitu ‘paksaan’. Kata ini adalah satu di antara sifat-sifat Allah Ta’ala dan dari kata ini kata yang lain: الْجَابِر. Yang artinya yang memaksa para hamba untuk melakukan apa yang diinginkan, baik berupa perintah atau larangan.

Ungkapan اْلمَلَكُوْتِ ‘kekuasaan’, dari kata الْمُلْك yang artinya ذِي الْمَلَكَوْت ‘Pemilik kekuasaan’: Pemilik kerajaan segala sesuatu.

Bentuk shighah fa’alut untuk mubalaghah ‘sangat’.

Ungkapan وَالْكِبْرِيَاءِ ‘kebesaran’, dengan kata lain, Mahasuci Dzat Yang memiliki kebesaran, dengan kata lain, keagungan dan kekuasaan. Dikatakan, “Dia adalah ungkapan tentang kesempurnaan dzat, kesempurnaan wujud, dan tidak mungkin disifati dengannya selain Allah Ta’ala.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 160, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Abu Dawud, (1/230), no. 873; An-Nasa’i, (2/191); dan Ahmad, (6/24). Isnadnya hasan.

Syarah Doa Setelah Ada Petir

Dengan kata lain, do’a yang harus dibaca ketika terjadi petir.

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ، وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

“Mahasuci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya dan begitu pula para malaikat, karena takut kepada-Nya.”[1]

Abdullah  bin Az-Zubair Radhiyallahu Anhuma jika mendengar petir langsung berhenti berbicara dan berucap:

x(سُبْحَانَ الَّذِيْ (يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ، وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

“Mahasuci Dzat Yang disucikan (guruh dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya).” (Ar-Ra’d: 13)

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Ketika Ada Angin (1)

Dengan kata lain, do’a yang dibaca ketika ada hembusan angin.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

” Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya  dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Hadits ini seutuhnya adalah sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

الرِّيحُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ قَالَ سَلَمَةُ فَرَوْحُ اللَّهِ تَأْتِي بِالرَّحْمَةِ وَتَأْتِي بِالْعَذَابِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَلَا تَسُبُّوهَا وَسَلُوا اللَّهَ خَيْرَهَا وَاسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا

“Angin adalah sebagian dari rahmat Allah. Datang dengan membawa rahmat dan datang pula dengan adzab. Jika kalian melihatnya, maka janganlah kalian mencacinya dan mohonlah kebaikannya kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari keburukannya.”

Ungkapan الرِّيحُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ‘angin adalah sebagian dari rahmat Allah’, dengan kata lain, sebagian dari rahmat Allah Ta’ala untuk para hamba-Mya.

Baca pos ini lebih lanjut

Anjuran Berdzikir

TEKS HADITS

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رجلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيْنَا، فَبَابٌ نَتَمَسَّكُ بِهِ جَامِعٌ؟ قَالَ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Abdullah bin Busr, beliau berkata, seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak atas kami, maka apakah ada sebuah amal ibadah menyeluruh yang dapat kami amalkan?”. Beliau pun bersabda, “Hendaknya senantiasa lisanmu basah dengan berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla“. (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan lafazh seperti ini, dan dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan makna yang serupa. Dan At-Tirmidzi berkata, “Hasan Gharib“.)[1]

PENJELASAN HADITS

1. Pertanyaan seorang sahabat ini merupakan satu contoh dari sekian contoh yang banyak dalam pertanyaan-pertanyaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbagai macam perkara agama. Semua itu menunjukkan keutamaan, kepandaian, ketanggapan, dan semangat mereka dalam menginginkan dan memperoleh setiap kebaikan. Dan maksud dari syariat-syariat yang telah banyak adalah ibadah-ibadah yang sunnah. Sahabat ini ingin mengetahui satu jalan dari jalan-jalan kebaikan yang hendak ia khususkan dan lebih perhatikan agar ia mendapatkan pahala labih dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun hal-hal yang wajib, maka seluruhnya dibutuhkan. Dan wajib bagi setiap Muslim untuk melakukan seluruhnya. Dalam hadits ini Nabi menjawab agar sahabat tersebut konsisten dengan berdzikir kepada Allah, dan menganjurkan agar lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah. Dan dzikir, ada dua macam; umum dan khusus. Dzikir yang bersifat umum adalah seperti; melakukan shalat, membaca Al-Qur’an, mempelajari dan mengajarkan ilmu, memuji Allah, menyucikan Allah dari segala yang tidak layak bagi-Nya. Adapaun dzikir khusus, maka seperti memuji-Nya dengan berhamdalah, mengucapkan laa ilaaha illallaah, bertakbir, dan semisalnya, yang semua ini diiringi dengan berdoa kepada Allah. Maka sering diucapkan kata “Dzikir dan Doa”. Amalan ini mudah bagi seseorang, namun besar pahalanya di sisi Allah. Dan telah tetap sebuah hadits di dalam Ash-Shahihain, dan hadits ini merupakan hadits yang paling akhir dalam Shahih Al-Bukhari, yaitu sabdanya:

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

Dua kata yang dicintai Allah, ringan diucapkan oleh lisan, berat timbangannya dalam mizan. Dua kalimat tersebut adalah: “Subhanallahi wa bihamdihi dan Subhanallahil ‘Azhim“.

2.  Pelajaran dan faidah hadits:

a. Semangat para sahabat radhiallahu ‘anhum dalam bertanya-tanya tentang perkara agama mereka.

b. Keutamaan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan konsisiten di dalamnya.


[1] HR Ahmad (4/188), At-Tirmidzi (3375), Ibnu Majah (3793), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (814). Dan hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (2/95/1491) dan kitab-kitab beliau lainnya.

Disalin dari Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in wa Tatimmatul Khamsin, edisi Indonesia: Penjelasan 50 Hadits Inti Ajaran Islam karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr -hafizhahullah-,pada hadits ke-50.

Mengenal Jenis Dzikir

Ada pelajaran yang amat menarik dari Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam kitab beliau Al Wabilush Shoyyib, juga kitab beliau lainnya yaitu Madarijus Salikin dan Jala-ul Afham dibahas mengenai berbagai jenis dzikir. Dari situ kita dapat melihat bahwa dzikir tidak terbatas pada bacaan dzikir seperti tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah) dan takbir (Allahu akbar) saja. Ternyata dzikir itu lebih luas dari itu. Mengingat-ingat nikmat Allah juga termasuk dzikir. Begitu pula mengingat perintah Allah sehingga seseorang segera menjalankan perintah tersebut, itu juga termasuk dzikir. Selengkapnya silakan simak ulasan berikut yang kami sarikan dari penjelasan beliau rahimahullah.

Dzikir itu ada tiga jenis:

Jenis Pertama:

Dzikir dengan mengingat nama dan sifat Allah serta memuji, mensucikan Allah dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

Dzikir jenis ini ada dua macam:

Macam pertama: Sekedar menyanjung Allah seperti mengucapkan “subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar”, “subhanallah wa bihamdih”, “laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir”.

Dzikir dari macam pertama ini yang utama adalah apabila dzikir tersebut lebih mencakup banyak sanjungan dan lebih umum seperti ucapan “subhanallah ‘adada kholqih” (Maha suci Allah sebanyak jumlah makhluk-Nya). Ucapan dzikir ini lebih afdhol dari ucapan “subhanallah” saja.

Macam kedua: Menyebut konsekuensi dari nama dan sifat Allah atau sekedar menceritakan tentang Allah. Contohnya adalah seperti mengatakan, “Allah Maha Mendengar segala yang diucapkan hamba-Nya”, “Allah Maha Melihat segala gerakan hamba-Nya, “tidak mungkin perbuatan hamba yang samar dari penglihatan Allah”, “Allah Maha menyayangi hamba-Nya”, “Allah kuasa atas segala sesuatu”, “Allah sangat bahagia dengan taubat hamba-Nya.”

Dan sebaik-baik dzikir jenis ini adalah dengan memuji Allah sesuai dengan yang Allah puji pada diri-Nya dan memuji Allah sesuai dengan yang Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji-Nya, yang di mana ini dilakukan tanpa menyelewengkan, tanpa menolak makna, tanpa menyerupakan atau tanpa memisalkan-Nya dengan makhluk.

Jenis Kedua: Baca pos ini lebih lanjut

Doa dan Dzikir Bangun Tidur

اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah, yang telah meng-hidupkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan.” [1]

اَلـْحـَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan mengembalikan ruhku kepadaku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya.” [2]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ

“Tiada Tuhan yang haq selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang haq selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Wahai, Tuhanku! Ampunilah dosaku.” [3]

Membaca Ayat 190 dan 200 Surat Ali Imran: Baca pos ini lebih lanjut

Dzikir dan Doa Sebelum Tidur

Ini adalah lanjutan Dzikir dan Doa Sebelum Tidur


Dari al-Bara’ bin Azib رضي الله عنه, ia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepadaku: ‘Apabila engkau hendak tidur, berwudhu’lah sebagaimana wudhu’-mu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah di atas bagian tubuh yang kanan, lalu bacalah:

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

‘Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku ke-pada-Mu. Karena mengharap dan takut kepada-Mu. Sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.'” [1]

بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

“Dengan Nama-Mu (aku tidur), wahai Rabb-ku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan Nama-Mu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau mencabut nyawaku, maka berikanlah rahmat-Mu padanya. Dan apabila Engkau membiarkan hidup, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.[2]

اَللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِيْ وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan diriku, dan Engkau-lah yang akan mematikannya. Mati dan hidupnya hanya milik-Mu. Apabila Engkau menghidupkannya, maka peliharalah. Apabila Engkau mematikannya, maka ampunilah. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ke-selamatan kepada-Mu.” [3]

اَللَّهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

“Ya Allah, lindungilah diriku dari siksaan-Mu pada hari ketika Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” [4]

بِاسْـمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

“Dengan Nama-Mu, ya Allah, aku mati dan aku hidup.” [5]

سُبْحَانَ اللهِ (٣٣×) الْـحَمْدُ اللهِ (٣٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٣٤×)ء

“Mahasuci Allah.” (33x) “Segala puji bagi Allah.” (33x) “Allah Mahabesar.” (34x) [6]


[1] Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila engkau mati pada malam itu, maka engkau mati diatas fitrah (Islam). Dan jadikanlah kalimat (dzikir) itu sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan.” (HR. Al-Bukhari no. 247, 6311, 6313, 6315 dan 7488, Muslim no. 2710, Abu Dawud no. 5046, at-Tirmidzi no. 3394, dan Ahmad IV/290).
[2]
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila seseorang di antara kalian bangkit dari tempat tidurnya kemudian ingin kembali lagi, hendaknya ia mengibaskan ujung kainnya 3x dan menyebut Nama Allah, karena ia tidak tahu apa yang ditinggalkannya di atas tempat tidur selelah ia bangkit. Apabila ia ingin berbaring, maka hendaklah ia membaca: ‘Bismika Rabbi…’“(A-Hadits). HR. Al-Bukhari no. 6320, Muslim no. 2714, at-Tirmidzi no. 3401, dan an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 796.
[3]
HR. Muslim no. 2712 (60), Ahmad II/79, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 721.
[4]
Adalah Rasulullah apabila hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya, kemudian membaca: “Allaahumma Qinii …” (al-Hadits). HR. Al-Bukhari, Shahih al-Adabil Mufrad no. 921 dari al-Bara’ رضي الله عنه, at-Tirmidzi no. 3398 dari Hudzaifah رضي الله عنه dan Abu Dawud no. 5045 dari Hafshah رضي الله عنها. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2754.
[5]
HR. Al-Bukhari no. 6312 dan 6324 dari Hudzaifah رضي الله عنه, Muslim no. 2711 dari al-Bara’ رضي الله عنه.a
[6]
HR. Al-Bukhari 7/71 dengan Fat-hul Baari dan Muslim 4/2091, Dzikir ini kami kutip dari Hisnul Muslim Karya Syaikh Sa’id bin Ali al-Qahthani. Dzikir ini adalah dzikir yang diajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم kepada putrinya Fatimah رضي الله عنها dan Ali رضي الله عنه. ~Ibnu Majjah

Disalin dari Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dengan sedikit perubahan urutan.

Doa Mengusir Syaitan

1. Minta perlindungan kepada Allah dari setan dengan membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk” [1]

atau:

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَـمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui dari gangguan syaitan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya dan syairnya yang tercela” [2]

2. Mengumandangkan Adzan.[3]
3. Membaca dzikir tertentu yang sudah diterangkan dalam hadits dan membaca Al-Qur’an[4]


[1] Berdasarkan ayat-ayat dalam al-Qur’an (QS: al-A’raaf: 200, QS: al-Mu’minuun:97-98, QS: Fushshilat: 36) dan Hadits-hadits Nabi صلي الله عليه وسلم yang shahih
[2]
HR. Abu Dawud no. 775 dan at-Tirmidzi no. 242 dan lainnya. Shahih
[3]
HR. Muslim 1/291, Al-Bukhari 1/151
[4]
Rasul صلي الله عليه وسلم bersabda: “Jangan jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 1/539). Sebagian hal yang dapat mengusir setan adalah bacaan dan dzikir di waktu pagi dan sore (yang dilakukan oleh Rasul صلي الله عليه وسلم), bacaan akan tidur dan bangun daripadanya, masuk dan keluar dari rumah, masuk masjid dan keluar daripadanya, membaca ayat Kursi ketika akan tidur, dua ayat yang terakhir dari surah Al-Baqarah dan orang yang membaca: Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, seratus kali, maka akan menjadi benteng dari setan pada hari itu. Begitu juga adzan.

Sumber:
1. Hisnul Muslim oleh Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
2. Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Doa Ziarah Kubur

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ [وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ] أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penduduk kampung (Barzakh) dari orang-orang mukmin dan muslim. Sesungguhnya kami –insya Allah- akan menyusulkan, kami mohon kepada Allah untuk kami dan kamu, agar diberi keselamatan (dari apa yang tidak diinginkan)”[1]


[1] HR. Muslim 2/671 dan Ibnu Majah. Lafazh hadits di atas milik Ibnu Majah 1/494, sedangkan doa yang ada di antara dua kurung, menurut riwayat Muslim, 2/671

Sumber:
1. Hisnul Muslim oleh Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
2. Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah oleh Syaikh al-Albani
3. Ringkasan Cara Penyelenggaraan Jenazah oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.053 pengikut lainnya.