Doa dan Dzikir Sholat Lengkap

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينامحمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Sungguh sholat bagi seorang muslim dan muslimah adalah sangat penting, ia meninggalkan aktivitas dunianya untuk menegakkan sholat karena ia tahu itu adalah amalan pertama yang dihisab nantinya di ‘yaumul hisab’, sebab hal itu seorang muslim haruslah berusaha semaksimal mungkin mencontoh cara sholat nabi صلى الله عليه وسلم, sebagimana sabda-nya:

صَلُّوا كَمَارَأَيْتُمُونِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”.

Salah satu pekerjaan sholat adalah membaca doa dan dzikir, maka pada eBook ini kami mencoba mengumpulkan doa dan dzikir tersebut -mulai dari doa iftitah sampai dzikir setelah sholat- termasuk penjelasannya. Semoga kita dapat mengamalkannya, amin..

Download:
Download CHMatau Download ZIP

Syarah Ucapan Memuji Seorang Muslim

APA YANG DIKATAKAN SEORANG MUSLIM
JIKA MEMUJI MUSLIM LAINNYA

 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا صَاحِبَهُ لَا مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلَانًا وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَاكَ كَذَا وَكَذَا

“Apabila seseorang harus memuji saudaranya, katakan-lah, ‘Aku kira fulan … dan Allah-lah yang mengawasi perbuatannya. Dan aku tidak akan merekomendasikan seseorang di hadapan Allah.’ Apabila seseorang mengetahui hendaklah berkata, “Aku kira begini dan begini?”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Bakarah Radhiyallahu Anhu.

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Doa Untuk Orang yang Engkau Caci

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ فَاجْعَلْ ذَلِكَ لَهُ قُرْبَةً إِلَيْكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ya Allah, siapa Saja di antara orang Mukmin yang pernah kucaci, jadikanlah sarana yang mendekatkan dirinya kepada-Mu di hari Kiamat.'”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Al-Qadhi Iyadh Rahimahullah berkata, “Bisa saja apa yang disebutkan berupa celaan dan do’a yang tidak disengaja atau diniatkan. Akan tetapi, berlaku dalam tradisi orang Arab menguatkan ucapannya, meneruskan perkataannya ketika sedang dalam kesulitan, penegasan akan cacian, dan bukan dengan niat terjadinya semua itu. Sebagaimana ucapan Aqra Halqi, ‘Beruntunglah engkau …’, sehingga dia sangat ingin kesesuaian yang demikian dengan takdir, sehingga dia berjanji pada Rabbnya dan sangat ingin Dia menjadikan ucapannya itu sebagai rahmat dan taqarub.”[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 546.


[1]     Al-Bukhari dalam Fathul Bari (11/171). no. 6361: dan Muslim. (4/2007). no. 2601. Lafazhnya: فَاجَعَلْهَا لَهُ زَكَاةً وَرَحْمَةً ‘Jadikanlah sebagai pembersih dan rahmat.’

Kewajiban Memohon Perlindungan Dari 4 Hal

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الاَخِرِ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ أَرْبَعٍ، يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، ثُـمَّ يَدْعُوْ لِنَفْسِهِ بِـمَا بَدَالَهُ

“Bila seseorang selesai membaca tasyahhud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah empat perkara, yaitu: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahanam, dan siksa kubur, dan fitnah hidup dan mati, dan dan fitnah Dajjal.’ Selanjutnya, hendaklah ia berdo’a memohon kebaikan untuk dirinya sesuai kepentingannya.”[1]

Nabi صلى الله عليه وسلم biasa membaca do’a tersebut dalam tasyahhudnya. [2]

Nabi صلى الله عليه وسلم mengajarkan do’a tersebut kepada sahabat-sahabatnya seperti halnya beliau mengajarkan suatu surah Al-Qur’an kepada mereka.[3][]

Disalin dari Sifat Shalat Nabi صلى الله عليه وسلم Karya Syaikh al-Albani رحمه الله terbitan Media Hidayah Yogyakarta Edisi Revisi Tahun 2004 hal. 228.


[1]     HR. Muslim, Abu ‘Awanah, Nasa’i, dan Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa (27). Baca Al-lrwa’ Hadits no. 350.
[2]     HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad shahih.
[3]     HR. Muslim dan Abu ‘Awanah.

Syarah Doa Shalat Istikharah

قَالَ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ، يَقُولُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ-يُسَمِّي حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ -فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي- أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ. وَمَا نَدِمَ مَنِ اسْتَخَارَ الْخَالِقَ، وَشَاوَرَ الْمُخْلُوْقِيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَتَثَبَّتَ فِي أَمْرِهِ، فَقَدْ سُبْحَانَهُ: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتُ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ

“Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan istikharah dalam segala hal sebagaimana beliau mengajar kami suatu surat dalam Al-Quran. Beliau bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian hendak melakukan suatu perkara, hendaknya dimulai dengan melakukan ruku’ dua rakaat yang bukan shalat fardhu. Kemudian hendaknya mengucapkan:

Baca pos ini lebih lanjut

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (24)

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ. (عَشْرَ مَرَّاتٍ)

“Ya Allah, (sampaikanlah) shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.” (Dibaca sepuluh kali). [1]

 Perawi  hadits ini  adalah Shahabat Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu.

Hadits seutuhnya adalah,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا، وَحِيْنَ يُمْسِي عَشَرًا، أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang bershalawat atas diriku di pagi hari (sepuluh kali), dan ketika sore hari (sepuluh kali), maka dia akan mendapatkan syafaatku pada Hari Kiamat.”

Telah berlalu syarah shalawat atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lihat syarah hadits no. 54-55 (Syarah Shalawat atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.)

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 284-285.


[1]     Ditakhrij Ath-Thabrani dengan dua isnad, salah satunya bagus. Lihat Majma Az-Zawaid (10/120) dan Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (1/273), no. 656.

Syarah Dzikir Pagi dan Petang (23)

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. (ثَلَاسَ مَرَّاتٍ إِذَا أَمْسَى)

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa-apa yang Dia ciptakan.” (Dibaca tiga kali jika sore tiba)[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan dalam hadits,

أَنْ مَنْ قَالَـهَا حِيْنَ يُمسِي ثَلَاسَ مَرَّاتٍ لَمْ تَضُرَّهُ حُمَةُ تِلْكَ الْلَيْلَةِ

Baca pos ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.105 pengikut lainnya.