Biografi Imam Ash-Shan’ani

Nama lengkap beliau adalah Sayyid Muhammad bin Ismail bin Shalah al-Amir al-Kahlani ash-Shan’ani. Ia dilahirkan pada tahun 1059 H disebuah daerah yang bernama Kahlan.

Masa kecil ash-Shan’ani dilalui dengan pendidikan agama yang bagus dan memadai. Ia mendapatkan gemblengan langsung dari orangtuanya. Keluarganya yang ahli dalam keilmuan Islam merupakan keberuntungan tersendiri baginya, sehingga ia dapat belajar langsung kepada mereka sejak kecil. Materi pertama yang diajarkan kedua orang tuanya kepadanya adalah dasar-dasar agama terutama al-Qur’an. Setelah itu, diberikan pula fondasi-fondasi ilmu Islam yang lain, semisal fiqih, hadits, akhlak, dan lainnya.

Di kala usia ash-Shan’ani menginjak remaja, kedua orang tuanya mengajaknya bermigrasi ke kota Shan’an, ibukota Yaman. Kota Shan’an begitu terkenal dalam sejarah Islam. Karena dari kota inilah lahir para ulama besar Islam yang disegani. Di kota ini pulalah ash-Shan’ani menimba ilmu pengetahuan dari berbagai ulama. Diantara sekian disiplin keilmuan Islam, ada satu ilmu yang menjadi perhatian besarnya yaitu hadits. Baginya, salah satu warisan  Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini sangat menantang untuk dirambah, karena itu, ia berguru dari satu ulama kepada ulama yang lain.

Dahaga pengetahuan ash-Shan’ani terhadap ilmu hadits begitu kuat. Ia merasa tidak cukup jika belajar hadits hanya di negeri Yaman. Ia pun bertualang ke negeri-negeri lain. Baginya, hadits adalah ilmu yang unik. Untuk mendapatkan kualitas sanad yang baik dan bersambung, seorang penuntut ilmu harus menyimak langsung dari perawinya.

Makkah menjadi salah satu tujuan pengembaraan ash-Shan’ani. Banyak hadits yang ia pelajari di kota kelahiran  Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini. Dengan penuh sabar dan telaten, ia catat semua hadits yang pernah didengar. Buah dari ketekunannya ini pun mulai tampak. Koleksi hadits yang asalnya bisa dihitung dengan jari lambat laun menjadi banyak. Bahkan hadits-hadits yang dikoleksinya mencapai ribuan.

Dahaga keilmuan ash-Shan’ani belum juga terpuaskan. Ia pun mengembara ke Madinah. Seluruh guru hadits di kota ini ia sambangi. Ia tidak sekedar mendengar hadits, tetapi juga membacakannya di hadapan para gurunya. Karena itu, selain hadits-hadits yang dihimpunnya sangat banyak, kualitas haditsnya pun bernilai shahih.

Walaupun ash-Shan’ani ahli bidang hadits, bukan berarti ia mengabaikan disiplin ilmu lainnya. Fikih juga merupakan salah satu bidang ilmu yang ia gemari, sehingga banyak guru fikih yang ia sowani. Karenanya, ada dua ilmu yang dikuasai oleh ash-shan’ani yaitu fikih dan hadits. Pertemuan antara fikih dan hadits inilah yang menjadi bekalnya untuk menduduki kursi ulama besar di masanya.

Meski ash-Shan’ani belum merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya, terpaksa ia harus pulang kampung yaitu di Shan’an. Sebab, penduduk di kota itu membutuhkan siraman ilmunya. Di negeri itu, posisinya langsung melejit. Namanya terdaftar di papan atas ulama besar negeri itu. Teman-teman seangkatannya pun harus mengakui keluasan ilmunya.

Sebagai ulama, ia menjunjung tinggi kemampuan berijtihad dengan catatan disertai kemampuan yang memadai. Tidak ada kata taklid dalam kamus hidupnya, karena taklid hanya membuat fikiran manusia menjadi beku. Sejumlah ijtihadnya pun bermunculan ketika ada kasus-kasus baru yang muncul di masyarakat. Argumen-argumen ijtihadnya ia sandarkan kepada hadits-hadits Nabis aw sehingga kedudukannya makin kokoh.

Mengetahui kehebatan ilmunya, Khalifah al-Makmun memintanya untuk mengisi pengajian di masjid Jami’ Shan’an. Melalui mimbar inilah ia giat memberikan pelajaran dan fatwa. Karena kegigihan, ketekunan dan kesabarannya dalam mengajar, semua orang pun menaruh hormat kepadanya.

Para pencari ilmu dari berbagai penjuru berbondong-bondong menghadiri majelis pengajiannya, baik dari kalangan awam maupun terpelajar. Selain menyimak, ada pula sebagian dari mereka yang membacakan catatan haditsnya di hadapan as-Shan’ani dengan harapan, kualitas hadits mereka semakin mantap.

Ash-Shan’ani terhitung sebagai ulama yang produktif menulis karya. Di tengah kesibukannya menjadi guru besar umat, ia masih meluangkan waktunya untuk menulis karya sebagai warisan berharga bagi umat sepeninggalnya. Ada beberapa karya yang telah dihasilkan oleh ash-Shan’ani, diantaranya adalah:

  • Subulus Salam
  • Minhah al-Ghaffar
  • al-‘Uddah ‘Ala Syarh al-‘Umdah
  • Syarh at-Tanqih fi ‘Ulum al-Hadits

Ulama besar ini meninggal dunia pada bulan Sya’ban 1182 H.

Sumber dan Bacaan Lebih Lanjut:
Biografi Beberapa Ahli Hadits

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: