Syarah: Doa Setelah Wudhu (1)

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Aku bersaksi, bahwa tiada Tukan Yang hak, kecuali Allah, Yang Maha Esa, dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya …..”[1]

Shababat yang meriwayatkan hadits ini adalah Uqbah bin Amir Al-Juhani Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan أَشْهَدُ ‘aku bersaksi‘, dengan kata lain, aku berketetapan dengan hatiku dan ucapan lisanku; karena persaksian adalah ucapan dan pengutaraan berkenaan dengan apa-apa yang ada dalam hati.

Aslinya, yakni persaksian adalah dari شُهُوْدُ الشَّيْءِ ‘menyaksikan sesuatu‘, dengan kata lain, keberadaannya dan rnelihatnya. Sehingga orang yang menyampaikan kabar tentang apa-apa yang ada dalam hatinya dengan ucapan lisan itu, seakan-akan menyaksikan perkara itu dengan mata kepalanya sendiri.

Ungkapan لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ ‘tiada Ilah selain Allah‘, dengan kata lain, tiada Ilah Yang hak atau berhak untuk disembah selain Allah Ta’ala.

Ungkapan وَحْدَهُ ‘Dia Yang Esa‘ adalah penegasan bagi penetapan di atas (itsbat).

Ungkapan لاَ شَرِيْكَ لَهُ ‘tiada sekutu bagi-Nya‘ adalah penegasan bagi penafian.

Ungkapan عَبْدُهُ ‘hamba-Nya‘, beliau disifati dengan hamba karena beliau adalah manusia yang paling banyak ibadahnya dan orang yang benar dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Ungkapan وَرَسُوْلُهُ ‘dan utusan-Nya, beliau disifati dengan rasul karena beliau membawa risalah yang agung, yaitu Islam, kepada semua manusia.

Pada bagian akhir hadits adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkenaan dengan pahala orang yang mengucapkan dzikir ini, yakni:

إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

”Tiada lain dibukakan baginya delapan pintu surga dari pintu mana saja dia akan memasukinya “[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 100-101 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Muslim, (1/209), no. 234.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: