Syarah: Doa Setelah Wudhu (2)

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang (yang senang) bersuci “[1]

Shahabat yang merawikan hadits ini adalah Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan التَّوَّابِيْنَ ‘orang-orang yang bertaubat‘ adalah bentuk jamak dari kata تَوَّابٌ, ‘banyak bertaubat‘ dan kata ini termasuk sifat mubalaghah (berfungsi untuk menunjukkan banyak). Taubat adalah kembali dari maksiat kepada Allah Ta’ala menuju ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Para ulama berkata, “Taubat dari segala macam dosa adalah wajib. Jika kemaksiatan antara hamba dan Allah Ta’ala tiada sangkut-pautnya dengan hak manusia, maka taubatnya harus dengan tiga macam syarat: (1) hendaknya melepas dari kemaksiatan, (2) harus menyesali apa-apa yang telah dia perbuat, dan (3) berkemauan keras untuk tidak kembali melakukannya.

Jika kemaksiatannya berkaitan dengan manusia lain, maka syaratnya ada empat macam: tiga macam yang lalu dan hendaknya dia meminta maaf kepada yang bersangkutan. Jika berkaitan dengan harta atau semacamnya, maka dia harus mengembalikannya kepada pemiliknya. Sedangkan jika berkaitan dengan hukuman karena tuduhan, maka dia meminta balasan darinya atau meminta maaf kepadanya. Jika berkaitan dengan umpatan, maka dia harus meminta maaf kepadanya.”

Wajib bertaubat dari segala macam dosa. Jika seseorang bertaubat dari sebagiannya saja, maka sahlah taubatnya menurut para ahli kebenaran dari dosa itu dan tersisa baginya yang masih ada.

Ketahuilah bahwa taubat harus dilakukan pada waktu-waktu taubat itu diterima. Jika seseorang bertaubat pada waktu-waktu taubat tidak diterima, maka taubat itu tidak bermanfaat baginya.

Waktu taubat tidak diterima adalah ketika ruh seseorang sampai di tenggorokan. Hai itu karena sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima taubat hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan”[2]

اَلغِرْعِرَةُ adalah sampainya ruh di tenggorokan dan (taubat tidak diterima) ketika matahari terbit dari arah tempat terbenamnya. Hal itu karena sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah akan menerima taubatnya”[3]

Ungkapan الْمُتَطَهِّرِيْنَ ‘orang-orang (yang senang) bersuci‘ adalah bentuk jamak dari kata الْـمُتَطَهِّرُ ‘orang yang sering bersuci‘, sifat mubalaghah. Bersuci adalah kebersihan dan menghilangkan hadats (atau menghilangkan najis).

Ketika taubat adalah pembersihan batin dari berbagai macam kotoran dari dosa-dosa, maka wudhu adalah bersuci dari berbagai macam hadats yang menghalangi seseorang untuk bertaqarub kepada Allah Ta’ala. Sesuai jika dilakukan penggabungan antara hadits di atas dan firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 101-104 Terbitan Darul Falah, Jakarta


[1] At-Tirmidzi, 1/78, no. 55. Dan lihat Shahih At-Tirmidzi, (1/18).
[2]
At-Tirmidzi, no. 3537; Ibnu Majah, no. 4253 dan dishahihkan Al-Albani. Lihat Shahih Al-Jami’, no. 1903.
[3]
Muslim no. 2703.

Iklan

2 Responses to Syarah: Doa Setelah Wudhu (2)

  1. Ping-balik: Syarah Bacaan Dalam Majelis | Doa dan Dzikir

  2. Ping-balik: Syarah Istigfar dan Taubat (1 dan 2) | Doa dan Dzikir

%d blogger menyukai ini: