Syarah: Dzikir Keluar Rumah (2)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

” Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan (syetan atau orang yang berwatak syetan), berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya (orang), dan berbuat bodoh atau dibodohi.”[1]

Shahabat wanita yang merawikan hadits adalah Ummu Salamah, Hindun bintu Abi Umayyah Al-Makhzumiah Radhiyallahu Anha istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ungkapan أَنْ أَضِلَّ ‘aku sesat‘, dengan kata lain, aku sesat dalam diriku sendiri. Kesesatan yang merupakan kebalikan petunjuk. Asalnya, “sesuatu sesat” adalah jika sesuatu itu hilang, sesat dari jalan jika ia bingung.

Ungkapan أَوْ أُضَلَّ ‘atau disesatkan‘, dengan kata lain, orang lain menyesatkanku.

Ungkapan أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ ‘berbuat kesalahan atau disalahi‘, kedua-duanya dari akar kata اَلزَّلَّة dengan kata lain, adalah kesalahan. Makna yang pertama, “Aku melakukan kesalahan karena diriku sendiri atau aku menjerumuskan orang lain ke dalam kesalahan itu. Sedangkan makna yang kedua, orang lain menjerumuskan diriku ke dalam kesalahan itu.

Ungkapan أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ ‘tidak menganiaya atau dianiaya (orang)‘, dari akar kata اَلْظُلْمُ yang artinya meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Makna yang pertama, aku menganiaya orang lain atau diri aku sendiri; sedangkan makna yang kedua, orang lain menganiaya diri saya.

Ungkapan أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ atau ‘aku berbuat bodoh atau dibodohi‘. Makna yang pertama: aku melakukan perbuatan orang-orang bodoh atau menyibukkan diri dalam hal-hal yang tidak bermanfaat untukku; sedangkan makna yang kedua: orang lain membodohi diriku dengan menerimaku sebagaimana penerimaan yang dilakukan orang-orang bodoh, perdebatan … dan sejenisnya.

Dalam hal ini ajaran bagi umat beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, penjelasan tentang jalan tentang bagaimana memperlindungkan mereka ketika mereka berangkat dari rumah-rumah mereka.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 107-109.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Abu Dawud, no. 5094; At-Tirmidzi, no. 3427; An-Nasa’i, (8/268); dan Ibnu Majah, no. 3884. Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/152) dan Shahih Ibnu Majah, (2/336).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: