Syarah: Doa Pergi Ke Masjid

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِيْ نُوْرًا، وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا، وَمِنْ فَوْقِيْ نُوْرًا، وَمِنْ تَحْتِيْ نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا، وَعَنْ شَمَالِيْ نُوْرًا، وَمِنْ أَمَامِيْ نُوْرًا، وَمِنْ خَلْفِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِيْ نُوْرًا، وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا، اَللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ عَصَبِيْ نُوْرًا، وَفِيْ لَحْمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ دَمِيْ نُوْرًا، وَفِيْ شَعْرِيْ نُوْرًا، وَفِيْ بَشَرِيْ نُوْرًا. (اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ … ونُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ) (وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا، وَزِدْنِيْ نُوْرًا) (وَهَبْ لِيْ نُوْرًا عَلَى نُوْرٍ)

“Ya Allah, ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya dari depanku, dan cahaya dari belakangku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, agungkanlah cahaya untukku, berilah cahaya untukku, dan jadikanlah aku sebagai cahaya. Ya Allah, berilah cahaya kepadaku, ciptakan cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku.”[1]

“Ya Allah, ciptakanlah cahaya untukku dalam kuburku… dan cahaya dalam tulangku.”[2]

“Tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku.”[3]

“Dan karuniakanlah bagiku cahaya di atas cahaya.”[4]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Cahaya-cahaya yang mana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdo’a mengharapkannya bisa dibawa kepada makna eksplisit-nya. Sehingga menjadi memohon kepada Allah Ta’ala sudi kiranya menjadikan cahaya bagi beliau dalam semua anggota badan beliau untuk penerangan pada Hari Kiamat dalam kegelapannya itu. Bagi beliau dan semua orang yang mengikutinya atau siapa saja yang dikehendaki Allah di antara mereka.”

Yang lebih baik hendaknya dikatakan, “Cahaya itu sindiran bagi arti ilmu dan petunjuk, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّن رَّبِّهِ

“…Lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (Az-Zumar [39]: 22)

Juga sebagaimana firman-Nya,

وَجَعَلْنَا لَهُ نُوراً يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ

“…Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia …” (Al-An’am [6]: 122)

Yang benar sebagai artinya bahwa cahaya menunjukkan apa-apa yang dia dinisbatkan kepadanya. Dia berbeda dengan sendirinya. Maka, cahaya pendengaran menunjukkan kepada segala yang bisa didengar. Cahaya penglihatan membuka segala apa yang bisa dilihat. Cahaya hati membuka segala yang bisa diketahui. Cahaya anggota badan adalah semua yang terlihat pada semua anggota badan itu berupa semua macam amal ketaatan.”

Ath-Thibi Rahimahullah berkata, “Makna memohon cahaya untuk semua anggota badan, anggota demi anggota adalah agar bisa menghiasi diri dengan berbagai macam cahaya pengetahuan dan berbagai amal ketaatan dan membersihkan diri dari semua selain keduanya, karena syetan selalu mengelilingi manusia dari enam arah dengan berbagai bisikan. Maka, keselamatan diri dari semua itu lalu menghiasi diri dengan berbagai cahaya yang membendung serrula arah itu.

Semua perkara ini kembali kepada petunjuk, keterangan, dan cahaya kebenaran. Kepada yang demikianlah firman Allah ini mengarahkan,

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nuur [24]: 35).[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 112-115. Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Semua bagian ini ada daJam Al-Bukhari, (11/116), no. 6316; dan Muslim, (1/526, 529 dan 530), no. 763.

[2] At-Tirmidzi, no. 3419, (5/483).

[3] Ditakhrij Al-Bukhari dalam Adab Al-Mufrad, no. 695, hlm. 258. Al-Albani menyahihkan isnadnya dalam Shahih Adab Al-Mufrad, no. 536.

[4] Disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari dan disandarkan kepada Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Ad-Du’a. Lihat Fathul Bari, (11/118). Dan dia berkata, “Dari berbagai macam riwayat, maka terkumpullah sebanyak dua puluh lima pekerti”.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: