Syarah Dzikir Masuk Rumah

بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى اللهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ

“Dengan nama Allah kami masuk, dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Tuhan kami, kami bertawakal.’ Kemudian mengucapkan salam kepada keluarganya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Malik Al-Asy’ari. Ada perdebatan dalam namanya. Dikatakan, “Ubaid.” Ada pula yang mengatakan, “Abdullah.” Dikatakan pula, “Amr.” Dikatakan pula, “Ka’ab bin Ka’ab.” Dikatakan pula, “Amir bin Al-Harits Radhiyallahu Anhum.”

Ungkapan بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا ‘dengan nama Allah kami masuk‘.

Ungkapan بِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا ‘dengan nama Allah kami keluar‘, dengan kata lain, keberangkatan kita juga dengan dzikir kepada Allah Ta’ala.

Ungkapan وَعَلَى اللهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا ‘dan kepada Allah Rabb kami, kami bertawakal‘, dengan kata lain, kami bersandar ketika kami masuk atau berangkat dan dalam setiap kondisi kami dengan bersandar kepada Allah, Rabb kami Azza wa Jalla.

Ungkapan ثُمَّ لِيُسَلِّمْ عَلَى أَهْلِهِ ‘kemudian mengucapkan salam kepada keluarganya’, dengan kata lain, anggota keluarganya dengan ucapan kepada mereka,

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

“Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah atas kalian semua.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 110-111.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Ditakhrij Abu Dawud, (4/325), no. 5096. Isnadnya hasan menurut Al-Al’amah Ibnu Baaz Rahimahullah dalam kitabnya Tuhfah Al-Akhyar, hlm. 28. Dalam Ash-Shahih:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ

“Apabila seseorang masuk rumahnya, lalu berdzikir kepada Allah ketika masuk rumah dan ketika makan, syetan berkata (kepada teman-temannya), ‘Tiada tempat tinggal dan makan malam bagi kalian’.” (HR. Muslim, nomor 2018)

Komentarnya terhadap hadits no. 62 dalam Al-Kalim Ath-Thayyib, Syaikh Al-Albani Rahimahullah berkata, “Isnadnya shahih.” Kemudian terlihat olehku bahwa hadits itu munqathi’. Aku menyebutkannya dalam sebagian hadits-hadits yang kugunakan sebagai dalil. Kemudian kujelaskan hal itu pada hadits lain dengan sanad ini dalam Adh-Dhai’fah (5606). Di Sana aku menyebutkan bahwa Al-Hafizh Ibnu Hajar menganggap hadits ini gharib dan melemahkannya karena alasan lain yang tidak tercela. Akan tetapi, dia tergugah bahwa hadits itu munqathi’ pada hadits lain!

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: