Syarah Dzikir Setelah Adzan (2)

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ (إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ)ء

“Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah wasilah (derajat di surga, yang tidak akan diberikan selain kepada Nabi) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. (Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji).”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ‘Rabb seruan yang sempurna ini‘, yang dimaksud adalah seruan tauhid. Dikatakan bahwa dakwah kepada tauhid itu sempurna karena kesyirikan adalah kekurangan. Atau sempurna yang tidak dimasuki suatu perubahan atau penggantian, tetapi seruan itu akan abadi hingga hari kebangkitan. Atau karena seruan tauhid adalah sesuatu yang memiliki sifat sempurna sedangkan selainnya sangat rentan untuk menjadi kurang.

Ungkapan وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ ‘shalat yang akan tegak ini‘, dengan kata lain, abadi.

Ungkapan الْوَسِيْلَةَ ‘wasilah/perantara‘ adalah suatu kedudukan dalam surga.

Ungkapan وَالْفَضِيْلَةَ ‘keutamaan‘ adalah kedudukan yang ada di atas semua manusia.

Ungkapan وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا ‘bangkitkanlah beliau pada maqam yang mulia‘, dengan kata lain, bangkitkan beliau pada Hari Kiamat lalu tegakkan beliau di atas posisi yang menjadikan orang yang tegak di atasnya menjadi sangat mulia.

Ungkapan الَّذِيْ وَعَدْتَهُ _ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ‘yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji’.

Ath-Thibi Rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hal itu adalah ungkapan عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً ‘mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji’ (Al-Isra: 79), dan disebutkan bahwa ungkapan seperti itu adalah janji karena ungkapan dengan عَسَى ‘mudah-mudahan‘ dari Allah Ta’ala adalah nyata terjadi.

Di bagian akhir hadits disebutkan, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang pahala orang yang mengucapkannya, حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ ‘maka baginya syafaat‘, dengan kata lain, berhak dan wajib turun kepadanya.

Al-Muhallab Rahimahullah berkata, “Dalam hadits itu terkandung perintah untuk berdo’a dalam waktu-waktu shalat, karena yang demikian adalah waktu bagi seseorang untuk diijabah.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 130-133.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Al-Bukhari. (1/152), no. 614; apa yang tertulis di antara dua kurung adalah dari Al-Baihaqi (1/410). Isnadnya dihasankan oleh Allamah Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah dalam Tuhfah Al-Akhyar, (hlm. 38). Syaikh Al-Albani Rahimahullah berkenaan dengan tambahan dari Al-Baihaqi ini berkata, “Tambahan itu syadz karena tambahan itu tidak pernah muncul dalam semua jalur perawi hadits dari Ali bin Iyasy. Tiada lain hanya dalam riwayat Al-Kasymini karena Shahih Al-Bukhari yang bertentangan dengan hadits yang lainnya. Tambahan itu syadz pula karena bertentangan dengan berbagai riwayat yang lain dalam Ash-Shahih” Lihat Al-Irwa’, (1/261).

Iklan

2 Responses to Syarah Dzikir Setelah Adzan (2)

  1. Ilham Saputra says:

    terima kasih atas semua kiriman doa dan zikirnya, semoga dapat bermanfaat bagi saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: