Syarah Doa Bangun Tidur (2)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ،رَبِّ اغْفِرْ لِيْ

“Tiada Ilah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Ilah selain Allah, Allah Mahabesar, tiada daya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Ya Tuhanku ampunilah dosaku.”[1]

Shahabat yang merawikan hadits ini adalah Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu.

Disebutkan di dalamnya:

مَنْ قَالَ ذَلِكَ غُفِرَ لَهُ، فَإِنْ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإِنْ قَامَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ

“Siapa saja yang menyebuthan do’a itu, maka dia diampuni. Jika dia berdo’a dikabulkan untuknya. Jika dia bangkit, lalu berwudhu, lalu menunaikan shalat, maka diterima shalatnya.”

Ungkapan لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ  ‘tiada Ilah selain Allah‘, ketahuilah bahwa ucapan itu adalah kalimat tauhid menurut ijma’. Kalimat itu mencakup nafi ‘peniadaan’ dan itsbat ‘penetapan’. Maka, ungkapan لاَ إِلَـهَ  ‘tiada Ilah‘ adalah penafian ketuhanan bagi selain Allah, sedangkan ungkapan إِلاَّ اللهُ  ‘selain Allah‘ adalah penetap ketuhanan Allah Ta’ala. Dengan dua sifat ini, maka jadilah kalimat syahadat (persaksian) dan tauhid.

Kabar لاَ ‘tidak‘ yang berfungsi nafyu al-jins (penafian mutlak) dengan takdir yang dihilangkan. Aslinya adalah: لاَ إِلَـهَ حَقٌّ أَوْ بِحَقٍّ إِلاَّ اللهُ  ‘tiada Ilah yang haq selain Allah‘.

Ungkapan لاَ شَرِيْكَ لَهُ ‘tiada sekutu bagi-Nya‘ adalah penegas (takkid) bagi Ungkapan وَحْدَهُ ‘satu-satunya‘. Karena satu tentu tidak memiliki sekutu.

Ungkapan لَهُ الْمُلْكُ ‘bagi-Nya semua kerajaan’, الْمُلْكُ dengan miim berdhammah menjadi bersifat umum. الْمِلْكُ dengan miim berkasrah menjadi bersifat khusus.

Ungkapan وَلَهُ الْحَمْدُ ‘dan bagi-Nya segala puji‘, dengan kata lain, semua macam pujian dari semua penghuni langit dan bumi dan semua hal yang terpuji.

Ungkapan سُبْحَانَ اللهِ ‘Mahasuci Allah‘, سُبْحَانَ ‘Mahasuci‘ adalah ‘alam untuk bertasbih, seperti Utsman adalah ‘alam untuk manusia. Tegaknya dengan kata kerja disembunyikan dan ditinggalkan untuk tidak diperlihatkan. Aslinya adalah: أُسَبِّحُ اللهَ سُبْحَانَهُ ‘aku mensucikan Allah dengan ucapan Mahasuci Dia’. Artinya tasbih (ucapan untuk menyatakan kemahasucian). Kemudian سُبْحَانَ ‘Mahasuci‘ berposisi sebagai kata kerja sehingga dia menutupnya. Makna tasbih adalah menjauhkan segala apa yang tidak layak bagi-Nya, baik berupa sekutu, anak, istri, atau berbagai macam kekurangan secara mutlak.

Ungkapan وَاللهُ أَكْبَرُ ‘Allah Mahabesar‘, dengan kata lain, Dia Ta’ala lebih besar dan lebih agung dari segala se-suatu.

Ungkapan وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ‘tiada daya dan tiada kekuatan melainkan pada Allah‘, dengan kata lain, tiada orang yang sampai kepada kemampuan untuk mengenda-likan semua urusan dan mengadakan perubahan melainkan dengan kehendak dan pertolongan-Nya.

Ungkapan رَبِّ اغْفِرْ لِيْ ‘wahai Rabbku, ampunilah aku‘, dengan kata lain, wahai Rabb, tutupilah dosa-dosaku.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 79-82.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Al-Bukhari dalam Fathul Bari, (3/39), no. 1154, dan selainnya. Sedangkan lafazhnya dari Ibnu Majah, no. 3878. Lihat Shahih Ibnu Majah, (2/335).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: