Syarah Dzikir Setelah Turun Hujan

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ

“Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Zaid bin Khalid Al-Juhani Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah ucapan Zaid Radhiyallahu Anhu,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَّةِ فِي إِثْرِ سَّمَاءِ كَانَتْ مِنْ اللَّيْلِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟  قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ : مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah di atas bekas turun hujan di malam harinya. Ketika usai beliau menghadap orang banyak, lalu bersabda, ‘Tahukah kalian, apakah yang di-firmankan Rabb kalian?’ Para shahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Dia berkata, ‘Pagi ini hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Siapa yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, dialah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Sedangkan orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu, dialah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.'”

Ungkapan الْحُدَيْبِيَّةِ di sana ada dua bahasa: yang meringankan huruf ya’ dan yang menasydidkannya. Yang meringankan itulah yang benar dan diikuti. Hudaibiyah adalah nama sumur yang ada dekat dengan kota Makkah.

Ungkapan فِي إِثْرِ سَّمَاءِ ‘di atas bekas turun hujan’, إِثْر dengan hamzah berkasrah dan tsa bersukun dan berfathah keduanya kedua-duanya adalah dua kata yang populer. Sedangkan سَّمَاء ‘langit‘ adalah hujan.

Ungkapan فَلَمَّا انْصَرَفَ ‘ketika usai’, yakni dari shalatnya atau dari tempatnya.

Ungkapan مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ ‘kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, dengan kata lain, Allah Ta’ala menganugerahkan hujan kepada kami karena karunia dan rahmat-Nya.

Ungkapan بِنَوْءِ كَذَا ‘karena bintang ini’. Syaikh Abu Amr bin Ash-Shalah Rahimahullah berkata, “Bintang itu sendiri   bukanlah  bintang.   Itu   adalah   bentuk  mashdar  dari نَاءَ النَّجْمُ-نَوْءَا yang artinya jatuh’ dan ‘hilang’. Dikatakan pula, ‘bangkit’ dan ‘muncul’.”

Penjelasan semua itu adalah bahwa seluruhnya dua puluh delapan bintang yang dikenal luas masa kemunculannya di sepanjang tahun. Semua itu banyak dikenal dengan sebutan “Posisi bulan yang dua puluh delapan buah.” Setiap tiga belas malam jatuh sebuah bintang di ufuk barat dengan terbitnya fajar dan muncul yang lain mengikutinya di ufuk timur seketika saat itu juga. Bagi orang-orang jahiliyah jika ketika demikian turun hujan, maka hujan yang turun itu dinisbatkan bintang yang terbenam.

Para ulama berbeda pendapat tentang kekufuran orang yang mengatakan, “Kami diberi hujan karena bintang anu”, sehingga muncul dua pendapat:

Pendapat pertama. Dia kufur kepada Allah dan telah merampas dasar keimanan sehingga telah keluar dari agama Islam. Mereka berkata, “Ini berkenaan dengan orang yang mengatakan demikian dengan penuh keyakinan bahwa bintang   itu   bertindak  dan   mengendalikan.   Mengadakan hujan, sebagaimana sebagian orang-orang jahiliyah mengklaim. Siapa saja yang berkeyakinan sedemikian tidak diragukan kekufurannya. Ungkapan demikian adalah yang menjadi dasar jumhur ulama. Iniiah arti eksplisit hadits di atas. Mereka  berkata, “Dengan  demikian jika  orang  berkata, ‘Kami diberi hujan karena bintang anu’ dengan keyakinan bahwa semua itu karena karunia Allah dan rahmat-Nya. Dan bahwa bintang adalah batas waktu dan tanda. Orang yang sedemikian  tidak  kufur.  Mereka juga  berbeda  pendapat tentang hukum makruhnya. Yang jelas makruh. Sebab kemakruhannya adalah bahwa yang demikian Ungkapan yang diragukan antara kalimat kufur dan lainnya. Sehingga menimbulkan prasangka buruk kepada pelakunya.

Pendapat kedua. Yang dimaksud adalah kufur kepada nikmat Allah karena dia menisbatkan hujan hanya kepada sebuah bintang. Ini bagi orang yang tidak meyakini adanya daya pengendalian oleh suatu bintang. Penguat takwil ini adalah riwayat lain dalam Shahih Muslim:

أَصْبَحَ مِنَ النَّاسِ شَاكِرٌ وَكَافِرٌ

“Sebagian orang ada yang menjadi orang bersyukur dan ada yang menjadi kafir.”

Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 429-432.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Diriwayatkan Al-Bukhari, (1/205), no. 846; dan Muslim, (1/83), 71.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: