Syarah Tasyahud Sholat

Yaitu ungkapannya yang berbunyi,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Karena bagian ini adalah yang paling mulia di antara dzikir yang dengannya dinamakan.

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala shalat dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang hak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (Muttafaq alaih)[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan التَّحِيَّاتُ adalah bentuk jamak dari kata التَّحِيَّة yang artinya salam (kesejahteraan). Juga dikatakan keabadian, keagungan, dan kerajaan.

Al-Muhib Ath-Thabari Rahimahullah berkata, “Bisa jadi lafazh tahiyyah itu musytarak yang mencakup semua makna itu.”

Al-Khaththabi dan Al-Baghawi Rahimahumallah berkata, “Yang dimaksud dengan tahiyyat milik Allah adalah segala macam pengagungan adalah bagi-Nya.”

Ungkapan الصَّلَوَاتُ dikatakan, “Yang dimaksud adalah shalat yang lima. Atau apa yang lebih umum dari itu berupa berbagai macam ibadah fardhu dan nawafil.” Dikatakan pula, “Segala macam ibadah.”

Ungkapan الطَّيِّبَاتُ ‘segala pengagungan dan kebaikan‘, dengan kata lain, semua macam ucapan yang bagus dan kebaikan yang digunakan untuk memuji Allah Ta’ala yang bukan hal-hal yang tidak layak sebagai sifat-sifat-Nya. Dikatakan, “Ucapan-ucapan yang shalih seperti do’a dan pujian.” Dikatakan pula, “Segala macam amal shalih”, yang demikian lebih mencakup.

Ungkapan السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ‘semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi“, kesejahteraan adalah keselamatan. Dan السَّلاَمُ adalah salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala. Artinya bahwa Dia selamat dari berbagai macam aib, bencana, kekurangan, dan kerusakan.

Makna ucapan kita السَّلاَمُ عَلَيْكَ adalah do’a, dengan kata lain, ‘semoga engkau selamat dari berbagai macam hal yang dibenci‘. Dikatakan, “Artinya nama Allah Ta’ala atas engkau.”

Telah muncul dalam sebagian jalur periwayatan hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu sesuatu yang menuntut adanya perubahan antara zaman kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan zaman setelah wafat beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Yaitu ungkapannya Radhiyallahu Anhu,

وَهُوَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْنَا، فَلَمَّا قُبِضَ قُلْنَا: السَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ

“Dan beliau ada di antara kami. Ketika beliau wafat kami mengatakan السَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ ‘Semoga keselamatan atas Nabi’.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Tambahan ini secara eksplisit adalah bahwa mereka mengatakan. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ‘semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi‘, dengan menggunakan kaaf sebagai kata ganti orang kedua di masa kehidupan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, maka mereka meninggalkan kata ganti orang kedua dan mengganti dengan menggunakan kata ganti orang ketiga sehingga mereka menjadi mengucapkan السَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‘semoga keselamatan atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam‘.

Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam kitab Ash-Shifat mengatakan, “Ucapan Ibnu Mas’ud: قُلْنَا: السَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ ‘kami mengatakan semoga keselamatan atas Nabi‘, yakni bahwa para shahabat Radhiyallahu Anhum mengucapkan السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ‘semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi‘ dalam tasyahud sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih hidup. Ketika beliau wafat, maka mereka meninggalkan ucapan itu dan mereka mengatakan: السَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ ‘semoga keselamatan atas Nabi‘ dan yang demikian harus dengan ketentuan dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini dikuatkan bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha juga mengajarkan tasyahud dalam shalat kepada mereka dengan ucapan السَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ ‘semoga keselamatan atas Nabi’.”

Saya mengatakan, “Dalam kenyataan apa-apa yang aku nukil dari dua tokoh yang utama tentang apa yang menunjukkan kepada kesepakatan para shahabat tentang apa yang mereka ucapkan. Tetapi, sesuatu yang jelas dalam masalah ini adalah bahwa minimal yang disebutkan bahwa hal itu adalah masalah yang masih diperdebatkan. Sedangkan yang lebih kuat adalah dengan mengambil cara tasyahud yang diucapkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di masa hidupnya dan banyak dilakukan para shahabat setelah beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat. Sebagaimana yang telah  muncul  dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu[2] bahwa dia berkhutbah di atas mimbar mengajarkan tasyahud kepada orang banyak. Dia mengucapkan, السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ‘semoga salam atas engkau wahai Nabi’. Semua orang mendengar khutbah itu dan belajar dari Umar Radhiyallahu Anhu cara tasyahud dan tiada seorang pun yang mengingkarinya. Para shahabat di zamannya sangat banyak. Demikian juga yang muncul dari Aisyah   Radhiyallahu Anha,  Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, dan Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhum.”

Ath-Thibi Rahimahullah berkata, “Kami mengikuti lafazh Rasul yang diajarkan oleh para shahabat.” Wallahu A’lam.

Korektor mengatakan, “Iniiah yang benar, yaitu bahwa orang yang menunaikan shalat dalam tasyahud mengucapkan السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ‘semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, demikian juga rahmat dan berkah-Nya‘ dengan lafazh untuk orang kedua yang sedang hadir: السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ ‘semoga kesejahteraan   terlimpahkan   kepadamu,   wahai  Nabi’.”  Al-Allamah Al-Bassam Rahimahullah berkata, “Tidak dimaksudkan dengan kaaf dalam ungkapan عَلَيْكَ ‘atas engkau‘ adalah orang kedua yang sedang hadir. Akan tetapi, yang dimaksud adalah sekedar salam, baik hadir atau gaib, jauh atau dekat,  hidup atau mati. Oleh sebab itu, diucapkan dengan rahasia. Dan ungkapan salam sedemikian dikhususkan hanya kepada Nabi, karena kekuatan hafalah ‘kehadiran‘ seakan-akan orang yang berhak atasnya (Nabi) sedang hadir. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dikhususkan sedemikian rupa dengan menggunakan kaaf kata ganti orang kedua dalam shalat. Semua ini karena keluhuran beliau, keluhuran sebutan, dan nama beliau.”[3]

Korektor berkata, ungkapan وَرَحْمَةُ اللهِ  ‘juga rahmat Allah’,. Yang benar rahmat di sini adalah sifat Allah Ta’ala yang layak bagi keagungan-Nya Yang dengannya Dia mengasihi dan memberikan kenikmatan kepada para hamba-Nya.”[4]

Ungkapan وَبَرَكَاتُهُ ‘dan berkah-Nya’, dengan kata lain, tambahannya dari berbagai kebaikan.

Ungkapan السَّلاَمُ عَلَيْنَا ‘semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami’. Ini dijadikan dalil yang menunjukkan bahwa sangat disukai memulai sesuatu dengan diri sendiri dalam do’a.

Ungkapan وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ ‘dan atas semua hamba Allah yang shalih’, yang paling populer berkenaan dengan penafsiran shalih adalah orang yang menjalankan apa-apa yang wajib atas dirinya berupa hak-hak Allah dan hak-hak para hamba-Nya dengan berbagai tingkatan derajatnya.

Al-Hakim At-Tirmidzi Rahimahullah berkata, “Siapa saja yang menghendaki kesejahteraan seperti ini yang disampaikan semua manusia dalam shalat, hendaknya dia menjadi hamba yang shalih. Jika tidak, maka dia tidak akan mendapatkan karunia yang agung seperti itu.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 182-187.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Fathul Bari, (2/311), no. 831; dan Muslim, (1/301), no. 402.
[2]
Lihat Al-Muwaththa, no. 202.
[3]
Taudhih Al-Ahkam, karya Al-Bassam, (2/97). (Korektor)
[4]
Lihat Al-Aqidoh Al-Wasithiyah maa Syarhiha, karya Ibnu Utsaimin, (hlm. 205); Al-Aqidah Al-Wasithiyah maa Syarhiha karya Muhammad Khalil Al-Haras, (hlm.106); dan Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram, karya Al-Bassam, (2/97). (Korektor)

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: