Syarah Do'a Bila Tertimpa Keraguan dalam Iman (1-2)

يَسْتَعِيْذْ بِاللَّهِ

“Berlindung (isti’adzah) kepada Allah.” (Isti’adzah adalah mengucapkan أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ‘a’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim —red.)

يَنْتَهِي عَمَّ شَكَّ فِيْهِ

“Berhenti dari keraguannya.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

يَقُوْلُ: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

” Dia berkata, ‘Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.”[2]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Seutuhnya hadits ini adalah sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ، فَيَقُوْلُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُوْلَ: مَنْ خَلَقَ رَبُّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

“Syetan datang kepada seseorang di antara kalian lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan ini? Hingga ia bertanya, siapa yang menciptakan Rabbmu? Jika sampai kepadanya hal itu hendaklah mengucapkan isti’adzah dan berhenti dari keraguannya.”

Dalam hadits lain beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

لاَيَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُوْنَ حَتَّى يَقُوْلَ هَذَا خَلَقَ اللهُ الْخلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهُ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، وَفِي رِوَايَةٍ: وَرُسُلِهِ

“Teruslah manusia bertanya-tanya hingga dikatakan: Allah telah menciptakan makhluk ini lalu siapa yang menciptakan Allah? Maka siapa saja menemukan hal sedemikian sekalipun sedikit hendaknya mengatakan, ‘Aku beriman kepada Allah’ dalam suatu riwayat, ‘dan para Rasul-Nya’.”

Artinya: Berpaling dari pemikiran yang bathil itu dan segera berlindung kepada Allah Ta’ala untuk mengusirya. Dan hendaknya seseorang segera memutuskannya dan menyibukkan diri dengan hal selain itu.

Al-Marizi Rahimahullah berkata, “Apa-apa yang dikatakan atas makna ini adalah bahwa sesuatu yang timbul dalam hati/pikiran ada dua macam: (1) sesuatu yang timbul dalam hati/pikiran yang tidak tetap dan tidak pula dimasuki syubhat (keraguan) yang datang dengan tiba-tiba, maka hal itu dilawan dengan berpaling darinya, atas hal demikian ini hadits di atas digunakan dan yang serupa dengan itu dilontarkan istilah bisikan buruk. Sehingga seolah-olah perkara yang terlintas itu tanpa dasar dan tanpa peninjauan yang harus dikembalikan kepada dalil. Karena tiada dasar yang bisa menjadi acuan peninjauannya. (2) sesuatu yang timbul dalam hati/pikiran yang tetap yang ditetapkan adanya syubhat, maka hal itu tidak dilawan melainkan dengan analisa dalil dan peninjauan untuk membatalkannya. Wallahu A’lam.”

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 354-356


[1] Dua buah alinea di atas berada dalam satu buah hadits yang di-takhrij Al-Bukhari, dalam Fathul Bari. (6/336). no. 3276; dan Muslim, (1/120), no. 134 dan 214.
[2]
Muslim. (1/119-120), no. 134 dan 212.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: