Syarah Doa Kesedihan (2)

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, rahmat-Mu kuharapkan. Janganlah Engkau serahkan (segala urusanku) atas diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada Rabb Yang berhak disembah selain Engkau.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Bakarah, Nufai’ bin Al-Harits Ats-Tsaqafi Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan رَحْمَتَكَ أَرْجُو ‘rahmat-Mu kuharapkan‘, pengakhiran kata kerja adalah untuk pengkhususan, dengan kata lain, kami mengkhususkan kepada Engkau dalam mengharapkan rahmat, selain Engkau tidak memberikan rahmat.

Ungkapan فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ ‘maka janganlah. Engkau serahkan (segala urusanku) atas diriku walau sekejap mata‘, dengan kata lain, jangan Engkau serahkan dan jangan Engkau tinggalkan diriku kepada nafsuku sendiri, sehingga aku bisa berpaling dari ketaatan kepada-Mu dengan mengikutinya.

Ungkapan طَرْفَةَ عَيْنٍ ‘sekejap mata‘, luar biasa, dengan kata lain, jangan serahkan diriku kepada jiwaku sama sekali dalam kondisi apa pun juga.

Ungkapan شَأْنِيْ ‘urusanku‘, yakni urusanku dan kondisiku.

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 338-339


[1] Diriwayatkan Abu Dawud. (4/324). no. 5090; dan Ahmad. (5/42). Dihasankan Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud. (3/959).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: