Syarah Doa Ruku’ (2)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Mahasuci Engkau, ya Allah! Rabb kami, dan dengan pujianku pada-Mu. Ya Allah! Ampunilah dosaku.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Al-Bukhari Rahimahullah mengatur bab dan memasukkan hadits ini ke dalam bab do’a dalam ruku’.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah ketika mengomentari pengaturan bab yang dilakukan Al-Bukhari berkata, “Maka dikatakan bahwa hikmah pengkhususan ruku’ dengan do’a dan bukan dengan tasbih -padahal haditsnya satu- adalah untuk memberikan isyarat kepada penyanggahan orang yang tidak suka berdo’a ketika sedang ruku’ seperti: Malik Rahimahullah. Sedangkan tasbih, maka tiada perbedaan pendapat di dalamnya. Maka, di sini perhatikanlah do’a untuk itu.

Alasan orang yang menentang: Hadits yang ditakhrij Muslim[2] dari riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma derajatnya marfu’. Dalam hadits itu disebutkan,

فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Sedangkan ketika ruku, maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a. Maka, yang demikian lebih layak untuk dikabulkan untukmu.”

Akan tetapi, tiada makna yang eksplisit baginya sehingga tidak dilarang berdo’a ketika ruku’ sebagaimana tidak dilarang pula mengagungkan ketika sedang sujud.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 155-156 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Al-Bukhari, (1/99), no. 794; Muslim, (1/350), no. 484.
[2]
Muslim, no. 479.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: