Syarah Doa Ruku’ (4)

اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَمُخِّيْ وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ وَمَا اسْتَقَلَّ بِهِ قَدَمِيْ

“Ya Allah, untuk-Mu aku ruku’, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku pasrah. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, sarafku, (dan apa yang berdiri di atas dua tapak kakiku, telah merunduk dengan khusyu’ kepada-Mu).”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan لَكَ رَكَعْتُ ‘untuk-Mu aku ruku’, mengakhirkan kata kerja adalah untuk pengkhususan. Ruku’ adalah kecenderungan dan kecondongan. Kadang-kadang disebutkan dengan maksud shalat.

Ungkapan خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ ‘untuk-Mu pendengaranku khusyu’, yang dimaksud dengan khusyu’ yang datang dari berbagai anggota tubuh itu adalah ketundukan dan ketaatan. Sehingga hal ini termasuk kedalam bab penyebutan lazim sedangkan yang dimaksud adalah yang dilazimkan.

Sedangkan pengkhususan pendengaran dan penglihatan di antara alat-alat pengindra yang lain karena keduanya adalah alat pengindra yang paling agung, paling banyak pekerjaannya, paling kuat bekerja, paling dibutuhkan, karena kebanyakan bencana ada pada keduanya. Jika keduanya khusyu’, maka akan berkuranglah segala macam gangguan.

Sedangkan pengkhususan otak, tulang, dan urat saraf dari semua macam anggota badan, karena otak dilindungi tulang, dan tulang dilindungi urat saraf. Semua anggota badan terdiri dari semua itu. Jika semua itu bisa tunduk dan taat, maka yang demikian menjadi pusat bangunan kehidupan. Selain itu urat saraf adalah gudang bagi ruh atau jiwa. Daging dan lemak hilang dan pergi. Jika semua itu bisa mencapai ketundukan dan ketaatan, maka orang yang terdiri dari bagian-bagian yang demikian tentu lebih utama.

Arti ketundukan pendengaran adalah menerima untuk mendengar kebenaran dan berpaling dari mendengarkan yang bathil. Sedangkan ketundukan penglihatan adalah memandang kepada segala sesuatu yang tidak ada unsur haram di dalamnya. Sedangkan ketundukan otak, tulang, dan urat saraf adalah ketundukan batinnya seperti ketundukan lahirnya. Karena jika batin tidak sejalan dengan lahir, maka ketundukan lahir tidak menjadi berarti dan tidak diperhitungkan. Ketundukan batin adalah sebuah ungkapan tentang penjernihannya dari segala macam kotoran kesyirikan dan kemunafikan. Kemudian menghiasinya dengan keikhlasan, ilmu, dan hikmah.

Ungkapan وَمَا اسْتَقَلَّ بِهِ قَدَمِيْ ‘dan tidak kurang dari itu juga kakiku’, dengan kata lain, semua badannya. Yang demikian termasuk mengathafkan sesuatu yang umum kepada sesuatu yang khusus.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 158-159 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Muslim. (1/534), no. 771; dan yang empat, kecuali Ibnu Majah; Abu Dawud, no. 760: At-Tirmidzi, no. 266; dan An-Nasa’i. (2/130). Sedangkan lafazh وَمَا اسْتَقَلَّ بِهِ قَدَمِيْ ‘dan tidak kurang dari itu juga kakiku’ tidak diriwayatkan Muslim dan tidak juga oleh “Empat’ (Ahlusssunan). Tambahan itu adalah pada Ibnu Hibban dengan lafazhnya. Lihat Shahih Ibnu Hibban, no. 1901 dan Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 607.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: