Syarah Doa Sujud (7)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu dari kebencian-Mu, dan dengan ke-selamatan-Mu dari siksaan-Mu. Aku tidak membatasi pujian kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu kepada diri-Mu.”[1]

Shahabiyah yang meriwayatkan hadits ini adalah Aisyah Radhiyallahu Anha.

Al-Khaththabi Rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung dan memohon perlindungan kepada ridha-Mya dari murka-Nya, kepada ampunan-Nya dari siksaan-Mya. Ridha dan kemurkaan adalah dua hal yang bertentangan. Demikian juga ampunan dan siksaan. Ketika menyebutkan apa-apa yang tidak memiliki kebalikan, maka beliau berlindung kepada-Nya darinya dan tidak kepada selain-Nya.

Arti semua itu adalah istighfar dari keterbatasan dalam mencapai sesuatu yang wajib ketika beribadah dan memuji-Nya.

Ungkapan أَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ ‘dan aku berlindung kepada-Mu’, dengan kata lain, aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu atau dari siksaan-Mu.

Ungkapan لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ ‘aku tidak membatasi pujian kepada-Mu’, dengan kata lain, aku tidak mampu menghitungnya dan tidak mampu mencapai hitungannya.

Ungkapan أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ ‘Engkau sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu sendiri’. Ini adalah pengakuan atas keterbatasan dalam memuji dan bahwa beliau tidak mampu mencapai hakikatnya. Sebagaimana tiada batas akhir bagi sifat-sifat-Nya, maka demikian juga tiada batas untuk memuji-Nya, karena pujian mengikuti Dzat yang dipuji.

Maka setiap pujian yang digunakan untuk memuji-Nya -sekalipun banyak, panjang, dan mendalam- namun kemampuan Allah lebih agung, kekuasaan Allah lebih perkasa, sifat-sifat-Nya lebih banyak dan lebih besar, karunia dan kebaikan-Nya lebih luas dan lebih sempurna.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 171-172, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Muslim, (1/352), no. 486.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: