Syarah Doa Orang Berpuasa Sunnah Jika Diajak Makan

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ، وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ مَعْنَى: فَلْيُصَلِّ، أَيْ: فَلْيَدْعُ

“Apabila seseorang di antara kamu diundang (makan) hendaklah memenuhinya. Apabila berpuasa, hendaklah mendoakan (kepada orang yang mengundang). Apabila tidak puasa, hendaklah dia makan.”[1]

فَلْيُصَلِّ artinya ‘hendaklah mendo’akan‘.

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan فَلْيُصَلِّ artinya masih diperdebatkan oleh para ahii ilmu. Jumhur mengatakan, “Artinya, hendaknya ber-do’a bagi penyedia makanan dengan permohonan ampunan dan berkah dan lain sebagainya.” Arti kata shalat secara bahasa adalah ‘do’a’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

“… Dan mendo’alah untuk mereka.” (At-Taubah/9: 103)

Demikian pulalah apa yang disebutkan penyusun.

Dikatakan, “Yang dimaksud dengan shalat adalah shalat syar’i dengan ruku’ dan sujud”, dengan kata lain, sibuk dengan mengamalkan shalat agar mendapatkan keutamaannya.

Sedangkan orang yang tidak berpuasa telah datang dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai berikut.

فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

“Maka jika dia mau boleh makan dan jika dia mau boleh meninggalkan.” (HR. Muslim, no. 1430)

Dia diberi pilihan, tetapi lebih disukai jika dia makan karena apa yang telah datang dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam berupa perintah untuk itu. Wallahu A’lam.

Korektor berkata, “Akan tetapi, rincian berkenaan dengan itu lebih baik, bahwa jika puasanya tidak menyulitkan orang yang mengundangnya dan tetap memberinya izin, maka puasanya lebih utama dan ditambah dengan do’a. Sedangkan jika puasanya menyulitkan saudaranya yang mengundangnya, maka berbuka baginya lebih utama, karena orang yang melakukan ibadah sunnah adalah untuk dirinya sendiri, dan karena dengan berbuka akan memasukkan rasa gembira pada diri saudaranya. Yang lebih utama adalah dengan mengqadha di hari yang lain sebagai penggantinya.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 456-457


[1] Muslim, (2/1054), no. 1431.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: