Syarah Dzikir Setelah Salam dari Witir

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ

ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، وَالثَّالِثَةُ يَجْهَرُ بِهَا وَيَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ يَقُوْلُ

رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

Mahasuci (Engkau ya Allah), Raja yang Mahasuci.”

Dibaca tiga kali dengan mengeraskan pada kali ketiganya dan memanjangkan suaranya dengan mengucapkan:

“Tuhannya para Malaikat dan Malaikat Jibril.” [1]

Sahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdurrahman bin Abza Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan سُبُّوْحٌ ‘Mahasuci’, Yang jauh dari segala macam aib, dari ungkapan سَبَّحْتَ الله ‘engkau jauhkan Dia dari berbagai macam aib’.

Ungkapan قُدُّوْسٌ ‘Mahasuci’, Yang suci dari segala aib. Mahaagung dalam menjauhi segala macam apa yang memburukkan.

Ungkapan الرُّوْحِ dikatakan, “Jibril Alaihissalam“, disebutkan secara khusus adalah untuk menunjukkan keutamaannya dari semua para malaikat. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ

“Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril…” (Al-Qadar[97]: 4)

Dikatakan pula, “Ruh adalah jenis malaikat, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفّاً

“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf….”(An-Naba[78]: 38)

Bisa juga yang dimaksud dengan Ruh adalah sesuatu yang menjadi penentu segala yang hidup, dengan kata lain, Rabb para malaikat dan Rabb Ruh. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 329 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] HR. An-Nasai (3/244), Ad-Daruquthni dan selain keduanya. Tambahan menurut riwayat Ad-Daruquthni (2/31). Sanadnya shahih, lihat Zadul Ma’ad yang ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arnauth dan Abdul Qadir Al-Arnauth (1/337).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: