Syarah Doa Qunut Witir (2)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksaan-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari ancaman-Mu. Aku tidak membatasi pujian kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu kepada diri-Mu.” (Diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.

Al-Khaththabi Rahimahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung dan memohon perlindungan kepada ridha-Mya dari murka-Nya, kepada ampunan-Nya dari siksaan-Mya. Ridha dan kemurkaan adalah dua hal yang bertentangan. Demikian juga ampunan dan siksaan. Ketika menyebutkan apa-apa yang tidak memiliki kebalikan, maka beliau berlindung kepada-Nya darinya dan tidak kepada selain-Nya.

Arti semua itu adalah istighfar dari keterbatasan dalam mencapai sesuatu yang wajib ketika beribadah dan memuji-Nya.

Ungkapan أَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ ‘dan aku berlindung kepada-Mu’, dengan kata lain, aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu atau dari siksaan-Mu.

Ungkapan لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ ‘aku tidak membatasi pujian kepada-Mu’, dengan kata lain, aku tidak mampu menghitungnya dan tidak mampu mencapai hitungannya.

Ungkapan أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ ‘Engkau sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu sendiri’. Ini adalah pengakuan atas keterbatasan dalam memuji dan bahwa beliau tidak mampu mencapai hakikatnya. Sebagaimana tiada batas akhir bagi sifat-sifat-Nya, maka demikian juga tiada batas untuk memuji-Nya, karena pujian mengikuti Dzat yang dipuji.

Maka setiap pujian yang digunakan untuk memuji-Nya -sekalipun banyak, panjang, dan mendalam- namun kemampuan Allah lebih agung, kekuasaan Allah lebih perkasa, sifat-sifat-Nya lebih banyak dan lebih besar, karunia dan kebaikan-Nya lebih luas dan lebih sempurna.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 326-327, Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Ditakhrij para penulis As-Sunan yang empat; Abu Dawud, no. 1427: At-Tirmidzi, no. 3561; An-Nasa’i, (1/252); Ibnu Majah, no. 1179; Ahmad, (1/96, 118, dan 150). Lihat Shahih At-Tirmidzi, (3/180), Shahih Ibnu Majah, (1/194) dan Irwa’ Al-Ghalil, karya Al-Albani, (2/175).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: