Syarah Doa Istiftah (1)

Ungkapan الاِستِفْتَاحُ adalah iftitah (pembukaan) shalat.

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran, Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahan-ku dengan es, air, dan salju.”[1]

Shahabat yang merawikan hadits di atas adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan خَطَايَايَ ‘kesalahan-kesalahanku‘ adalah bentuk jamak dari kata خَطِيْئَة yang artinya ‘dosa’.

Jauhnya diserupakan dengan jarak antara timur dan barat adalah untuk menyangatkan dalam hal jarak. Karena dalam hal-hal yang terlihat tiada jarak yang lebih jauh daripada antara timur dan barat. Sehingga maksud dari jarak itu adalah penghapusan dosa-dosa dan meninggalkan siksa karenanya. Atau untuk mencegah terjadinya dan pemeliharaan diri dari semua itu.

Ungkapan اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ ‘bersihkanlah aku’, yakni bersihkanlah aku. مِنْ خَطَايَايَ ‘dari kesalahan-kesalahanku‘ sebagaimana Engkau bersihkan. الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ‘baju putih dibersihkan dari kotoran‘. Wujud kebersihan diri diserupakan dengan kebersihan baju putih dari segala macam kotoran. Karena hilangnya kotoran pada baju putih adalah sesuatu yang sangat jelas. Ini berbeda dengan warna-warna yang lain. Karena kadang-kadang masih ada bekas kotoran setelah pencucian. Hal itu tidak kelihatan karena adanya pencegah padanya, ini berbeda dengan warna putih yang akan terlihat semua bekas yang ada padanya. Maksud dari penyerupaan ini adalah agar orang lepas dari berbagai macam dosa dengan total, sebagaimana lepasnya berbagai macam kotoran dari baju putih, di mana tiada bekas kotoran yang tersisa padanya sama sekali.

Ungkapan اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ ‘ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan-kesalahanku‘ dan seterusnya, dengan menyebutkan berbagai macam pembersih dan penghilang kotoran yang diturunkan dari langit yang tidak mungkin kebersihan yang sempurna didapat melainkan dengan salah satu di antaranya, sebagai penjelas bagi berbagai macam ampunan yang mana seseorang tidak akan terbebas dari berbagai macam dosa melainkan dengannya, dengan kata lain, bersihkan aku dari berbagai macam dosa dengan berbagai macam bentuk ampunan-Mu, yang semua itu membersihkan dosa-dosa dengan tiga macam itu yang mampu membersihkan berbagai macam najis, menghilangkan jinabah dan macam-macam hadats.

Artinya, sebagaimana Engkau telah jadikan semua itu sebagai sebab dicapainya kebersihan, maka jadikanlah semua itu sebab dicapainya ampunan. Penjelasan hal itu ada dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

إِذَ تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوِ الْمُؤْمِنُ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلٌّ خَطِيْئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آهِرِ قَطْرِ الْمَاءِ

“Jika seorang hamba Muslim atau Mukmin berwudhu, lain dia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajah-nya semua dosa yang dia lihat dengan kedua matanya bersama air atau bersama tetes air yang terakhir.”[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 134-136 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Diriwayatkan Al-Bukhari, (1/181), no. 744; dan Muslim, (1/419), no. 598.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: