Syarah Doa Istiftah (4)

اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ. اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) (pada Hari Kiamat—red.) apa yang mereka pertentangkan (dari perkara agama di waktu di dunia—red.). Tunjukkanlah aku (teguhkanlah aku—red.) pada kebenaran (atasnya—red.) apa yang diper-debatkan dengan seizin dari-Mu (dengan taufik dan kemudahan dari-Mu—red.). Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus (jalan kebenaran dan keadilan—red.) bagi orang yang Engkau kehendaki.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Aisyah Radhiyallahu Anha.

Ungkapan رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ ‘Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil’, mereka secara khusus disebutkan di samping makhluk-makhluk lain sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah hal yang serupa itu, dengan diidhafahkan kepada setiap yang agung martabatnya dan besar perkaranya. Bukan kepada sesuatu yang hina dan kecil. Maka, dikatakan kepadanya, “Mahasuci Rabb langit dan bumi, Rabb Arsy yang mulia, Rabb para malaikat dan Jibril, Rabb dua timur dan dua barat, Rabb manusia dan Rabb segala sesuatu, Pencipta langit dan bumi, Pembuat langit dan bumi. Semua itu dan semisalnya adalah sifat bagi Allah Ta’ala dengan dasar dalil-dalil-Nya yang agung dan yang agung kekuasaan dan kerajaan-Mya.

Makna Jibril adalah hamba Allah; karena dalam bahasa Arab jabara artinya kabara, yaitu ‘hamba’. Sedangkan Jit adalah Allah Ta’ala. Maka, dia, yakni Jibril adalah seorang malaikat perantara antara Allah dan para Rasul-Mya. Dia adalah penanggung jawab wahyu. Demikian juga Mikail dan Israfil. Arti keduanya adalah ‘hamba Allah’. Dikatakan, “Malaikat-malaikat ini dikhususkan adalah penghormatan bagi mereka.”

Ungkapan عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ‘Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata’, dengan kata lain, apa-apa yang tidak terlihat oleh para hamba dan mereka.

Ungkapan اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ ‘tunjukilah aku ketika dalam hal yang diperdebatkan kepada kebenaran’, dengan kata lain, beri aku taufik-Mu untuk menuju kepada kebenaran yang diperdebatkan dan menetapkan aku di atasnya.

Ungkapan بِإِذْنِكَ ‘dengan izin-Mu’, dengan kata lain, dengan kemudahan-Mu dan karunia-Mu.

Ungkapan إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ ‘menuju jalan yang lurus‘, dengan kata lain, jalan kebenaran dan jalan yang tepat.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 142-144 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ditakhrij Muslim, (1/534), no. 770.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: