Syarah Doa Istiftah (5)

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً (ثلاثا) أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ: مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah di waktu pagi dan sore.” (Diucapkan tiga kali). “Aku berlindung kepada Allah dari kesombongan syetan, sastra-nya dan gangguannya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Jabir bin Muth’im Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا ‘Allah sungguh Mahabesar’, dengan kata lain, sungguh Engkau Mahabesar. Dan boleh juga dianggap sebagai hal yang berfungsi sebagai takkid atau mashdar dengan takdir ‘takbir Yang Mahabesar’.

Ungkapan كَثِيْرًا ‘yang banyak’, dengan kata lain, pujian yang sangat banyak.

Ungkapan بُكْرَةً وَأَصِيْلاً ‘di pagi dan sore’, dengan kata Iain, di bagian awal siang dan di bagian akhimya.

Ungkapan نَفْخِهِ ‘kesombongannya‘, perawi menafsirkannya dengan kesombongan. Nafkh ditafsirkan dengan kesombongan karena orang yang menyombongkan diri merasa besar, apalagi jika dipuji.

Ungkapan نَفْثِهِ ‘sastranya‘, perawi menafsirkannya dengan syair. Sesungguhnya syair itu dari mantra syetan, karena syair itu menyeru para penyair yang banyak memuji, banyak bercanda, merasa besar, dan hina …. Dikatakan, yang dimaksud adalah para syetan manusia, mereka adalah para penyair yang main-main dengan kata yang tiada hakikatnya.

Nafats dalam bahasa adalah meniup yang terkadang mengeluarkan air ludah yang lebih ringan daripada kata التَّفَال (meniup yang dibarengi mengeluarkan sedikit air ludah-red.).

Ungkapan هَمْزِهِ ‘gangguannya‘, perawi menafsirkannya dengan kematian. Sedangkan yang dimaksud dengannya di sini adalah kegilaan.

هَمْزَ dalam bahasa artinya memeras, seperti jika dikatakan هَمَزْتُ الشَّيءَ فِي كَفِّي adalah ‘aku memeras sesuatu dalam telapak tanganku’.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 144-145 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ditakhrij Abu Dawud, no. 1/203, no. 764; Ibnu Majah, (1/265), no. 807; Ahmad, (4/85), dan ditakhrij Muslim dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma sedemikian rupa. Di dalamnya terdapat kisah (1/420), no. 601.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: