Syarah Doa Istiftah (6)

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، (وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ) (وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ)(وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ) (لَكَ الْحَمْدُ) (أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّهُ حَقُّ، وَالنَّارُ حَقُّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقُّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقُّ، وَالسَّاعَةُ حَقُّ) (اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ) (أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ) (أَنْتَ إِلَـهِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ)

“Ya Allah! Bagi-Mu segala puji.[1] Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan Yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji; Engkau benar; janji-Mu benar; firman-Mu benar; bertemu dengan-Mu benar; surga adalah benar (ada); neraka adalah benar (ada); (terutusnya) para nabi adalah benar; (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari-Mu); kejadian hari Kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah; kepada-Mu aku bertawakal; kepada-Mu aku beriman; kepada-Mu aku kembali (ber-taubat); dengan-Mu (dengan apa yang telah kau berikan kepadaku dari penjelasan dan hujjah -red.) aku berdebat; kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuh-kan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Yang telah kusembunyikan dan yang (kulakukan) terang-terangan, Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan; tiada Tuhan Yang hak disembah, kecuali Engkau; Engkau adalah Tuhanku; tidak ada Tuhan Yang hak disembah, kecuali Engkau.”[2]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ‘Engkau cahaya langit dan bumi’, dengan kata lain, segala sesuatu meminta cahaya dan penerangan dari semua itu sehingga dengan kekuasaan-Mu. Cahaya diidhafahkan kepada langit dan bumi untuk menunjukkan kepada keluasan terbitnya dan penyebaran kecerahannya. Yang demikianlah firman Allah Ta’ala,

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (An-Nuur/24: 35)

Telah baku bahwa Allah Ta’ala menamakan diri-Nya An-Nuur dalam Kitabullah dan Sunnah. Dalam Kitabullah telah muncul dalam bentuk idhafah, dan hadits shahih[3] yang datang dari Abu Dzarr Radhiyallahu Anhu dengan bentuk bukan idhafah. Yaitu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

نُوْرٌ أَنَّى أَرَاهُ

“Cahaya bagaimana aku melihat-Nya”,

yakni ketika beliau ditanya Abu Dzarr Radhiyallahu Anhu, “Apakah engkau melihat Rabb engkau?”

Korektor berkata, “Ungkapan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, نُوْرٌ أَنَّى أَرَاهُ ‘cahaya bagaimana aku melihat-Nya’ artinya penutupnya adalah cahaya, maka bagaimana aku melihatnya. Hal itu telah ditafsirkan hadits yang lain di mana Mabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَيَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامُ، يُحَفِّصُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يَرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ، حِجَابُهُ النُّوْرُ وفي رواية: النَّارُ، لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَاانْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak tidur dan tidak layak tidur, mengurangi rezeki dan menambahnya, me-naikkan amal malam sebelum amal siang dan amal siang sebelum amal malam. Penutupnya adalah cahaya’. Dalam riwayat lain, api, jika dibuka, tentu keagungan, cahaya, dan keindahan wajah-Nya akan membakar apa saja yang dilihat oleh-Nya dari para makhluk-Nya.”[4]

Ism cahaya jika tidak diidhafahkan membutuhkan dalil. Sedangkan Al-Qur’an telah hadir dengan cahaya sebagai mudhaf: نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ ‘cahaya langit dan bumi’.[5]

Sedangkan orang-orang Islam telah menganggap bahwa nuur ‘cahaya‘ itu termasuk ke dalam asma’ul husna, dan kita telah mengetahui dari ushuluddin (pokok-pokok agama) bahwa hakikat hal itu dan maknanya adalah khusus bagi Allah Ta’ala dan tidak boleh diartikan dengan makna yang bisa mengandung banyak arti. Boleh bagi kita menyebutkannya untuk Allah dengan dasar tauqif (ketentuannya datang dari Allah).

Korektor berkata, “Aku bertanya kepada syaikh kita Ibnu Baaz Rahimahullah, ‘Apakah di antara nama-nama Allah adalah An-Nuur ‘Cahaya’?’ Beliau menjawab, ‘Cahaya langit dan bumi’.”[6]

Ketika menjelaskan tentang sesuatu yang sulit kita mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menamakan bulan dengan cahaya. Dan menamakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan cahaya. Sedangkan keduanya adalah makhluk dan di antara keduanya ada perbedaan yang nyata dalam makna. Maka, pemberian nama bulan dengan cahaya adalah karena cahaya yang menyebar dari-nya pada pandangan mata. Sedangkan pemberian nama untuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengannya karena dalil-dalil yang sangat jelas yang mudah dilihat mata. Pemberian nama cahaya kepada Al-Qur’an adalah jelas bagi makna-maknanya yang mengeluarkan semua manusia dari kegelapan kekufuran dan kebodohan. Lalu memberikan diri-Nya cahaya karena khusus hanya dari-Nya muncul keagungan, keindahan; dan keagungan yang menjadikan bagi cahaya yang ada di bawahnya lemah.

Nama ini dengan makna yang sedemikian adalah karena tidak yang berhak memilikinya selain-Nya. Bahkan Dia adalah Pemiliknya dan diseru dengannya.

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu …” (Al-A’raf/7: 180)

Ungkapan أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ ‘Engkau mengurusi langit’, dengan kata lain, Yang selalu menjaga dan memperhatikannya. Juga menjaga segala apa yang diliputinya, dihimpunnya, dengan memberikan kepada segala sesuatu apa-apa yang menjadi penopangnya dan selalu berdiri di atas segala sesuatu dari makhluk-Nya Yang Dia pandang Dia harus mengendalikannya.

Ungkapan أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ‘Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi’, dengan kata lain, Engkau adalah Pemilik langit dan bumi. وَمَنْ فِيْهِنَّ ‘dan siapa saja yang ada di dalamnya’, rabb sering juga berarti pemilik, tuan, yang ditaati, dan yang memperbaiki.

Ungkapan أَنْتَ الْحَقُّ ‘Engkau benar’. Al-Haq adalah satu nama di antara nama-nama Allah Ta’ala dan artinya Yang benar-benar ada dengan keberadaan ketuhanan yang hakiki.

Ungkapan وَعْدُكَ الْحَقُّ ‘janji Engkau benar’, dengan kata lain, tetap dan tidak bathil. Allah Ta’ala berfirman,

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya.’ Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (Ali Imran/3: 9)

Ungkapan وَقَوْلُكَ الْحَقُّ ‘firman Engkau benar’, dengan kata lain, tidak dusta, bahkan Dia itu benar-benar jujur dan pasti.

Ungkapan وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ ‘pertemuan dengan Engkau benar’, dengan kata lain, ada dan akan terjadi dan tidak mustahil.

Korektor berkata, “Pertemuan dengan Allah Ta’ala adalah hak tiada keraguan di dalamnya. Akan tetapi, dengan kondisi yang layak bagi Allah Ta’ala. Dengan tiada ta’thil (penghilangan sifat), tidak dengan tahrij (perubahan posisi huruf), tidak dengan rekayasa dan tidak pula dengan penyerupaan.”

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura/42: 11).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, “Berkenaan dengan pertemuan telah ditafsirkan sekelompok kalangan Salaf dan Khalaf dengan tafsir yang mengandung makna melihat langsung setelah berjalan.” Dia juga berkata, “Sesungguhnya pertemuan dengan Allah mencakup melihat kepada-Nya … sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحاً فَمُلَاقِيهِ

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al-Insyiqaq/84: 6)

Dalam ayat itu disebutkan bahwa manusia bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menuju kepada Allah se-hingga dia bertemu dengan-Nya. Bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menuju kepada-Nya mencakup berjalan dan menempuh jarak menuju kepada-Nya sehingga perjumpaan terjadi selanjutnya ….[7]

Ungkapan وَالْجَنَّهُ حَقُّ ‘surga adalah benar’, dengan kata lain, ada dan telah tersedia untuk orang-orang Mukmin.

Ungkapan وَالنَّارُ حَقُّ ‘neraka adalah benar’, dengan kata lain, ada dan telah tersedia untuk orang-orang kafir.

Ungkapan وَالنَّبِيُّوْنَ حَقُّ ‘para nabi adalah benar’, dengan kata lain, benar bahwa mereka datang dari sisi Allah Ta’ala. Mereka adalah para nabi Allah Ta’ala dan hamba-Nya.

Ungkapan وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقُّ ‘Muhammad Sha’lallahu Alaihi wa Sallam adalah benar’, dengan kata lain, benar kenabian dan kerasulannya. Dan beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya yang diutus kepada orang-orang Arab dan non-Arab, (manusia, dan jin, tiada nabi lagi setelah beliau).[8] Beliau secara khusus disebutkan sekalipun beliau termasuk para nabi adalah untuk memberikan peringatan akan kemuliaan dan keutamaannya.

Ungkapan وَالسَّاعَةُ حَقُّ ‘dan Kiamat adalah benar’, dengan kata lain, ada dan akan terjadi dan tidak mustahil.

Yang dimaksud dengan sa’ah adalah penghimpunan dan penyebaran.

Ungkapan اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ ‘ya Allah, kepada-Mu aku pasrah’, dengan kata lain, aku tunduk dan taat.

Ungkapan وَبِكَ آمَنْتُ ‘kepada-Mu aku beriman’, dengan kata lain, aku membenarkan Engkau dengan segala apa yang Engkau sampaikan dan Engkau perintahkan serta yang Engkau larang.

Dalam penjelasan ini isyarat yang menunjukkan pembedaan antara iman dan Islam.

Ungkapan وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ ‘kepada-Mu aku bertawakal’, dengan kata lain, aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, dan aku bersandar dalam segala keadaanku kepada-Mu.

Ungkapan وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ ‘kepada-Mu aku kembali’, dengan kata lain, aku kembali dan menghadap dengan kehendak dan ketaatanku kepada-Mu. Dan aku berpaling dari selain Engkau.

Ungkapan وَبِكَ خَاصَمْتُ ‘dengan-Mu aku berdebat’, dengan kata lain, dengan-Mu aku menyampaikan hujjah dan melindungi serta memerangi siapa saja yang keras kepala kepada Engkau, kafir kepada Engkau, sehingga aku tundukkan dia dengan hujjah dan pedang.

Ungkapan وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ ‘dan kepada-Mu aku menjatuhkan hukum’, dengan kata lain, kuunjukkan peradilanku kepada Engkau berkenaan dengan berbagai macam peng-ingkaran hak. Kemudian kujadikan Engkau sebagai hakim antara aku dan dia, bukan selain Engkau sebagaimana orang-orang jahiliyah dan lain-lain bertahkim kepadanya dari patung, dukun, api, syetan, dan lain-lainnya. Aku tidak ridha melainkan dengan pengadilan Engkau dan aku tidak bersandar kepada selain Engkau.

Ungkapan فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ ‘oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang’, itulah dosa-dosa.

Ungkapan وَمَا أَسْرَرْتُ ‘atau dosa-dosa yang kusembunyikan’ dan وَمَا أَعْلَنْتُ ‘dosa-dosa yang (kulakukan) terang-terangan’ yang di antaranya adalah berbagai macam kemaksiatan dan dosa.

Diketahui bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang telah diampuni dan terpelihara dari berbagai macam dosa. Maka, hal ini menjadi sifat tawadhu’ beliau dan sikap merendahkan diri. Bisa juga menjadi pengajaran bagi umatnya serta bimbingan menuju jalan do’a. Karena mereka adalah orang-orang yang tidak terjaga dan diuji dengan berbagai macam dosa serta terbatas dalam ketaatan.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 146-154 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan hal ini ketika bangun malam dan hendak bertahajjud.
[2]
   Al-Bukhari dengan Fathul Bari, (3/3), (11/116), dan (13/371, 423, 465), no. 1120; dan Muslim dengan ringkas sedemikian rupa (1/532), no. 769.
[3]
   Diriwayatkan Muslim, no. 178.
[4]
   Muslim, no. 179. (Korektor).
[5]
   (Korektor).
[6]
   (Korektor).
[7]
   Majmu Al-Fatawa, (6/461-475). (Korektor).
[8]
   (Korektor).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: