Syarah Doa Sholat Jenazah (2)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ

“Ya Allah, ampunilah orang-orang yang masih hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir, anak-anak, dan orang dewasa, laki-laki maupun perempuan. Ya Allah, orang yang Engkau hidupkan di antara kami hidupkanlah dia dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dia dengan memegang keimanan. Ya Allah, jangan Engkau menghalangi kami untuk memperoleh pahalanya dan janganlah Engkau sesatkan kami sepeninggalnya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا ‘anak-anak, dan orang dewasa’. Ibnu Hajar Al-Makki Rahimahullah berkata, “Do’a untuk anak kecil adalah untuk meningkatkan derajat.”

Ungkapan وَشَاهِدِنَا artinya ‘yang hadir di antara kami’.

Ath-Thibi Rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan keterangan yang empat itu, yakni ungkapan: لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا ‘yang masih hidup dan gang telah mati, yang hadir dan yang tidak hadir, anak-anak, dan orang dewasa, gang laki-laki dan gang perempuan‘ adalah untuk menunjukkan cakupan sehingga tidak perlu dibawa kepada makna takhshish ‘pengkhususan’ dengan melihat kosakata dalam susunan itu. Seakan-akan beliau bersabda, “Ya Allah, ampunilah semua kaum Muslimin dan kaum Muslimat.”

Ungkapan فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ ‘hidupkan dia dengan memegang ajaran Islam‘ dan ungkapan فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ ‘maka matikan dia dengan memegang keimanan‘. Sedangkan dalam riwayat lain kebalikannya, ungkapan فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِيْمَانِ ‘maka hidupkan dia dengan memegang keimanan’ dan ungkapan فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِسْلاَمِ ‘maka matikan dia dengan memegang ajaran Islam. Mula Ali Al-Qari Rahimahullah berkata, “Tunduk dan menyerah, karena kematian adalah pendahuluan:

يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ . إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

‘(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.’ (Asy-Syu’ara/26: 88-89).”

Dikatakan dalam riwayat yang pertama, “Karena Islam adalah berpegang-teguh kepada rukun-rukun yang nyata. Semua ini tidak akan terjadi melainkan dalam keadaan hidup. Sedangkan iman adalah pembenaran batin dan merupakan sesuatu yang dituntut yang di atasnya kematian.”

Yang jelas dari lafazh hadits itu bahwa Islam dan iman memiliki arti yang sama, yaitu keyakinan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan amal dengan anggota ba-dan, maka beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam berdo’a semoga kita hidup dan mati tetap berada di atasnya.

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 399-401 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Ibnu Majah, (1/480), no. 1498; Abu Dawud, no. 3201; At-Tirmidzi, no. 1024; An-Nasa’i. no. 1988; dan Ahmad, (2/368). Lihat Shahih Ibnu Majah, (1/251)..

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: