Syarah Doa Sholat Jenazah Anak-anak (1)

Al-farath artinya orang yang dahulu, mendahului. Sedangkan yang dimaksudkan al-farath di sini adalah orang yang meninggal masih anak-anak.

اَللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, lindungilah dia dari adzab kubur.”[1]

Ini adalah atsar dari ucapan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Said bin Al-Musayyab Rahimahullah berkata, “Aku menjadi makmum di belakang Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu saat menunaikan shalat jenazah seorang balita yang masih suci. Maka, aku mendengar dia (Abu Hurairah) mengatakan, “Jika mengucapkan doa berikut maka akan lebih bagus:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذُخْرًا لِوَالِدَيْهِ، وَشَفِيْعًا مُجَابًا. اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَأَعْظِمْ بِهِ أُجُوْرَهُمَا، وَأَلْحِقْهُ بِصَالِحِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَاجْعَلْهُ فِيْ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيْمَ، وَقِهِ بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ الْجَحِيْمِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَسْلاَفِنَا، وَأَفْرَاطِنَا وَمَنْ سَبَقَنَا بِاْلإِيْمَانِ

“Jika mengucapkan: ‘Ya Allah, jadikan dia sumber pahala yang disegerakan dan tabungan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang mudah dikabulkan. Ya Allah, beratkan dengannya timbangan keduanya, besarkan dengannya pahala keduanya, pertemukan dia dengan orang-orang Mukmin yang shalih, jadikan dia dalam tanggungan Ibrahim, peliharalah dia dengan rahmat-Mu dari siksa neraka Jahim, beri dia ganti rumah yang lebih baik daripada rumahnya dan keluarga yang lebih baik daripada keluarganya. Ya Allah, ampunilah para pendahulu kami, orang yang meninggal masih anak-anak dari kami, dan mereka yang lebih dulu daripada kami dalam beriman.”[2]

Ibnu Qudamah Rahimahullah setelah menyebutkan do’a ini berkata, “Dan yang semacam itu. Dan apa pun do’a-nya sebagaimana yang kami sebutkan atau semisalnya, maka cukup baginya. Tiada di dalamnya sesuatu yang terikat waktu.”

Ungkapan اجْعَلْهُ فَرَطًا وَذُخْرًا لِوَالِدَيْهِ ‘jadikan dia sumber pahala yang disegerakan dan tabungan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat yang mudah dikabulkan’, dengan kata lain, pahala yang didahulukan dan tabungan dengannya di sisi-Mu bagi kedua orang tuanya.

Ungkapan وَشَفِيْعًا مُجَابًا ‘dan pemberi syafaat yang mudah dikabulkan’, dengan kata lain, diterima ketika menjadi perantara bagimu. Dikabulkan ketika menjadi perantara bagimu.

Ungkapan لِأَسْلاَفِنَا ‘para pendahulu kami’, dengan kata lain, orang-orang yang meninggal mendahului kami dari para nenek-moyang yang memiliki kekerabatan dengan kami ….[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 404-406 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1] Ditakhrij Malik dalam kitabnya Al-Muwaththa, (1/288), Ibnu Syaibah dalam Al-Mushannif, (3/217); Al-Baihaqi, (4/9). Menyahihkan isnad-nya Syu’aib Al-Arnauth dalam tahqiq yang dia lakukan terhadap kitab Syarh As-Sunnah, karya Al-Baghawi (5/357).
[2]
Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, (3/416); dan Ad-Durus Al-Muhimmah li ‘Ammat Al-Ummah, karya Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah, hlm. 15.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: