Syarah Doa I’tidal (1-2)

سَـمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Wahai Rabb Kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah.”[2]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Rifa’ah bin Rafi’ Az-Zurqi Radhiyallahu Anhu.

Sebagian para ulama berdalil dengan hadits ini, bahwa tasmi’ dan tahmid digabungkan antara keduanya oleh imam dan makmum secara bersama-sama. Sedangkan ungkapan,

إِذَا قَالَ الإِمَامُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

“Jika imam mengatakan: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya’, maka katakanlah oleh kalian رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’.”

Hadits ini adalah hadits yang tidak dimunculkan untuk menjelaskan apa-apa yang diucapkan imam dan makmum dalam menjalankan rukun ini. Akan tetapi, untuk menjelaskan bahwa tahmid makmum diucapkan setelah tasmi’ imam.

Dalam Syarh Muslim, An-Nawawi Rahimahullah mengatakan, “Sangat disukai bagi setiap orang yang menu-naikan shalat, baik dia imam, makmum, atau yang shalat sendirian mengatakan:

سَـمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya. Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji.'”

Dengan menggabungkan antara keduanya sehingga ucapannya adalah سَـمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya‘ ketika bangkit. Dan ucapan رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘wahai Tuhan kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’ ketika telah tegak. Hal itu karena sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

صَلُّوا كَمَارَأَيْتُمُونِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian semua sebagaimana aku shalat.”[3]

Korektor berkata, “Yang benar adalah bahwa makmum tidak menggabungkan antara tasmi’ dan tahmid.”

Jika imam mengucapkan سَـمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya’, maka makmum mengucapkan رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’. Makmum tidak mengatakan سَـمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya’.

Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah dalam tarjihnya berkata, “Jika seseorang mengatakan, ‘Apakah jawabnya menghadapi sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, صَلُّوا كَمَارَأَيْتُمُونِيْ أُصَلِّيْ ‘shalatlah kalian semua sebagaimana aku shalat’, padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengucapkan سَـمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya’. Maka, jawaban atas pertanyaan ini mudah: Bahwa sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: صَلُّوا كَمَارَأَيْتُمُونِيْ أُصَلِّيْ ‘shalatlah kalian semua sebagaimana aku shalat’ bersifat umum.

Sedangkan sabdanya:

إِذَا قَالَ الإِمَامُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

“Jika imam mengatakan: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya’, maka katakanlah oleh kalian رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’.”[4]

adalah khusus, dan khusus mengalahkan yang umum, sehingga makmum menjadi terkecualikan dari yang umum itu, sejalan dengan ucapan سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya’, maka dia mengucapkan رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’ begitu saja.”[5]

Ungkapan سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‘Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya’, dengan kata lain, Allah menerima pujian darinya, dan hal itu sangat Dia sukai.[6]

Meletakkan ‘pendengaran’ sebagai sesuatu yang diterima dan jawaban itu adalah untuk menunjukkan kebersa-maan antara penerimaan, pendengaran, tujuan, do’a, penerimaan, dan ijabah.

Ungkapan رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’. Dalam riwayat lain tanpa huruf wawu. Sedangkan yang lebih banyak adalah dengan huruf wawu, namun keduanya adalah hasan. Kemudian dikatakan, “Wawu ini adalah tambahan.” Dikatakan pula, athifah (untuk menunjukkan athaf) yang sepenuhnya adalah,

رَبَّنَا حَمَدْنَاكَ وَلَكَ الْحَمْدُ

“Wahai Rabb kami, kami memuji Engkau dan bagi Engkau segala puji.”

Korektor berkata, “Telah baku dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkenaan dengan dzikir setelah bangkit dari ruku’ ada empat macam sebagaimana berikut ini:

  1. رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ ‘wahai Rabb kami, hanya bagi-Mu segala puji.[7]
  2. رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’.[8]
  3. اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ ‘ya Allah, wahai Rabb kami, hanya bagi-Mu segala puji’.[9]
  4. اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘ya Allah, wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’.[10]

Yang paling afdhal adalah mengucapkan semua macam tersebut sehingga bervariasi. Kadang-kadang menyebutkan yang ini, kadang-kadang menyebutkan yang itu, kadang-kadang menyebutkan yang ini dan kadang-kadang menyebutkan yang itu.”[11]

Ungkapan رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ‘Wahai Rabb kami, dan hanya bagi-Mu segala puji’, الْحَمْدُ ‘pujian’ adalah sifat sesuatu yang terpuji karena kesempurnaannya dibarengi dengan kecintaan dan pengagungan.[12]

Ungkapan طَيِّبًا ‘bagus’, dengan kata lain, murni.

Ungkapan مُبَارَكًا ‘penuh berkah’, dengan kata lain, selalu bertambah.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 161-165 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Al-Bukhari dengan Fathul Bari, (2/282), no. 795.
[2]
   Al-Bukhari dengan Fathul Bari, (2/284). no. 799.
[3]
   Al-Bukhari, no. 628.
[4]
   Al-Bukhari, no. 732; dan Muslim, no. 411. (Korektor).
[5]
   Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zaad Al-Mustaqni’ (3/144). (Korektor).
[6]
   Taudhih Al-Ahkam, karya Al-Bassam, (2/64). (Korektor).
[7]
   Al-Bukhari, no. 789 dan Muslim, no. 392. (Korektor).
[8]
   Al-Bukhari, no. 732 dan Muslim, no. 411. (Korektor).
[9]
   Al-Bukhari, no. 796 dan Muslim, no. 409. (Korektor).
[10]
  Al-Bukhari, no. 95. (Korektor).
[11]
  (Korektor)
[12]
  Badai Al-Fawaid, karya Ibnu Al-Qayyim, (2/92, 94) dan Asy-Syarh Al-Mumti’, karya Ibnu Utsaimin, (3/139). (Korektor).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: