Syarah Doa I’tidal (3)

مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ. اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“(Aku memuji-Mu dengan) pujian sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang di antara keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan Yang layak dipuji dan diagungkan, yang paling berhak dikatakan seorang hamba dan kami seluruhnya adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang da pat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanya dari-Mu kekayaan itu.”[1]

Shahabat yang merawikan hadits ini adalah Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ‘sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang di antara keduanya’, ini adalah isyarat yang menunjukkan kepada pengakuan ketidakmampuan untuk memenuhi hak pujian setelah habis semua daya untuk itu.

Al-Khaththabi Rahimahullah berkata, “Perkataan ini adalah perumpamaan dan upaya untuk memudahkan pemahaman. Perkataan itu tidak bisa diukur dengan berbagai tolok ukur dan tidak tertampung oleh sejumlah wadah. Akan tetapi, yang dimaksud adalah meningkatkan jumlah. Sehingga jika semua kata itu terukur karena berbentuk benda sehingga memenuhi semua tempat, maka pasti karena banyaknya akan memenuhi semua lapisan langit dan bumi.”

Ungkapan وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ ‘sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu’. Ini juga sebuah isyarat yang menunjukkan bahwa pemujaan kepada Allah itu lebih agung daripada sekedar hitungan bisa masuk ke dalamnya, atau sekedar bisa diliputi zaman dan tempat. Maka, dilimpahkan masalah pujian itu kepada kehendak. Di balik semua itu bahwa pujian tidak memiliki batas akhir. Dan tiada seorang pun dari makhluk Allah dalam pujian yang sampai kepada batas akhir dan penghabisannya. Dengan tingkat yang demikian di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam layak diberi nama Ahmad, karena beliau adalah manusia yang paling tinggi pujiannya daripada selain beliau.

Ungkapan أَهْلَ الثَّنَاءِ ‘layak dipuji’, pujian adalah sifat keindahan dan pujian.

Ungkapan وَالْمَجْدِ ‘dan diagungkan’, dengan kata lain, keagungan dan puncak kemuliaan. Dikatakan رَجُلٌ مَاجِدٌ adalah ‘seseorang yang luhur’, banyak kebaikannya dan mulia. اَلْمَجِيْدُ ‘yang banyak keagungannya’ adalah wazan فَعِيْلٌ untuk mubalaghah. Dari asal kata itu, Allah Ta’ala dinamakan مَـجِيْدُ.

Ungkapan وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ ‘dan seluruhnya adalah hamba-Mu’. Ini adalah pengakuan terhadap ubudiyah kepada Allah Ta’ala dan sesungguhnya Dia Pemilik atas kita semua.

Bahwa yang demikian adalah sesuatu yang paling berhak untuk dikatakan hamba, karena di dalamnya ada penyerahan diri kepada Allah Ta’ala dan ketundukan kepada-Mya. Juga di dalamnya adalah pengakuan akan keesaan-Nya.

Ungkapan وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ‘tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya hanya dari-Mu kekayaan itu’, dengan kata lain, tidaklah kekayaan memberikan manfaat kepada pemilik kekayaan dari Engkau dengan kekayaannya. Akan tetapi, bermanfaat baginya adalah amal shalih berupa ketaatan kepada-Nya.

الْجَدُّ secara bahasa adalah bagian, kebahagiaan, dan kekayaan. Dari kata ini muncul ungkapan تَعَالَى جَدُّكَ yang artinya tinggi keagungan Engkau. Juga kadang-kadang berarti kakek.[]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 165-167 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    Muslim, (1/346), no. 477.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: