Syarah Doa Sujud Tilawah (2)

اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَضَعْ عَنِّيْ بِهَا وِزْرًا، وَاجْعَلْهَا لِيْ عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ

“Ya Allah, tulislah untukku dengan sujudku pahala di sisi-Mu dan ampunilah dengannya akan dosaku, serta jadikanlah simpanan untukku di sisi-Mu dan terimalah sujudku sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Dawud.”[1]

Perawi hadits ini adalah Shahabat Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma.

Ungkapan اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ ‘ya Allah, tulislah untukku’, dengan kata lain, tetapkan bagiku dengannya -yakni sujud- أَجْرًا ‘pahala’.

Ungkapan وَضَعْ ‘dan ampunilah’, dengan kata lain, rontokkanlah.

Ungkapan وِزْرًا adalah ‘dosa’.

Ungkapan ذُخْرًا artinya ‘pundi-pundi’. Namun dikatakan pula pahala. Diulang-ulang karena maqam do’a adalah sesuai jika dipanjang-panjangkan. Dikatakan pula, yang pertama adalah permohonan dituliskannya pahala; sedangkan yang ini adalah permohonan tetapnya pahala itu dan selamat dari keguguran atau pembatalan.

Ungkapan كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ ‘sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Dawud’ ketika “… menyungkur sujud dan bertaubat.” (Shaad: 24). ltulah permohonan penerimaan yang mutlak.

Ibnu Hazm Rahimahullah dalam kitab Al-Muhalla berkata, “Dalam Al-Qur’an terdapat empat belas sujud: pertama di bagian akhir penutup surat Al-A’raf, kemudian dalam surat Ar-Ra’d, An-Nahl, Al-Isra, Maryam, Al-Hajj pada bagian mula dan di bagian akhir tiada sujud, Al-Furqan, An-Naml, As-Sajdah, Shaad, Fushshilat, An-Najm di bagian akhirnya, Al-lnsyiqaq, dan Al-Alaq di bagian akhirnya.”

Korektor mengatakan, “Yang benar, bahwa ayat-ayat sujud dalam Al-Qur’an ada lima belas sujud. Karena surat Al-Hajj mencakup dua ayat As-Sajdah. Hal itu karena hadits Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu, dia berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah surat Al-Hajj itu dimuliakan dengan dua ayat As-Sajdah?’ Beliau menjawab,

نَعَمْ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا فَلَا يَقْرَأْهُمَا

‘Ya, dan siapa yang tidak bersujud pada keduanya, maka janganlah dia membacanya!’.'”[2]

Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata, “Dipersyaratkan untuk bersujud sebagaimana yang dipersyaratkan untuk melakukan shalat nafilah. Yaitu suci dari dua hal: (1) hadats dan najis, dan (2) menutup aurat, menghadap kiblat, dan niat. Kami tidak melihat adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Kecuali apa yang diriwayatkan dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkenaan dengan para wanita yang sedang haidh yang mendengar ayat As-Sajdah, maka dia cukup memberikan isyarat dengan kepalanya. Yang demikian juga dikatakan Sa’id bin Al-Musayyab. Dia berkata, ‘Dengan mengucapkan,

اَللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ…

‘Ya Allah, untuk-Mu aku bersujud …’.’

Kemudian dari Asy-Sya’bi, berkenaan dengan orang yang mendengar ayat As-Sajdah dan dia tidak memiliki wudhu bersujud bagaimanapun keadaan wajahnya. Sedangkan kita mengetahui sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ

‘Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci.’

Sedangkan sujud termasuk ke dalam keumuman shalat dan juga karena sujud adalah shalat sehingga dipersyaratkan semua itu sebagaimana wujudnya ruku’.”

Dalam kitab Nailul Authar, Asy-Syaukani Rahimahullah berkata, “Tiada dalam hadits-hadits tentang sujud tilawah sesuatu ungkapan yang menunjukkan bahwa orang yang bersujud harus berwudhu. Demikian juga, dalam hadits-hadits itu tiada sesuatu yang menunjukkan keharusan kesucian pakaian dan tempat. Sedangkan yang ada adalah menutup aurat dan menghadap kiblat jika memungkinkan. Maka, dikatakan, “Sesungguhnya yang demikian itu dianggap telah menjadi kesepakatan.”

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu tidak setuju pada seorang pun dalam hal membolehkan bersujud tanpa wudhu, kecuali Asy-Sya’bi.” Ini ditakhrij Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih. Dan ditakhrij pula dari Abu Abdurrahman As-Sulami bahwa suatu ketika dia membaca ayat As-Sajdah lalu bersujud sedangkan dia tidak berwudhu dan mengarah kepada arah bukan kiblat. Sedangkan dia berjalan dengan memberikan isyarat. Ada sedikit perubahan.

Saya mengatakan, “Yang paling dekat kepada kebenaran sebagaimana yang terlihat olehku adalah dengan mengambil apa yang dikatakan Ibnu Qudamah Rahimahullah. Wallahu A’lam.

Saya menambahkan satu hal kepada apa-apa yang telah disebutkan sebagai syarat-syarat, yaitu tidak dilakukan pada waktu-waktu terlarang menunaikan shalat di dalamnya.

Korektor mengatakan, “Yang benar, bahwa sujud tilawah tidak dipersyaratkan pelaksanaannya sebagaimana syarat-syarat menunaikan shalat nafilah, berupa bersuci dari hadats dan najis, menutup aurat, dan menghadap kiblat. Akan tetapi, yang lebih utama adalah bahwa semua itu disukai (mustahab). Sebagaimana dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dan muridnya Ibnu Al-Qayyim, Syaikh Ibnu Baaz, dan Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahumullah. Sedangkan orang junub, maka tidak boleh membaca sedikit pun dari Al-Quran sehingga dia bersuci.[3] Oleh sebab itu, Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma karena teguh mengikuti Sunnah, maka dia turun dari binatang tunggangannya lalu menuangkan air lalu naik lalu membaca ayat As-Sajdah dan bersujud.”[4][]

Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 177-181 Terbitan Darul Falah, Jakarta.


[1]    At-Tirmidzi, (2/473), no. 579; dan Al-Hakim dan ia menshahihkannya dan disepakati Adz-Dzahabi, (1/219).
[2]
   Abu Dawud, no. 1402; At-Tirmidzi, no. 578 dan dihasankan Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud (1/388) dan Shahih Sunan At-Tirmidzi, (1/319). (Korektor).
[3]
   Lihat Mujmu   Fatawa Syaikhul Islam, (23/165-170); Tahdzib As-Sunan,   karya   Ibnu   Al-Qayyim,   (14/53-56);   Majmu    Fatawa   Ibni   Baaz (11/406-415); Asy-Syarh Al-Mumti ‘ala Zaad Al-Mustaqni’, karya Ibnu Utsaimin, (4/126); Tamamul Minnah fii At-Ta’liq ‘ala Fiqh As-Sunnah, karya Al-Albani, (hlm. 270). (Korektor).
[4]
   Al-Bukhari dengan bentuk pasti. Dalam kitab Sujud Al-Qur’an, Bab “Sujud Al-Muslimin ma’a Al-Musyrikin“. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari, (2/645), berkata, “Dan ditakhrij Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih”. (Korektor).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: