Syarah Doa Malam Pertama

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوْ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأْخُذْ بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ

“Jika salah seorang di antara kalian menikahi seorang wanita atau jika membeli budak hendaknya mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

‘Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya’.

Dan jika membeli seekor unta hendaknya memegang puncak punuknya lalu mengucapkan do’a yang sama.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma.

Dalam hadits ini pemberitahuan bahwa dianjurkan bagi seorang suami jika masuk menemui istrinya pada malam pertama hendaknya berdo’a dengan do’a ini.

Ungkapan أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا ‘aku memohon kepada-Mu kebaikan’, yaitu kebaikan caranya bergaul dengan dirinya, bagaimana dia menjaga kasurnya, dan menjaga amanah dalam hartanya dan lain sebagainya.

Ungkapan وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ‘dan kebaikan yang Engkau ciptakan dalam wataknya’, dengan kata lain, Engkau ciptakan padanya berupa akhlak yang baik dan tabiat yang diridhai.

Ungkapan بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ ‘puncak punuknya’, puncak segala sesuatu adalah bagian paling atas sesuatu itu. Beliau memerintahkan agar memegang puncak punuknya lalu berdo’a dengan do’a yang sama demi mengusir syetan, karena puncak punuk unta adalah tempat duduk syetan. Hal itu karena sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

عَلَى ذِرْوَةِ كُلِّ بَعِبْرٍ شَيْطَانٌ

“Di atas puncak setiap unta adalah syetan.”[2][]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 468-369.


[1]    HR. Abu Dawud, (2/248), no. 2160; dan Ibnu Majah, (1/617), no. 1918. Lihat Shahih Ibnu Majah, (1/324).
[2]
   HR. Ahmad, (3/494); Al-Hakim, (1/444); dan dishahihkan Al-Albani. Lihat Shahih Al-Jami’, no. 4030-4031..

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: