Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (9-11)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu. Ya Allah, dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan Yang Maha Esa, Mahatunggal yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia, aku mohon kepada-Mu agar mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang”[1]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, bahwasanya bagi-Mu segala pujian, tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Wahai Pencipta langit dan bumi, Wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan Yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.”[2]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan (yang berhak untuk disembah), kecuali Engkau Yang Esa, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tiada satu pun yang setara dengan-Nya”[3]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 211-215, dengan mengambil teks doa dan takhrijnya.


[1]     HR. An-Nasa’i dengan lafazh darinya (3/52); Ahmad, (4/238) dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i, (1/280).
[2]
    Diriwayatkan Ahlussunan: Abu Dawud, no. 1495; An-Nasa’i. (3/52); Ibnu Majah, no. 3858); adapun di hadits At-Tirmidzi saya tidak mendapatkannya. (Korektor berkata: Hadits itu ada di At-Tirmidzi, no 3544), lihat Shahih Ibnu Majah. (2/329).
[3]
    Abu Dawud, (2/62), no. 1493; At-Tirmidzi, (5/515), no. 3475; Ibnu Majah, (2/1267), no. 3857; dan Ahmad, (5/360). Lihat Shahih Ibnu Majah, (2/329); dan Shahih At-Tirmidzi, (3/163).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: