Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (3)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma,

Pensyarah mengatakan, ظُلْمًا كَثِيْرًا ‘banyak menganiaya diriku’ dengan huruf tsa dengan titik tiga di sebagian besar riwayat. Dalam sebagian riwayat dari Muslim كَبِرًا ‘besar’, dengan huruf baa dengan titik satu. Keduanya adalah hasan (bagus). An-Nawawi Rahimahullah dalam kitab Al-Adzkar berkata, “Seharusnya dengan menggabungkan antara keduanya, sehingga menjadi: ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِرًا ‘kezaliman yang sangat banyak dan besar‘.

Atau kadang-kadang dengan membaca yang satu dan kadang-kadang dengan membaca yang satunya lagi.

Dalam hadits ini dalil yang menunjukkan bahwa manusia tidak akan lepas dari dosa dan keterbatasan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

اِسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا

“Istiqamahlah dan sama sekali kalian tidak akan mampu menghitung pahala istiqamah itu.”[2]

Dalam hadits yang lain disebutkan,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti berdosa dan sebaik-baik orang berdosa adalah orang-orang yang bertaubat”[3]

Ungkapan ‘dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau’. Ini adalah pernyataan tentang keesaan Allah Ta’ala dan sekaligus permohonan ampunan dengan pemyataan ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam hadits qudsi,

عَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ

“Dia tahu bahwa dirinya memiliki Rabb Yang mengampuni segala dosa dan menyiksa karena suatu dosa”[4]

Dalam hal demikian adalah ketaatan sebagaimana yang dipuji Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ

“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lain memohon ampun ierhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?” (Ali Imran: 135)

Ungkapan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ ‘dan tiada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau’ adalah seperti firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ

“.. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah”. (Ali Imran: 135)

Ungkapan فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً ‘maka ampunilah aku dengan ampunan’ adalah isyarat kepada permintaan ampunan kepada Dzat Yang Mahamulia dengan ampunan itu dari sisi Allah Ta’ala, yang tidak membutuhkan sebab dari seorang hamba berupa amal kebaikan dan tidak lainnya. Ampunan adalah rahmat dari sisi-Nya.

Ungkapan إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ‘sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang’. Kalimat ini termasuk ke dalam bab muqabalah (sinonim) dan penutup sebuah ungkapan. الْغَفُوْرُ ’Maha Pengampun’ penyesuaiannya adalah اغْفِرْ لِيْ ‘ampunilah aku’ dan الرَّحِيْمُ ‘Maha Penyayang’ penyesuaiannya adalah ارْحَمْنِيْ ‘sayangilah aku’.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 199-202.


[1]     Diriwayatkan Al-Bukhari, (8/168), no. 7387: dan Muslim, (4/2078), no. 2705.
[2]
    Ahmad, (5/277 dan 282); Ibnu Majah, no. 277; dan dishahihkan Al-Albani. Lihat Al-lrwa’ no. 412.
[3]
    Ahmad, (3/198); At-Tirmidzi, no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251 dan dihasankan Al-Albani. Lihat Shahih Al-Jami’, no. 4515.
[4]
    Al-Bukhari, no. 7507; dan Muslim, no. 2758.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: