Syarah Doa Setelah Tasyahud Akhir Sebelum Salam (10)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, bahwasanya bagi-Mu segala pujian, tiada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Engkau Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Wahai Pencipta langit dan bumi, Wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan Yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.”[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan الْمَنَّانُ ‘Yang Maha Pemberi’, dengan kata lain, yang banyak memberi. Berasal dari kata minnah yang artinya nikmat. Minnah itu tercela jika datang dari manusia, karena mereka tidak memiliki sesuatu apa pun. Penulis Ash-Shihah berkata, “Memberi di sini, dengan kata lain, memberi nikmat. Dan Al-Mannan adalah satu dari nama-nama Allah Ta’ala.”

Ungkapan يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ‘wahai Pencipta langit dan bumi’ dengan kata lain, Pencipta dan inspiratornya dengan tanpa contoh yang telah ada terlebih dahulu.

Ungkapan يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ ‘Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pemurah’, dengan kata lain, Pemilik keagungan dan kekuasaan, kenikmatan dan kebaikan.

Di bagian akhir hadits disebutkan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

لَقَدْ دَعَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ، الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

“Ia telah menyeru Allah dengan nama-Nya Yang Agung, yang mana jika Dia diseru dengan nama itu, maka Dia menjawab, dan jika dimohon dengan nama itu Dia memberi.”

Ath-Thibi Rahimahullah berkata, “Dalam hadits itu dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala memiliki nama yang paling agung dan jika Dia diseru dengan nama itu, maka Dia menjawab.”

Asy-Syaukani Rahimahullah berkata, “Telah terdapat perbedaan pendapat ketika menentukan nama yang paling agung itu yang terbagi menjadi kurang lebih empat puluh pendapat.”

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Yang paling kuat menurut sanadnya adalah: اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ‘Allah, tiada Tuhan Yang berhak untuk disembah selain Dia Yang Esa dan tempat bergantuna segala makhluk Yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Dan tiada satu pun yang setara dengan-Nya’.”

Al-Jazari Rahimahullah berkata, “Menurutku bahwa nama yang paling agung adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْـحَيُّ الْقَيُّوْمُ ‘tiada Tuhan Yang berhak untuk disembah selain Dia Yang Hidup dan Wahai Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)’.

Pendapat itu dikuatkan Ibnul Qayyim dan lain-lainnya. Wallahu A’lam.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 213-215.


[1]     Diriwayatkan Ahlussunan: Abu Dawud, no. 1495; An-Nasa’i. (3/52); Ibnu Majah, no. 3858); adapun di hadits At-Tirmidzi saya tidak mendapatkannya. (Korektor berkata: Hadits itu ada di At-Tirmidzi, no 3544), lihat Shahih Ibnu Majah. (2/329).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: