Syarah Dzikir Setelah Salam (6)

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ. عَقِبَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya a pa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255). Dibaca setiap usai shalat.[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Umamah Al-Bahili, Shudayyu bin Ijlan Radhiyallahu Anhu.

Haditsnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ، لَـمْ يَمْنَعْهُ مَنْ دُخُوْلِ الْـجَنَّةِ إِلَّا الْـمَوْتُ

“Barangsiapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat fardhu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.”

Ayat ini adalah ayat yang paling agung dalam Kitabullah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda,

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ – أَيْ: أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ- أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: قُلْتُ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ قَالَ أُبَيُّ: فَضَرَبَ فِي صَدْرِين ثُمَّ قَالَ: لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ لِـهَذِهِ الآيَةِ لِسَانًا وَشَفَتَيْنِ تُقَدِّسُ الْمَلِكَ عِنْدَ سَاقِ الْعَرْشِ

‘”Wahai Abu Al-Mundzir -Ubay bin Ka’ab- ayat apakah yang paling agung dalam Kitabullah?’ Dia menjawab, ‘Ubay berkata, اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ‘Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)‘. Ubay berkata, ‘Maka beliau memukul dadaku, lalu bersabda, ‘Semoga engkau bahagia dengan ilmu.’ Lalu bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ayat ini memiliki lisan dan dua buah bibir yang selalu mensucikan kerajaan di dekat Arsy.”[2]

Ungkapan لِيَهْنِكَ ‘semoga engkau bahagia‘, dengan kata lain, semoga ilmu menjadikan engkau bahagia se-hingga engkau senang dan bahagia.

Ungkapan سِنَةٌ artinya ‘mengantuk‘, yaitu tidur yang ringan.

Ungkapan يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ ‘Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka‘, dengan kata lain, apa-apa yang telah lalu. وَمَا خَلْفَهُمْ ‘dan di belakang mereka‘, dengan kata lain, apa-apa yang ada setelah mereka.

Ungkapan وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ ‘Kursi Allah meliputi langit dan bumi‘, dengan kata lain, luasnya seperti luas langit dan bumi.

Ungkapan وَلاَ يَؤُودُهُ ‘dan Allah tidak merasa berat‘, dengan kata lain, tidak memberati-Nya dan tidak menyulitkan-Nya. حِفْظُهُمَا ‘memelihara keduanya‘, yakni langit dan bumi.

Ungkapan الْعَلِيُّ ‘Mahatinggi‘, dengan kata lain, Yang Mahatinggi di atas segala makhluk-Nya. Mahatinggi dari-pada segala sesuatu dan semua sekutu.

Korektor berkata, “Tinggi adalah salah satu sifat di antara sifat-sifat dzat bagi Allah Ta’ala. Dia memiliki ketinggian mutlak: ketinggian dzat. Dan Dia Ta’ala bersemayam di atas Arsy-Nya dengan cara bersemayam yang layak bagi keagungan-Nya. Dia Mahatinggi dengan kekuasaan-Nya.”[3]

Ungkapan الْعَظِيمُ ‘Mahabesar‘, dengan kata lain, Yang Besar dan tiada sesuatu apa pun yang lebih besar daripada-Nya.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 231-234.


[1]     مَنْ قَرَأَهَا دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ، لَـمْ يَمْنَعْهُ مَنْ دُخُوْلِ الْـجَنَّةِ إِلَّا الْـمَوْتُ “Siapa saja yang membacanya setiap usai shalat, maka dia dicegah untuk masuk surga kecuali mati dulu. ” An-Nasa’i, dalam kitab Amal Al-Yaumi wa Lailah, no. 100; Ibnu Sunni, no. 121 dan dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahih Jami’ (5/339), no. 6464, dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, (2/697), no. 972.
[2]
    Diriwayatkan Muslim, no. 810.
[3]
  Lihat Al-Aqidah Al-Wasithiyah ma’a Syarhiha, karya Al-Harras, hlm. 142; dan Al-Aqidah Al-Wasithiyah ma’a Syarhiha, karya Ibnu Utsaimin Rahimahullah, hlm. 327. (Korektor).

Iklan

One Response to Syarah Dzikir Setelah Salam (6)

  1. Ping-balik: Syarah Dzikir Pagi dan Petang (1) | Doa dan Dzikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: