Syarah Menyebarkan Salam (1)

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا، وَلاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا، أَوَ لاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ، أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman secara sempurna hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu, apabila kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”‘[1]

Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.

Sesungguhnya menyebarkan salam adalah penyebab munculnya kecintaan, karena salam tidak mungkin melainkan dari hati yang jernih, tawadhu’, dan kerendahan hati. Maka, siapa saja yang memiliki hati yang jernih, tawadhu’ dan kerendahan hati, akan dicintai orang banyak. Ketahuilah bahwa orang-orang zalim dan sombong tidak mengucapkan salam kepada orang lain melainkan sangat sedikit. Yang demikian karena kesombongan, kebanggaan, dan kecongkakan mereka. Maka, tidak ayal lagi, semua orang marah kepadanya. Sehingga sikapnya meninggalkan salam menjadi sebab permusuhan dan kebencian orang.

Ungkapan أَفْشُوا ‘sebarkan’, dari kata الْإِفْشَاءُ yang artinya penyebaran dan memperbanyak. Dalam hadits itu perintah yang agung untuk menyebarkan salam dan meratakannya kepada semua kaum Muslimin, baik yang engkau kenal atau yang tidak engkau kenal.

Salam adalah penyebab pertama hati untuk saling berlemah-lembut dan merupakan kunci untuk menarik kecintaan. Dari penyebarannya mengokohkan kelemah-lembutan antara sebagian satu dan sebagian lain di kalangan kaum Muslimin dan juga menunjukkan syiar mereka yang berbeda daripada yang lain di kalangan masyarakat beragama. Dengan apa yang ada di dalamnya berupa latihan jiwa, selalu bertawadhu’, dan mengagungkan kemuliaan kaum Muslimin.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 534-535.


[1]     Muslim (1/74) no. 54; dan selainnya.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: