Syarah Menyebarkan Salam (2)

ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ اْلإِيْمَانَ: اْلإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ، وَاْلإِنْفَاقُ مِنَ اْلإِقْتَارِ

“Ada tiga perkara, barangsiapa yang bisa mengerjakannya, maka sungguh telah mengumpulkan keimanan: berlaku adil terhadap dirimu sendiri, menyebarkan salam ke seluruh manusia, dan berinfak dalam keadaan fakir.”[1]

Ini adalah atsar dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu.

Ungkapan اْلإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ‘berlaku adil terhadap dirimu sendiri’. Inilah yang pertama. Berlaku adil berkonsekuensi menunaikan semua hak Allah, semua yang Dia perintahkan, menjauhi segala yang Dia larang, menunaikan kepada manusia semua hak mereka, tidak meminta apa-apa yang bukan miliknya, dan juga harus berlaku adil dengan tidak menjerumuskan semua itu ke dalam keburukan sama sekali.

Ungkapan وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ‘menyebarkan salam ke seluruh penduduk dunia‘. Ini yang kedua. Artinya, untuk semua manusia. Ini berkonsekuensi bahwa dia tidak akan menyombongkan diri di hadapan siapa pun. Juga tiada pemisah antara dia dan orang lain, sehingga enggan memberikan salam kepadanya.

Ungkapan وَاْلإِنْفَاقُ مِنَ اْلإِقْتَارِ ‘berinfak dalam keadaan fakir‘. Inilah yang ketiga, dengan kata lain, kesempitan yang dirasakannya dalam harta. Dikatakan أَقْتَرَ اللهُ رِزْقَهُ artinya bahwa Allah menyempitkan atau menjadikan rezekinya sedikit. Sedangkan ‘berinfak sekalipun dalam kesempitan rezeki‘ berkonsekuensi adanya kesempurnaan kepercayaan kepada Allah Ta’ala, tawakal kepada-Nya, dan lapang dada kepada kaum Muslimin dan lain sebagainya.[]

Disalin dari Syarh Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf Al-Qahthani, terbitan Darul Falah Jakarta, Hal. 535-536.


[1]     Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/82), sebelum hadits no. 28.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: